Loving The Wounded Soul karya Regis Machdy: Mencari Alasan Mengapa Depresi Hadir dalam Hidup Manusia


Saya menemukan buku ini ketika saya dan dua orang teman saya sedang berjalan-jalan santai di Mall. Secara tidak terencana, kami akhirnya mampir ke toko buku dan tanpa rencana juga, saya mengambil buku ini dan langsung membayarnya di kasir. Saya tidak memerlukan waktu yang lama untuk memilih dan memiliki buku ini. Tanpa waktu yang lama pula saya memutuskan untuk merogoh kocek dan menjadikan buku ini milik saya.

Judul buku ini sudah sangat menarik perhatian saya, “Loving the Wounded Soul: Alasan dan Tujuan Depresi Hadir di Hidup Manusia”. Dari sekian banyak buku yang pernah saya baca, ini mungkin adalah buku berbahasa Indonesia yang menyajikan konsep yang sangat menarik tentang Depresi. Ya, melalui judul buku ini, penulis meninggalkan kesan bahwa depresi bukanlah musibah atau penyakit yang harus dihindari dan dijauhi, tapi dipahami. Memahami adalah pekerjaan yang sangat saya nikmati.

Tulisan sederhana ini saya dedikasikan untuk buku yang sangat inspiratif ini. Tentu saja berdasarkan pengalaman dan pendapat saya pribadi. Tulisan ini juga adalah bentuk terima kasih saya kepada penulis dan penerbit, yang sudah menghadirkan buku yang sangat inspiratif dan nyaman untuk dibaca ini. Saya menimba banyak sekali pelajaran dari buku ini.

Regis Machdy, sang penulis, masih asing ditelinga saya. Tapi, setelah saya membaca sedikit informasi mengenai dirinya, yang ternyata adalah salah satu co-founder dari pijakpsikologi.com, saya langsung “ngeh”!

In fact, saya sudah mengikuti pergerakan pijarpsikologi.com dalam beberapa waktu ini. Tulisan-tulisan yang mereka sebarkan di media sosial, terutama untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental sangat menginspirasi saya. Mungkin, secara tidak langsung, saya sudah menjadi penikmat tulisan Mas Regis Machdy sejak lama tapi tidak benar-benar menyadarinya.

Kesempatan untuk secara dekat menelisik tulisan milik mas Regis dalam buku yang ia terbitkan adalah sebuah kehormatan, dan juga adalah aktivitas yang pasti kaya pembelajaran. Untuk hal ini, saya sangat berterima kasih.

Cintailah (kasihilah) Dirimu Sendiri?

Sebuah ajaran, dan juga nasihat mengiang-ngiang di telinga saya dengan bunyi seperti ini,

“Cintailah (kasihilah) Tuhanmu…

Cintailah (kasihilah) sesamamu…”

Tapi, nasihat dan ajaran ini memberi saya pertanyaan seperti ini, “Kapan saya akan mencintai diri saya sendiri?.” Dalam asumsi saya, tidak ada tempat untuk mencintai dan mengasihi diri sendiri dalam nasihat ini. Hal yang ada di sana adalah tuntutan dan harapan agar memberikan semua yang kita miliki untuk sesuatu yang berada di luar diri kita (sesuatu yang kita sebuat sebagai Tuhan, dan sesama).

Lalu, pertanyaan saya berubah menjadi seperti ini,

“Bagaimana saya dapat mencintai atau mengasihi sesuatu yang ada di luar diri saya, kalau saya tidak merasa dicintai atau dikasihi?”

Lalu, otak saya yang sangat tidak cerdas ini bergerak untuk mencari sendiri jawaban untuk pertanyaan ini.

Mencintai (atau mengasihi) Tuhan, adalah juga tindakan untuk mencintai diri sendiri. Jika saya percaya bahwa Tuhan hadir dan hidup dalam diri saya, maka tindakan untuk mencintaiNya, adalah tindakan untuk mencintai dan mengasihi diri saya sendiri. Selama ini, saya hanya memandang bahwa mencintai atau mengasihi Tuhan adalah tindakan hanya untuk sesuatu yang berada di luar diri saya sendiri, dan ini adalah letak dari kekeliruan saya (mungkin).

Jika ada yang berpendapat bahwa Tuhan adalah Maha, dan Ia tentu saja tidak membutuhkan kasih dari Manusia, saya menyetujui pendapat ini. Tapi, konsep mengasihi ini bukan hanya sebatas “give and take”. Hemat saya, melalui jalan untuk mencintai (dan mengasihi) Tuhan inilah, manusia dapat melihat lebih jauh ke dalam dirinya sendiri. Ya, Tuhan itu tidak jauh. Ia berada sangat dekat dengan kita, dan Ia menunggu kita untuk membuka pintu untuk menemuiNya.

Pemikiran seperti ini lahir ketika saya membaca Bagian 6 dalam buku ini, Higher Meaning, yang berjudul “Spiritualitas. ”

Saya satu pendapat dengan penulis mengenai perbedaan being religious dan being spiritually active. Itulah alasan mengapa saya senang menulis tentang spiritualitas, dibandingkan hanya relijiusitas semata (Keduanya memang harus ditulis dan dibahas secara komprehensif dan sangat hati-hati. Saya bukan ahlinya).

Saya sangat terkesan dengan pernyataan penulis yang melontarkan bahwa:

“Depresi adalah guru spiritual terbaik dalam hidup saya”

(Loving the Wounded Soul, Halaman 239).

Pernyataan ini mengandung arti yang sangat dalam dan menyentuh. Penulis menerima dengan sepenuhnya dirinya, keadaan yang banyak kali menyusahkan dan membuatnya menderita. Ia memeluk rasa sakitnya, dan menarik pelajaran baik dari prosesnya untuk berdamai dengan rasa sakitnya sendiri.

Saya pun memahami mengapa orang seperti penulis dapat memiliki ketertarikan yang mendalam tentang spiritualitas, dan mencari “sesuatu” yang dapat melengkapi dan memenuhi eksistensi saya sebagai manusia di dunia ini. Silakan membaca lebih lengkap mengenai topik “spiritualitas” untuk mengetahui lebih lanjut mengenai poin yang saya maksudkan.

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Berbahagia.

Seorang sahabat saya memberikan nasihat ini kepada saya,

“Apapun yang terjadi, jangan lupa untuk berbahagia. ”

Bu Bernie (Agustus, 2021)

Meskipun saya sudah pernah menuliskan tentang bahagia, tapi pada titik ini, saya belum benar-benar menyadari tentang kebahagiaan yang benar-benar untuk saya. Pernyataan sahabat saya ini memberikan saya pertanyaan baru,

“Bahagia yang seperti apa?”

Saya masih terus mencarinya sampai detik ini. Parahnnya, saya bahkan merasa asing dengan konsep bahagia. Saya merasa saya sendiri tidak bahagia, dan tidak merasakan kebahagiaan.

Baca juga: “Jangan Lupa Bahagia”: Kalimat Pasaran dengan Kemampuan Luar biasa!

“Apakah saya kurang bersyukur saat ini?, ” pertanyaan seperti ini muncul lagi dalam kepala saya.

Buku ini memberi saya insight yang menarik tentang konsep bahagia. Dalam bab yang menuliskan tentang, “Kehidupan Modern: Mengapa kita tidak bahagia?”, saya belajar bahwa keadaan zaman saat ini (berserta dinamikanya) adalah salah satu penyebab kuat mengapa banyak orang tidak bahagia. Apalagi ketika keadaan pada masa saat ini dibandingkan dengan masa lalu atau masa sebelum ini.

Pada zaman ini, kita sangat identik dengan masa-masa yang “stressfull”, yang “penuh tuntutan”, “kompetisi” dan masih banyak lagi. Saya simpulkan, terlalu banyak unsur-unsur negatifnya. Belum lagi, keadaan yang penuh unsur negatif ini menjadi makanan kita setiap harinya. Kita memberi makan diri kita dengan hal-hal negatif ini.

Tindakan bersyukur, adalah salah satu tindakan yang dapat melakukan aksi counterattact terhadap serangan negativitas ini. Tindakan bersyukur ini adalah tindakan yang sederhana, semua bisa melakukannya, dan disesuaikan dengan keadaan masing-masing. Misalkan mensyukuri matahari pagi hari ini, atau udara hari ini. Bersyukur atas pekerjaan yang banyak ini dan masih banyak lagi.

Baca juga: Selamat Pagi.

Masalah-masalah Psikosomatik.

Akhir-akhir ini hidup saya rasanya adalah akumulasi dari sifat denial (penyangkalan) dari A sampai Z. Yeap! saya merasa demikian. Denial adalah cara saya untuk berhadapan dengan stressor yang ada di sekitar saya. Saya tahu, ada harga yang harus saya bayar akan tindakan ini. Cepat atau lambat.

Benar saja. Akhir-akhir ini, saya merasakan efek sakit fisik, yang diakibatkan oleh hidup dalam keadaan stress yang berkepanjangan. Saya merasakan gejala-gejala seperti waktu tidur yang berubah, kurang konsentrasi, mudah jatuh sakit dan masih banyak lagi. Saya mencatatnya untuk kepentingan kesehatan saya sendiri.

Saya semakin menyadari hal ini, terutama karena baru-baru ini saya dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) karena masalah kelelahan karena bekerja berlebihan (malu sekali rasanya mengakui kalau saya dilarikan ke rumah sakit, dan hampir saja mengakhiri hidup saya karena terlalu giat bekerja).

Dalam masa-masa penyembuhan, saya menyempatkan diri untuk merenungkan mengenai apa yang terjadi pada saya. Saya tidak bisa menyangkal lagi bahwa benar, masalah psikologis yang saya alami memberi efek terhadap masalah fisik saya. Teman-teman bisa membaca bagian 4 dari buku ini yang berjudul, “Faktor Biologis” untuk bisa memahami maksud saya ini.

Loving the Wounded Soul karya Regis Machdy (Dokumentasi Pribadi)

Terakhir.

Saya sangat-sangat “relate” dengan setiap pemikiran dan pengalaman yang dirasakan oleh penulis. Saya bahkan sempat memikirkan, “Mungkin saya mengalami dan menyimpan bibit depresi dalam diri saya”. Saya mungkin adalah one of the wounded soul yang tersembunyi. Tapi, pikiran ini saya kesampingkan. Terlalu banyak permainan kemungkinan di sini. Yang pasti, saya menekankan baik-baik ke dalam diri saya, kalau suatu waktu saya menilai diri saya membutuhkan pertolongan, saya harus segera menghubungi orang-orang yang bisa membantu saya. Segera dan tanpa kompromi.

Saya menyadari bahwa dengan pekerjaan yang saya geluti sekarang, dan situasi yang melanda kita semua saat ini, saya termasuk pribadi yang sangat rentan dengan masalah-masalah mental. Untuk itu, saya selalu dan secara rutin memeriksa atau memastikan, bahwa daya resiliensi dalam menghadapi masalah cukup. Seperti yang sudah terlalu sering saya tuliskan, aktivitas menulis ini adalah salah satu aktivitas yang sangat membantu saya untuk berada dalam keadaan “normal” menurut rata-rata orang.

Buku ini membuat saya sekali lagi melihat “mutiara” di terjalnya jalan hidup yang saya tempuh. Buku ini mengajak saya untuk memberi arti dan makna atas pengalaman hidup, yang meskipun sangat menyakitkan dan tidak nyaman sekalipun. Alasannya sederhana, karena setiap moment dalam hidup kita memberikan kita pelajaran yang akan sangat kita butuhkan untuk hidup di dunia ini.

Saya sangat merekomendasikan buku ini dibaca oleh semua orang. Terkhusus oleh para calon perawat yang akan memilih bekerja di lahan kesehatan dan keperawatan jiwa. Buku ini menyajikan jalan untuk “memahami” keadaan pasien, yang merupakan langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang perawat sebelum ia melanjutkan langkah-langkah perawatan lainnya.

So, saya rasa sampai di sini dulu curahan hati saya yang panjang sekali ini. Semoga kamu betah dan sabar membacanya sampai akhir.

Bagaimana pendapatmu? Tuliskan pendapatmu di kolom komentar.

And As always, salam hangat dari saya dan stay safe.

Sincerely, Ayu.

PS. Kamu bisa memiliki buku ini dari toko buku langgananmu. Saya sendiri mendapatkan buku ini dari Toko Buku Gramedia, and of course not sponsored hehe.

6 pemikiran pada “Loving The Wounded Soul karya Regis Machdy: Mencari Alasan Mengapa Depresi Hadir dalam Hidup Manusia

  1. Sekilas dari spoilernya kayak ada ajakan untuk “embrace your wounds” bahwa depresi bukan aib sehingga tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang negatif.
    Terima kasih infonya, Kak Ayu. Salam sehat

    Disukai oleh 1 orang

  2. Saya sering mengatakan pada orang lain, semua bentuk perasaan, semua bentuk emosi lebih baik diterima saja. Tapi saya sendiri juga sibuk denial, menyebutnya pembelaan diri dari perasaan negatif. Wah terima kasih Kak reviewnya. Saya rasa saya juga perlu membaca buku ini.
    Semangat Kak Ayu!

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s