(Ulasan Buku): Hand in Hand (A Short Guide on How to Take Care of Each Other in Dark Times) karya Dr. Sandersan Onie


Saya tidak akan melupakan masa dua minggu itu. Masa yang saya anggap sebagai masa yang “gelap” dalam hidup saya. Pada saat itu, saya hampir tidak dapat mengenali diri saya sendiri.

Pada saat itu, entah bagaimana, saya berada dalam keadaan yang saya anggap “mengenaskan. ” Saya tidak memiliki motivasi untuk melanjutkan hari-hari saya; saya bangun dalam keadaan yang sangat lelah dan tanpa harapan. Saya tidak memiliki rencana apapun, dan tidak ingin melakukan apapun. Saya mengerjakan apapun yang ada di meja saya seperti robot, otomatis dan tidak berkesan. Saya menjalani hari-hari saya tanpa arti, dan tiada arti.

Satu hal yang saya sadari; yang datang dan menguasai ruang gelap dalam hati saya, yaitu bahwa dunia saya seakan runtuh dan berakhir. Semua residu dari masalah-masalah yang saya hadapi selama ini, tiba-tiba saja menumpuk, dan menekan saya dengan kuat. Ingatan-ingatan penuh rasa sakit menghujam saya bagai belati. Saya tidak saja merasakan sakit, tapi juga kekecewaan, kemarahan, kebencian dan lelah. Ya, saya lelah. Pada saat yang bersamaan, saya mengalami kesulitan untuk bernapas dalam bebasnya dunia, dan saya kesulitan untuk mempertahankan keseimbangan saya.

Photo by Joanne Adela Low on Pexels.com

Saya yakin bahwa siapapun manusia yang hidup di dunia ini, akan merasakan atau pernah berada di posisi saya waktu itu. Berada dalam keadaan yang gelap dan mengenaskan. Daalam keadaan yang penuh ketidakberuntungan. Tapi, apapun keadaan itu, kita selalu dan tidak pernah berhenti untuk bertahan. Ya, bertahan.

Pada saat saya berada dalam keadaan yang sudah saya jelaskan, saya memiliki pikiran seperti ini,

“Apapun yang terjadi, saya bertahan dan mencoba untuk bertahan. Saya akan mencoba terus, tanpa batas. Terus mencoba.”

Saya, manusia yang tidak ingin menyerah dengan keadaan.

Merenungkan kejadian ini, rasa syukur timbul dalam hati saya. Saya bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menyadari setiap kejadian yang terjadi dalam diri saya. Saya bersyukur karena masih dapat memperjuangkan sesuatu dalam hidup saya yang fana ini. Saya bersyukur karena saya masih memiliki waktu dan kesempatan.

Saya, tiada bedanya dengan orang-orang lainnya. Apalah saya ini?

Psikolog terkenal saja tidak pernah lepas dari “setannya” sendiri. Bahkan, mereka pun harus berperang dengan setan tersebut setiap waktu dalam hidup mereka. Pertarungan itu melahirkan pelajaran, melahirkan kebijaksaan, dan melahirkan kehidupan. Sesuatu yang sangat menarik untuk dipelajari oleh orang-orang dengan pemikiran seperti saya.

Saya kerap berpikir bahwa, panggilan saya sebagai seorang perawat kesehatan jiwa, mungkin adalah panggilan untuk menyelamatkan jiwa saya sendiri. Saya dipanggil untuk membantu diri saya sendiri yang jatuh dan terpuruk begitu dalam, dan uniknya, upaya untuk menyelamatkan diri saya adalah dengan menyelamatkan orang lain juga.

Seiring berjalannya waktu, saya dapat melihat bahwa ketika saya berusaha untuk menemukan dan menyelamatkan diri saya sendiri, pada saat itu pun saya berusaha untuk menyelamatkan orang lain. Tindakan untuk menyelamatkan diri orang lain, membantu saya untuk menyelamatkan diri saya; menambal retak-retak jiwa saya.

Ketika saya membaca bahwa Dr. Sandersan Onie akan menerbitkan karyanya, saya sudah sangat tidak sabar untuk membaca dan menguliti setiap lembar dalam bukunya. Saya menunggu waktu yang tepat, sampai akhirnya, saya mendapatkan kesempatan untuk memiliki buku ini. Buku ini adalah buku saku, yang sangat bisa dibawa ke mana-mana, dan dibaca oleh siapa saja. Ringan dan just right!

Saya sangat terkesan dengan kemampuan penulis untuk menyederhanakan konsep yang sangat luas dan rumit. Terutama ketika penulis menyusun 10 petunjuk-petunjuk untuk menyelamatkan seseorang yang sedang berada dalam masa-masa yang gelap dalam hidupnya.

Saya sendiri, menemukan kekuatan dan kelegaan dalam buku-buku yang saya baca. Saya menemukan jalan, dan juga melihat harapan yang terbentang di hadapan sana. Bukan melulu hanya keadaan yang gelap gulita, dan tanpa akhir. Buku yang ditulis oleh Dr. Sandersan Onie ini adalah salah satu buku yang sederhana, dan bisa digunakan untuk membantu. Bekerja seperti magic!

Dalam tulisan ini, saya memadatkan 10 petunjuk-petunjuk menjadi hanya tiga petunjuk saja. Ketiga hal ini adalah hal-hal yang secara subjektif saya nilai penting. Pembaca lain mungkin akan membuat penilaian yang berbeda.

Photo by Ave Calvar Martinez on Pexels.com

Persiapan.

Tidak banyak orang yang memikirkan untuk siap siaga terhadap hal-hal buruk yang akan datang. Berada dalam keadaan siap siaga, secara terus menerus akan menyebabkan kita berada dalam keadaan cemas yang berkepanjangan dan ini pun tidak baik.

Lalu, persiapan seperti apa yang baiknya dilakukan?

Dalam bukunya, terutama pada bagian “Brace for impact”, penulis menganjurkan untuk belajar mempersiapkan diri, kalau-kalau saja moment yang tidak diinginkan terjadi. Sebagai contoh adalah belajar mengenai bantuan hidup dasar (BHD) atau yang dikenal juga dengan resusitasi. Belajar mengenai resusitasi adalah belajar untuk membiasakan diri untuk berhadapan dengan tindakan-tindakan yang tidak terduga. Belajar untuk merespon secara cepat dan juga tepat terhadap situasi-situasi yang tidak menguntungkan dan bahkan membahayakan nyawa. Kita mendorong diri kita sendiri untuk menghadapi situasi yang mirip, agar dapat menyusun langkah-langkah yang tepat untuk menghadapi masalah-masalah ini. Kata kuncinya adalah belajar.

Belajar utnuk melihat tanda-tanda abnormalitas yang dapat membawa ke keadaan yang berbahaya. Perhatikan baik-baik, setiap perilaku yang berbeda dan tidak seperti biasanya. Perhatikan pula ekspresi yang berbeda, dan tidak singkron dengan ucapan.

Persiapan ini pun termasuk dengan persiapan untuk selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan, untuk hadir secara sadar dan menemani mereka yang membutuhkan pertolongan.

Pertolongan.

Hal sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu, dan meringankan masalah adalah dengan hadir (being present). Hadir dan ada, untuk mereka yang membutuhkan pertolongan. Kehadiran ini harganya mahal, karena, banyak orang yang menawarkan pertolongan, tapi hanya sedikit orang saja yang bersedia untuk memberikan diri, memberikan waktunya untuk mereka yang membutuhkan. Kesediaan untuk memberi waktu dan perhatian adalah tindakan yang sederhana, tapi adalah yang paling dapat membantu.

Kehadiran saja tidak cukup. Si penolong juga perlu bergerak dan bertanya. Cukup satu pertanyaan sederhana, “Bagaimana kabarmu?.” Pertanyaan ini sekali lagi, sangat sederhana. Tapi, kalau dilihat kembali, ternyata mengandung banyak sekali arti dan makna.

Mengenai menanyakan kabar atau keadaan, saya memiliki sedikit cerita menarik. Setiap pergantian jadwal dinas di ruang perawatan, kami akan melakukan kegiatan yang bisa disebut sebagai “keliling. ” Tindakan ini adalah tindakan untuk mengunjungi pasien, dan mem-validasi hasil timbang terima sebelumnya di ruang perawat (kantor perawat). Dalam kegiatan keliling ini, perawat akan bertanya kepada pasien mengenai keadaan yang dirasakan pasien pada saat itu. Perawat akan mencatat tanda dan gejala yang dilaporkan, dan secara langsung menyusun rencana untuk memberikan asuhan keperawatan. Satu pertanyaan yang sering ditanyakan adalah, “Bagaimana kabarnya hari ini, Bapak/Ibu?” sebuah kalimat singkat untuk menanyakan kabar dan keadaan pasien. Sederhana. Tapi, dari satu pertanyaan ini, timbul banyak cerita dan penemuan.

Menanyakan kabar, tidak hanya dilakukan selama dalam keadaan khusus, seperti pekerjaan. Tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan ini bukan hanya untuk berbasi-basi saja, tapi juga untuk menunjukkan sikap kepedulian dan kasih.

Setelah melontarkan pertanyaan, jawaban yang akan kita terima. Belajar untuk mendengarkan dan dengan sabar memperhatikan apa yang sedang dibicarakan. Berikan mereka waktu untuk menceritakan apa yang mereka rasakan, dan jangan memberi banyak komentar atau bahkan saran. Cukup dengarkan saja. Tindakan mendengarkan ini sangat tidak mudah, karena setiap orang pada umumnya senang membicarakan diri mereka sendiri.

Ketika kita diberikan kesempatan untuk mendengarkan cerita orang lain, berlakulah professional. Buat kontrak yang jelas dan jalankan. Buat kontrak untuk menjaga rahasia, dan jika rahasia itu berpotensi untuk menyakiti diri pasien, jangan disimpan sendiri. Beritahu mereka yang memang harus dan perlu diberitahu.

Selain mendengarkan, kita pun harus meyakinkan mereka yang membutuhkan pertolongan bahwa mereka berharga dan dibutuhkan. Ingatkan, tapi juga jangan terlalu ditekan, karena bisa-bisa menjadi beban. Selanjutnya, jangan lupa untuk mendorong mereka agar dapat mencari pertolongan ketika membutuhkan.

Terakhir, rawat diri sendiri.

Kita tidak dapat merawat orang lain, kalau kita tidak dapat merawat diri kita sendiri. Kita pun tidak dapat mencintai orang lain, kalau kita tidak pernah merasakan dicintai. Semuanya lahir dan dimulai dari dalam diri.

Bagi mereka yang berniat untuk menjadi penolong, jangan lupa menyediakan waktu untuk mendamaikan diri sendiri. Untuk beristirahat dan menimba kesegaran. Perhatikan diri sendiri, dan selalu jaga kesehatan fisik, psikologis dan bahkan spiritual.

Ketiga hal ini sederhana, dan semoga dapat membantu mereka yang membutuhkan. Edisi lengkap dari 10 langkah yang ditawarkan oleh penulis, dapat dilihat secara langkap dalam buku saku ini.

Buku ini tidak hanya menggali mengenai langkah-langkah untuk membantu seseorang dalam masa-masa sulit, tapi juga memberikan panduan singkat dan terpercaya untuk membantu mencegah perilaku bunuh diri.

Buku saku ini luar biasa. Semua keuntungan dari penjualan buku ini akan diberikan untuk pengembangan Yayasan Pencegahan Bunuh Diri dan Kesehatan Mental atau yang dikenal dengan Emotional Health for All (ehfa.id). Kegiatan dari yayan ini, dapat dilihat pada social media mereka, Intagram ehfa.id, dan tentu saja berkunjung ke Website mereka, Emotional Health For All.

Menarik lagi, dalam website Emotional Health For All ni, kita pun dapat mengakses program self-help tool yang dapat membantu kita untuk menjaga dan memelihara kesehatan mental dan juga mengupayakan untuk mencegah perilaku bunuh diri.

Demikian sedikit rangkuman dan juga ulasan untuk buku Hand in Hand (A Short Guide on How to Take Care of Each Other in Dark Times) karya Dr. Sandersan Onie. Semoga bermanfaat, dan salam hangat dari saya.

Sincerely, Ayu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s