“September Love”, Catatan untuk Para Pejuang Sunyi.


Sejak masa-masa pandemi ini, saya terlalu sering berhadapan dengan masalah-masalah yang bersifat emosional. Saya tidak dapat menyalahkan kondrat saya sebagai seorang perempuan, karena memang perempuan adalah makhluk dengan segala emosinya. Tidak tepat juga melarikan jawaban atas semua badai emosi ini hanya pada faktor bahwa saya seorang perempuan. Saya yakin ada banyak faktor atau unsur lainnya yang membuat saya seperti ini.

Varian emosi ini datang silih berganti, seperti gelombang air laut, yang naik-turun, dan kadang bisa besar dan ganas seperti Tsunami. Saya bahkan berada pada titik dimana, saya tidak mengerti dengan diri saya sendiri.

Pada saat seperti ini, entah bagaimana puisi memberi saya kelegaan. Saya merasa cukup, dan juga nyaman dengan diri saya sendiri. Bahkan dengan apapun gelombang emosi yang sedang saya lalui. Sama seperti puisi-puisi lainnya, saya pun menemukan kedamaian dalam tulisan karya Lang Leav.

Beberapa tulisan saya mengenai puisi karya Lang Leav, dapat dinikmati pada beberapa catatan berikut ini:

  1. “Sea of Strangers” Karya Lang Leav: Sebuah Kisah tentang Penantian
  2. Rindu

Puisi yang ditulis oleh Lang Leav memberikan saya jawaban, yang tidak pernah saya pikirkan ada. Sebagai contoh adalah, tulisan mengenai “Why I write”

“…

When my heart grows

Too heavy to hold- I write

From the depth of my sorrow

To dizzying heights…”

(Why I write, September love, Lang Leav)

Saya tidak tahu mengapa saya menulis. Tapi, sampai sejauh ini, alasan saya hanya ini. Untuk melepaskan. Saya menulis untuk melepaskan beban berat, yang tak kasat mata, yang membelenggu hati dan pikiran saya. Saya menulis, karena saya ingin memindahkan produksi energi akibat perasaan ini, pada jari-jari tangan saya, dan pada mesin menulis di depan saya saat ini. Terlalu sederhana, tapi juga sangatlah rumit!

Photo by Tirachard Kumtanom on Pexels.com

Dalam tulisannya mengenai, “A life unlived”, saya menemukan alasan mengapa saya merasa tidak nyaman dengan pembicaraan kekasih saya dulu mengenai masa lalu kami.

“We reminisce so much about the past that it becomes like a second shadow. We dream so much about the future that we are hardly present.

We talk so much about our lives, we forget to live it.”

(A life unlived, September love, Lang Leav)

Pembicaran kami setiap waktu hanya mengenai “masa lalu.”, saya mencoba untuk memahami mengapa masa lalu begitu menarik bagi kami. Itu mungkin adalah tali yang mengikat hati saya dengannya, tapi karena itu kami tidak dapat saling melihat masa depan. Saya akhirnya memutuskan untuk melepas masa itu, masa lalu dan dirinya.

Keegoisan hati saya membuat saya harus merelakan satu hati yang baik, pergi dari genggaman saya. Saya hanya berdoa, jika suatu saat kami bertemu dalam persimpangan jalan, semoga kami bisa kembali saling menyapa.

Meskipun semua yang terjadi sudah terjadi, tapi kekasih saya itu, masih seperti rasa haus yang tidak pernah selesai dan tidak pernah habis. Tulisan Lang Leav tentang “Endless Thirst” benar-benar menggambarkan tentang dia di mata saya.

“You are at once a sea full of saltwater, and the endless thirst scratching the back of my throat.”

(Endless Thirst, Page 65. September Love, Lang Leav).
Photo by Kseniya Budko on Pexels.com

Dalam kebingungan, saya mengikuti saran Lang Leav untuk mengikuti kata hati saya. Membiarkan diri saya berhadapan dengan resiko, meskipun saya tidak dan benar-benar belum siap untuk menemukannya.

Catatannya mengenai “Let it” membuat saya menyadari bahwa, hidup saya sungguh hanyalah hidup yang fana. Saya harus memaksimalkan hidup saya, dan mengisinya dengan pengalaman-pengalaman yang baik. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

“…

So, if something is calling you, answer. If it bursts out of your chest like a trapped bird set free, follow it. There is a mysterious pull that longs to take you exactly where you need to go. Let it.”

(Let It, Hal. 41. September Love, Lang Leav).

Lalu, saya menyadari satu hal ini. Adalah tugas saya untuk menikmati hidup ini. Ini adalah tugas yang diberikan kepada saya ketika saya hidup. Menikmati hidup. Berpetualangan dengan hidup ini, dan jangan menyerah dengan setiap usaha dan perjuangan yang kita ambil. Nikmati!

Tidak perlu takut dengan keputusan-keputusan yang akan kita sesali kelak. Bahkan penyesalan pun adalah bagian dari hidup ini; yang patut untuk dinikmati dan dipelajari.

Hiduplah tanpa penyesalan! Nikmati setiap harinya, setiap prosesnya.

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Mungkin karena umur, saya kemudian menjadi sangat sensitif dengan topik-topik mengenai kehidupan dan kematian. Saya bahkan menaruh minat tentang spiritualitas dan apa-apa yang ada di dalamnya.

Puisi, nampaknya adalah jalan spiritualitas saya untuk saat ini. Saya merasa menemukan ilusi tentang jalan pulang, yang membawa saya pada kedamaian dan ketenangan taman Eden. Mengumpulkan hati saya pada satu titik yang menenangkan, membahagiakan. Saya sungguh menikmatinya.

Mungkin ekspresi ini terlalu berlebihan, tapi setidaknya sampai saat ini. Seperti ini. Bagaimana denganmu ? Apakah kamu pun mengalami pengalaman seperti yang saya rasakan, terutama ketika  membaca dan merenungkan isi puisi? Bagikan pemikiranmu dengan saya.

Semoga tulisan ini menghiburmu, and as always salam hangat dari saya.

PS.

Buku Lang leav dapat kamu temukan di toko buku kesayanganmu. Bisa juga dipesan langsung melalui Toko ini. Atau, Toko buku NR Bookshop di Tokopedia.

2 pemikiran pada ““September Love”, Catatan untuk Para Pejuang Sunyi.

  1. Wahh…Udah pindah rumah baru ya,..
    Haloo, dan selamat datang kembali dari rumah baru.

    Ia, sejauh ini buku ini secara digital bisa diperoleh melalui kindle atau amazon store. Sangat berharap buku ini bisa diperoleh langsung melalui Gramedia Pustaka, atau Perpusnas. Tapi memang, saat ini masih belum ada.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s