Mencintai Diri Sendiri?


Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah kegiatan dengan tema, “Mencintai Diri Sendiri.” Entah kebetulan atau bagaimana, sehari sebelum kegiatan ini, saya mendapati diri saya dalam keadaan sama sekali tidak mencintai diri sendiri. Pada saat itu, saya mendapati diri saya sedang berada dalam keadaan “merusak” dan “menghancurkan” diri saya sendiri.

Oret-oretan tentang “Mencintai Diri Sendiri” (Doc. Pribadi)

Foto di atas adalah foto lembaran yang saya gunakan untuk mencatat beberapa jawaban dari pertanyaan refleksi yang diberikan kepada peserta kegiatan.

Saya menjawab, “Capek, lelah dan exhaused” untuk pertanyaan tentang “Bagaimana kabarmu hari ini?.” Saya bahkan menggarisbawahi poin tentang “Physically, Mentally and Spiritually (Exhaused).” Sebagai tambahan, saya pun menulis dengan jelas keinginan saya pada saat itu, “…ingin cepat-cepat selesai (merujuk pada kegiatan yang saya ikuti pada saat itu).” Saya yang biasanya sangat menikmati kegiatan-kegiatan self-improvement seperti ini, pada saat itu mendapati diri saya berada dalam keadaan bosan dan tidak tertarik.

Buah baik dari kegiatan tersebut adalah, waktu untuk merenungkan kembali hal-hal yang sudah saya lakukan dalam beberapa waktu ini. Pertanyaan seperti, “Apa yang sudah saya lakukan selama ini?” menghiasi batin.

Saya menyadari bahwa, perjalanan untuk mencintai diri sendiri, malah mempertemukan saya pada kenyataan bahwa saya sama sekali tidak mencintai atau mengasihi diri saya sendiri. Saya menyiksa diri saya sendiri, menyeret diri saya untuk melakukan hal-hal yang sangat “keterlaluan.”

Saya merasa kelelahan dengan berbagai pertarungan yang tiada habis-habisnya. Saya merasa lelah dengan peperangan yang sudah pasti tidak dapat saya menangkan! saya merasa muak dan kecewa dengan kedok-kedok penuh kebohongan dan kepalsuan.

Saya membutuhkan istirahat, dan saya membutuhkan waktu untuk sendiri. Itu solusi yang dapat saya pikirkan pada saat itu.

Mendengarkan suara-suara samar dari pembaca acara pada saat itu, pikiran saya melayang menuju tempat tidur, pohon-pohon dan hutan. Saya sungguh ingat acara ini berakhir segera, dan saya dapat beristirahat.

Ketika ditanya tentang,

“Bagaimana cara kamu mencintai diri sendiri?”, jawaban saya adalah seperti ini,

“Saya mencintai diri sendiri dengan memberi waktu dan ruang bagi diri saya untuk beristirahat. Saya ingin beristirahat”

Selesai kegiatan tersebut, saya langsung bergegas untuk kembali ke kamar dan mengistirahatkan badan (dan jiwa). Saya sungguh membutuhkan reward ini untuk akhir pekan saya.

Bagaimana dengan teman-teman?

Apa yang teman-teman lakukan untuk menunjukkan kecintaan pada diri sendiri? Apa makna mencintai diri sendiri bagi teman-teman?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s