Multitasking


Akhir-akhir ini, saya sibuk untuk menikmati hidup saya, yang pastinya sangat fana dan penuh drama ini.

Saya melakoni berbagai peran, dan mengerjakan berbagai hal sekaligus. Multitasking adalah salah satu kemampuan abad ini, yang saya niatkan untuk hindari, tapi tidak bisa saya lakukan. Lalu, saya putuskan untuk terima dan kembangkan semampu saya.

Multitasking yang saya lakoni meracuni tubuh dan pikiran saya. Saya mudah merasa lelah, dan kerap kali tidak dapat menikmati apapun yang saya kerjakan. Saya menjadi sangat sensitif, dan bahkan menjadi sangat mudah marah. Jurus “senggol bacok” adalah jurus yang paling sering saya praktikkan.

Multitasking itu masih mampu ditoleransi oleh tubuh sendiri dalam waktu singkat dan terbatas. Kalau berlebihan, burnout mungkin akan say “hi” dan merusak hidup pelakunya dari dalam. Tidak hanya itu, malaikat maut mungkin sudah melayang-layang di atas kepala saya. Menunggu.

Tulisan ini saya buat dengan alasan iseng. Saya hanya ingin mengisi sedikit waktu luang saya dengan menulis sesuatu yang mungkin berguna untuk saya di masa yang akan datang.

Tulisan ini terdiri atas beberapa hal, seperti definisi dari multitasking dan bagaimana multitasking dapat berkontribusi terhadap keadaan stress, bahkan kematian. Tulisan ini, lahir atas perspektif saya sendiri, jadi silakan ditanggapi sesuai dengan kapasitasnya.

Multitasking: Pekerjaan banyak, yang dikerjakan dalam satu waktu

Multitasking, dapat diartikan sebagai pekerjaan yang lebih dari satu, yang dikerjakan dalam satu waktu (atau bersamaan dalam waktu yang sama). Sebagai contoh adalah ketika mengerjakan tulisan ini, saya mengerjakannya sambil mendengarkan musik dan bahkan sambil mengirim pesan text kepada keluarga saya. Minggu lalu, bahkan lebih parah! Saya mendengarkan webinar sambil mengerjakan sebuah proposal, sambil mengirimkan dan berbalas pesan, dan sambil melakukan konsultasi. Layar gadget yang akitf menyala, dan lebih dari satu di hadapan saya, sudah menjadi hal yang biasa. Dalam satu waktu, saya mengerjakan sampai tiga pekerjaan sekaligus!

Multitasking, seperti yang didefinisikan dan dijelaskan oleh verywellmind.com, harus mengandung setidaknya tiga unsur penting ini. Pertama adalah bekerja lebih dari dua pekejraan dalam waktu yang simultan. Dua, bekerja secara bergantian antara satu pekerjaan dan pekerjaan lainnya, dan yang ketiga adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan dalam waktu pergantian yang sangat cepat.

Multitasking itu sangatlah menggoda. Apalagi pada masa-masa serba cepat seperti ini, ketika kita mengharapkan dapat menyelesaikan banyak pekerjaan dalam waktu yang super singkat! Bukannya menambah jumlah tenaga kerja, kita malah memilih untuk mempersingkat waktu bekerja kita dan mengerjakan lebih dari satu pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Terdengar sangat cost effective! Tapi, apakah multitasking itu baik? Apakah tidak harga yang harus dibayar dari tindakan ini?

Harga yang harus dibayar oleh para multitasker

Yeap! Ada harga yang harus dibayar oleh para multitasker atau para pelaku multitasking. Beberapa diantara adalah sebagai berikut:

Multitasking membuat individu tidak dapat memfokuskan pikirannya dengan baik atau individu menjadi kruang fokus. Benar! Beberapa waktu yang lalu, ketika saya berencana untuk sarapan pagi ke kantin, saya sudah memikirkan untuk makan sambil memeriksa sebuah laporan melalui gadget. Dalam pikiran saya, saya harus membawa setidaknya sendok untuk makan dan gadget. Ketika saya sudah berjalan ke kantin, saya menemukan bahwa diri saya bukannya membawa sendok, tapi malah pulpen. Saya hampir saja menyendok makanan saya dengan menggunakan pulpen. Sungguh! Ini adalah tanda-tanda.

Pada saat itu, saya menyadari bahwa pikiran saya sudah terbagi dan saya menjadi sangat tidak fokus dengan segala sesuatu yang saya kerjakan. Bukannya menjadi efektif, saya malah harus menambah waktu untuk mengambil sendok makan ke ruangan yang jaraknya mungkin lebih dari 5 menit dari kantin.

Pikiran yang tidak fokus, adalah pikiran yang sangat mudah terdistraksi. Pikiran ini liar, dan ketika diminta untuk diam maka akan bergerak seperti ulat yang kepanasan. Loncat-loncat dan tidak karuan! Hal lain yang dikhawatirkan dari pikiran yang loncat-loncat ini (atau yang kadang disebut sebagai monkey mind) adalah ketidakmampuan untuk menyelesaikan satu pekerjaan sampai tuntas. Atau bahkan, mungkin ada pekerjaan yang tidak akan tuntas dan tidak bisa selesai dalam waktu yang diharapkan.

Saya akui, ini adalah salah satu masalah yang sangat sulit saya selesaikan selama ini. Sulit sekali.

Saya sudah mencoba mempraktikkan meditasi, dan bahkan mindfulness untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi, ya inilah dia, sampai saat ini belum juga ditemukan pemecahan masalah yang saya harapkan.

Multitasking membuatmu bekerja lebih lambat dari biasanya. Melakukan multitasking, dan mengerjakan pekerjaan lebih efisien/efektif itu hanya bayangan saja. Pada kenyataannya, pekerjaan yang dikerjakan secara multitasking bahkan lebih lambat dari pada pekerjaan yang dilakukan dengan cara terfokus. Salah satu alasannya adalah, nilai kesalahan atau kekeliruan yang timbul karena menyelesaikan pekerjaan ini.

Hal ini juga pernah dijelaskan oleh website Alodokter.com dalam tulisan mereka dengan judul “Ini buktinya Multitasking Tidak Efisien dan mengganggu Kesehatan”

Multitasking dan Kematian

Dalam salah satu dialog, seorang sahabat pernah bertanya kepada saya seperti ini,

“Ayu, apakah pekerjaan kit aini dapat menyebabkan kematian?”

Pada saat itu, saya menjawab pertanyaan ini tanpa berpikir panjang, dan bahkan tanpa pertimbangan lebih lanjut, “Ya!.”

Baru beberapa saat kemudian, jawaban yang saya lontarkan sendiri memberi saya banyak pertanyaan. Keragu-raguan meracuni pemikiran saya, dan akhirnya saya berakhir dalam mode seperti ini, menggali dan mencari informasi.

Beberapa sumber yang sudah saya lirik, membuat saya menyadari bahwa memang benar, kegiatan multitasking yang tidak di-manage dengan baik akan dapat mengarahkan pada atau dapat menyebabkan kematian.

Kegiatan multitasking, dapat memicu stress, meningkatkan tekanan darah, menganggu daya ingat, menurunkan kreativitas, dan dapat meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan. These are true!

Kegiatan multitasking, dapat menyebabkan terjadinya kejadian overload atau distress (stress yang lebih banyak bersifat negative). Keadaan distress ini, dapat menyebabkan terjadinya atau memicu terjadinya hipertensi (atau keadaan peningkatan tekanan darah). Proses terjadinya atau terbentuknya hipertensi, dapat dilihat pada tulisan mengenai “ABC of Hypertension: The Pathophysiology of Hypertension.”

Kegiatan Multitasking dan Efek-efeknya (Disusun dari berbagai sumber).

Tapi,…

 Meskipun sudah banyak bukti yang menunjukkan efek negatif dari multitasking, tidak sedikit juga jumlah penelitian atau catatan yang menunjukkan bahwa kegiatan multitasking itu adalah kegiatan yang baik. Kegiatan multitasking, yang difokuskan pada indra (penglihatan dan pendengaran) ternyata memberi efek baik untuk penyelesaian tugas dan pekerjaan seseorang dan bahkan beberapa orang. Contohnya adalah pada saat kita sedang mengerjakan tugas di laptop (mata) sambil mendengarkan musik (indra pendengaran).

Kenyataan ini membuat saya berkesimpulan bahwa, perihal mengenai multitasking ini harus ditanggapi dan dinilai dengan bijak. Pada beberapa orang, mungkin akan memberikan efek yang tidak baik, tapi pada beberapa orang lainnya, multitasking itu baik dan sangat membantu pekerjaan.

Sikap saya.

Saya masih hidup dengan keadaan multitasking. Kadang, saya memang tidak memiliki pilihan. Saya harus berhadapan dengan keadaan ini, dan memilih multitasking. Tapi, hal yang saya tekankan di sini adalah, bagaimana saya dapat menjaga keselamatan diri saya sendiri dan keselamatan orang lain ketika saya memilih untuk melakukan keterampilan ini (yeap! Saya percaya bahwa multitasking adalah sebuah keterampilan! Tidak semua orang bisa melakukannya dan tetap menjaga fokusnya).

Semoga tulisan ini bermanfaat, as always salam hangat dari meja saya.

Sincerely, Ayu.

4 pemikiran pada “Multitasking

  1. Wow.. keren dibuatin mindmapnya.. akhir2 ini aku juga berusaha ningkatin kemampuan multitasking pdhal sebelumnya udah berusaha unitasking.. tp so little time so much to do

    Disukai oleh 1 orang

  2. Hi, Mbak!

    hahaha, iseng-iseng untuk membuat mind map seperti itu hahaha

    Itu lo Mbak, banyak sekali yang harus kita lakukan, tapi hanya memiliki sedikit waktu. Tidak ada pilihan, kembali ke multitasking haa

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s