Urban Zen


Saya adalah penikmat buku-buku yang berbicara tentang zen, minfulnes dan bahkan filsafat. Dalam frustasinya saya akan kehidupan, saya menemukan kedamaian dari membaca buku-buku seperti ini. Saya melihat diri saya yang sangat menikmati masa-masa untuk “memahami” isi setiap catatan yang ditulis dalam buku-buku jenis ini. Tumbuh pula, keinginan untuk tidak hanya menguliti isi buku, tapi juga adalah memahami pemikiran si penulis. Aktvitas ini, sudah secara rutin saya lakukan beberapa waktu ini.

Baca juga: Being Zen Ezra Badya dan Belajar tentang Inti Hidup dan Pembebasan dari Zen

Tidak jelas hasil yang saya harapkan dari kegiatan ini, selain memang untuk mengisi hari-hari saya dengan sesuatu yang bermanfaat dan menyenangkan. Saya tidak berharap akan menjadi book blogger yang konsisten menulis review atau catatan dari buku yang mereka baca, tidak juga saya berharap untuk bertemu langsung dengan penulis buku dan mendapatkan tanda tangannya. Tapi, jika kesempatan ini tiba di masa yang akan datang, saya pun tidak akan melewatkannya begitu saja. Ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan dalam hidup saya, yang sungguh fana ini.

Mungkin karena alasan umur, maka saya sangat bersemangat untuk mempelajari sesuatu yang bersifat spiritual. Mungkin karena alasan penyakit kecemasan kronis yang saya miliki, makanya saya sangat bersemangat untuk menulis setiap pengalaman menarik yang saya alami dalam blog ini. Terlepas dari apapun alasannya, saya adalah makhluk egois yang sangat berharap dapat meninggalkan sesuatu untuk dunia. Bukan hanya jejak-jejak karbon saja.

Dalam perjalanan dan pencarian yang sangat personal ini, saya menemukan banyak sekali buku-buku yang membentuk pemikiran saya sampai pada saat ini. Salah satunya adalah ini, buku yang ditulis oleh Reza A.A. Wattimena yang berjudul “Urban Zen: Tawaran Kejernihan untuk Manusia Modern.” Ketika pertama kali pengumuman mengenai buku ini keluar dari penerbit Karaniya, saya sudah sangat bersemangat untuk memiliki buku ini. Keinginan untuk menjadikan buku ini milik saya, dan belajar dari setiap kata dan kalimat di sana, sudah menjadi impian saya dalam beberapa hari. Saya merasa yakin bahwa saya akan belajar banyak, dan mendapatkan banyak insights!

Buku Urban Zen (Doc. Pribadi)

Saya masih ingat pertama kali menerima buku ini dari, saya langsung berteriak antusias! “Akhirnya!” pekik saya. Meskipun tumpukan buku yang harus saya baca masih banyak, saya sengaja menyerobot antrian dan memutuskan untuk melahap buku ini terlebih dahulu. Saya tidak peduli dengan level kemampuan saya untuk memahami isi buku ini, saya hanya terdorong untuk “menikmati” setiap isinya. Saya yakin, pada saat yang tepat, saya dapat mencerna setiap isinya.

Tulisan ini adalah hasil refleksi saya akan isi buku ini. Tidak banyak yang dapat saya tuliskan, dan ditambah lagi sangat bersifat personal. Jika tulisan dalam buku ini membantu pembaca, saya akan sangat bersyukur. Kalau pun tidak, tidak masalah bagi saya. Bahkan, ketika tulisan ini nanti berakhir di tempat sampah dunia maya, ia masih memiliki identitas sebagai “sampah.” Keberadaannya memiliki arti.

Zen, sejauh pemahaman saya.

Zen, sejauh yang dapat saya pahami adalah upaya atau gerakan untuk melihat dunia dengan cara yang alami dan apa adanya. Alami artinya sesuai dengan kenyataan, dan apa adanya, tanpa ada tambahan-tambahan yang tidak perlu dan tidak seharusnya ada di sana. Zen meletakkan kekuatannya pada nafas dan tarikan nafas individu yang mempraktikkannya.

Zen, sangat identik dengan kegiatan meditasi. Meditasi, yang berarti mengambil kesempatan untuk menarik diri dari kesibukan dunia dan fokus pada nafas atau pernapasan, masuk ke ruang yang kosong dimana “keabadiaan” dan sumber segala sesuatu ada. Ketika sudah berada pada titik ini, ikatan apapun yang dimiliki oleh individu sudah putus dan tidak bernilai lagi. Kesatuan dengan irama kehidupan dan/atau hidup itu sendiri sudah berjalan satu langkah dengan alam semesta. Satu dan tidak terpisahkan.

Zen juga menawarkan ruang untuk belajar berenang di gelombang air laut yang bernama kehidupan. Kehidupan yang nampak sangat tidak menentu ini. Kehidupan yang dinilai penuh intrik dan ketidakadilan. Melalui mata zen, tidak ada penilaian seperti ini. Kehidupan sudah berjalan sesuatu dengan yang seharusnya, mengikuti hukumnya yang abadi. Terus berjalan entah itu ke belakang atau ke depan. Arah bahkan dinilai tidak penting juga. Tidak ada kehendak, yang ada hanya terus mengalir dan mengikuti. Semuanya sudah sesuai dengan yang seharusnya. Menerima dengan lapang, dan seperti yang sudah seharusnya.

Buku ini, menawarkan jalan atau sesuatu seperti yang saya jelaskan ini.

Tapi, meskipun tawaran ini sungguh sangat menarik, satu hal yang saya rasa masih kurang. Sebagai manusia, kita tidak bisa berjalan tanpa pegangan. Kita memerlukan pegangan atau penuntun. Sesuatu yang dapat membuat kita terus berjalan dan terus melangkah, entah kemanakah itu. Kita perlu tongkat. Harus ada panduan. Hal ini yang tidak saya temukan pada zen. Tidak ada pembedaan antara si jahat dan si baik. Keduanya identik, dan batasannya pun menjadi sangat kabur.

Zen, lahir dari refleksi akan pengalaman atau kejadian yang dialami setiap hari dan setiap waktu. Setiap interaksi yang dilakukan, ditarik kembali dan dilihat kembali. Lalu, tidak menahan atau meninggalkan apa-apa. Pengalaman itu dibiarkan mengalir, lepas dan pergi bersatu dengan alam semesta. Mengalir dan berputar-putar, dan melayang dan hilang. Istilahnya demikian.

Photo by Alex Green on Pexels.com

Perperangan dengan Diri Sendiri

Buku ini membuat saya memahami bahwa akar dari masalah-masalah yang terjadi pada diri manusia adalah karena peperangan yang tidak perlu dengan dirinya sendiri. Manusia atau individu, tidak berjalan beriringan dengan dirinya sendiri, mereka malah berjalan sendiri-sendiri, terlepas dari perasaan yang sedang mereka alami. Peperangan yang tidak perlu dengan diri sendiri tentu saja hanya akan menyisakan duka dan derita.

Peperangan yang dimaksud di sini adalah konflik dengan diri sendiri. Contoh yang sederhana adalah ketika kita merasakan sedih, kita membiarkan diri kita hanyut dalam peristiwa bersedih yang menyiksa, terlarut dalam dan dengan perasaan yang tidak seharusnya. Ketika kita bahagia, kita malah merasa bersalah, sambil berpikir bahwa rasa bahagia yang kita rasakan adalah perasaan yang tidak pantas untuk kita rasakan. Kita berjalan tidak satu arah dengan perasaan kita sendiri. Kita menentangnya, menyembunyikan dan tidak mengakuinya.

Peperangan atau konflik yang terjadi, salah satunya memang adalah karena emosi atau pergulatan karena dan berasal dari  emosi yang melanda. Emosi yang kita miliki, sering kita sembunyikan dan tidak ingin kita akui. Emosi yang sama, kita tutup-tutupi dan tidak kita akui sebagai bagian dari diri kita sendiri, dan kadang kita harus memaksakan diri untuk bereaksi kebalikan dari apa yang kita rasakan. Sebagai contoh lagi, ketika kita sedang kesal dan marah dengan pimpinan tempat kita bekerja. Kita memiliki kecenderungan untuk marah, dan mungkin mengeluarkan rasa marah tepat pada saat itu juga. Tapi, kita “menahan diri” dan bukannya mengkomunikasikan rasa marah yang kita miliki, kita tutupi perasaan ini dengan mengatakan bahwa kita sedang “baik-baik” saja dengan keadaan. Kita berperang dengan perasaan kita sendiri. Jika hal ini terjadi terus menerus, dan dalam waktu lama, maka rasa marah yang kita endap, akan menjadi penyakit atau borok. Pada akhirnya, kita juga yang akan merasa sakit.

Andai saja, kita bisa menjadi lebih jujur untuk mengatakan bahwa kita sedang marah, kita sedang jatuh hati, kita sedang rindu.

Photo by mododeolhar on Pexels.com

Tidak terikat dengan apapun

Keadaan terikat atau keterikatan, adalah hal menarik yang saya pelajari akhir-akhir ini. Keterikatan itu, bukan hanya soal benda atau kepemilikan, tapi juga adalah masalah kepemilikan akan jabatan dan bahkan perasaan.

Saya mengambil contoh konkret dari para biarawan dan biarawati yang saya temui dalam keseharian. Sulit sekali menemukan orang yang benar-benar sudah “melepaskan” semua keterikatannya dengan dunia. Pada akhirnya, saya dapat melihat bahwa mereka pun adalah manusia, sama seperti saya. Uniknya, saya malah melihat dan menemukan sosok yang benar-benar sederhana dan dengan tulus melepaskan keterikatan dunia pada sosok orang awam. Orang-orang awam, yang kebanyakan saya temui, adalah orang-orang yang sangat rendah hati dan sangat bersahaja. Sebagai contoh, adalah sosok Ibu kantin yang bekerja di sekolah keperawatan saya dulu. Meskipun dalam keadaan yang sangat terbatas, Ibu kantin ini masih mau berbagi dari kekurangan yang ia miliki. Sikap dan tingkah laku mereka ini, mengingatkan saya akan kisah tentang sosok janda yang memberikan persembahan di Bait Allah pada zaman Yesus.

Saya menganggap bahwa hidup tanpa kelekatan, dan tidak terikat dengan segala sesuatu adalah cara hidup yang keren! Tanpa saya sadari, saya pun belajar untuk menjadi orang yang seperti ini. Ideal diri saya adalah ini, menjadi orang yang bebas dan tanpa keterikatan akan apapun. Meskipun memang saya akui, sampai pada titik ini, masih sangat-sangat sulit untuk saya sendiri.

Banyak sekali masalah atau persoalan yang datang karena masalah kelekatan ini. Hal yang sampai saat ini masih menjadi perhatian saya adalah kelekatan secara emosional dengan seseorang atau sebuah benda. Sebagai contoh, pada beberapa waktu yang lalu, ketika seorang sahabat meminjam sebuah benda dari saya. Ketika saya menyerahkan benda tersebut, entah bagaimana ada perasaan cemas di dalam diri saya. Muncul pula pikiran seperti rasa was-was, kalau-kalau benda yang saya pinjamkan ini nanti tidak akan kembali. Saya kemudian menyadari bahwa perasaan seperti ini muncul secara alami dari dalam diri saya, selain karena pengalaman buruk yang saya dapatkan karena meminjamkan benda berharga milik saya sebelumnya, juga adalah karena perasaan “kelekatan” akan benda yang saya miliki.

Pada akhirnya, saya masih menjadi orang yang sangat terikat dengan benda yang saya miliki. Saya masih mengikatkan diri pada hal-hal kecil dan sepele. Saya masih belum bisa melepaskan dan merelakan. Sungguh, ini adalah sifat yang sangat manusiawi.  

Jadi, demikian teman-teman para pembaca sekalian. Sedikit ocehan saya mengenai isi buku ini. Sangat-sangat personal, I must say!

Semoga tulisan ini, somehow dapat membantumu. As always, salam hangat dari saya. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Next, menulis tentang apa lagi ya?

2 pemikiran pada “Urban Zen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s