“…Cinta dan RahmatMu, Cukup Itu Bagiku.”


Selama lima minggu ini, saya dibantu untuk lebih mengenal diri saya sendiri dan Tuhan Sang Pencipta. Sebuah tantangan dan perjalanan yang tidak mudah, karena setiap hari ada tugas-tugas dan latihan-latihan rohani yang harus saya lakukan. Tapi, semua yang saya lalui, worth it! dan saya sungguh bersyukur karena telah membuat keputusan untuk tekun dan setia.

Saya akui bahwa saya bukan orang yang spiritualis. Keimanan saya, hanya sampai di dengkul, dan hanya sebatas teori saja. Ketika saya ditantang untuk menempuh perjalanan rohani, seturut dengan panduan latihan rohani St. Ignatius, saya takut. Ketakutan saya adalah, saya mungkin akan mabuk dengan semua konsep yang dijejalkan ke dalam kepala saya. Saya takut, bukan buah kebaikan yang lahir dari latihan-latihan ini, tapi malah buah-buah kemarahan dan rasa sakit.

Pada hari-hari pertama latihan rohani, berat! Saya harus berkenalan lagi dengan kebiasaan baru, dan disiplin untuk menjalani kebiasaan baru ini. Saya seperti sedang berperang melawan diri saya sendiri, dan menyeret diri saya dari rasa malas yang sudah menjadi kanker. 

Seiring berjalannya waktu, hati saya tunduk juga, dan kebiasaan ini berjalan sama seperti ketika saya bangun pagi, menggosok gigi dan mandi. Keadaan dan kegiatan ini kemudian berubah menjadi “kebutuhan.”

Selam lima minggu ini, saya dilatih dan melatih diri untuk secara sadar menyadari “kehadiran Tuhan” dalam hidup dan keseharian. Saya pun dilatih untuk menilai pengaruh dan keberadaan “Roh jahat” yang sangat penuh dengan trik. Terlebih lagi, saya diarahkan untuk melihat dengan jelas kehendak Tuhan atas hidup saya. 

Mantra, “Rahmat dan cintamu cukup bagiku, Tuhan” adalah buah tangan yang sangat saya syukuri dari pertemuan ini. Sedikit cerita mengenai perjumpaan saya dengan Tuhan secara spiritual dalam latihan rohani selama lima minggu ini, saya ceritakan dalam tulisan ini. Tujuannya sederhana, saya hanya ingin bersyukur atas perjalanan yang sudah saya tempuh. Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, yang telah mengantarkan saya pada titik ini.

Tuhan Ada dan Tidak Henti-hentinya Berkarya

Tuhan ada dan bekerja saat ini, dan sampai saat itu. Tanda-tanda keberadaanNya jelas, dan yang saya perlukan hanyalah waktu untuk mau membuka diri dan mendengarkan suaraNya.

Selama ini, saya menyadari bahwa hati saya keras, dan sungguh seperti batu! saya semakin menyadarinya ketika menutup mata dan menyediakan diri untuk berada di hadiratNya. Pada saat itu, saya melihat bahwa suara saya saja yang keras menggema, sedangkan suara Tuhan lemah lembut dan hampir tak terdengar.

Kesombongan yang saya miliki, menutup pintu dan jendela dalam hati. Ini juga yang menghambat saya untuk bisa melihat Tuhan dengan lebih jernih. Belum lagi, segala keragu-raguan, dan dinding-dinding yang sejak lama saya bangun, mencegah saya untuk melibatkan diri dalam hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan. Saya enggan untuk menatap wajahNya, apalagi menyambut uluran tanganNya.

Pada saat kesadaran ini menghantam saya, timbul dalam diri pemikiran bahwa “Sungguh, saya secara sadar menjauh dan sudah berjalan terlalu jauh dari Tuhan.”, sudah sangat lama saya menahan diri, menahan langkah kaki saya untuk berlari menyambut tanganNya.

Cerita dan pengalaman yang dibagikan oleh teman-teman dalam kelompok mengingatkan saya bahwa, Tuhan itu hadir dalam pengalaman yang sederhana dan mungkin nampak sepele dalam hidup saya. Saya tidak perlu pergi jauh-jauh untuk mencarinya. Saya hanya perlu duduk diam, tenang dan memusatkan pikiran dan hati saya padaNya. Ia diam di sana, menanti kapan saya mau, bersedia, atau ingin bertemu denganNya. Ia menanti saya untuk membuka pintu, dan membiarkan Ia masuk dan berbincang-bincang dengan saya.

Dalam refleksi, saya menyadari bahwa perasaan rindu untuk melakukan pertemuan dengan Tuhan itu ada. Saya mungkin sangat rindu, sampai saya mengalami kekeringan. Persis seperti tanaman di padang gurun yang menantikan rahmat Tuhan dalam bentuk hujan. Saya kering dan haus. Tapi, ego yang cukup besar menghalangi saya. Saya menarik diri dan secara sengaja menjauhkan diri dari Tuhan. Saya cukup bodoh untuk memilih berjalan di jalan ini, dan bertahan sampai sekarang.

Sudah banyak tanda-tanda yang dikirimkan kepada saya. Sudah banyak sapaan-sapaan halus, dan bahkan teguran-teguran keras untuk saya. Tapi, saya tepis dan abaikan. Saya memilih untuk memberi makan ego saya sendiri, dan saya merasakan akibat dari keputusan saya ini. Saya kering secara rohani, dan saya tidak merasakan kedamaian yang saya idam-idamkan. Ekaristi tidak saya nikmati seperti sebelumnya, dan saya mulai menyerah dengan apapun yang ada hubungannya dengan ketuhanan.

Namun, seperti yang terlalu sering saya katakan pada diri saya sendiri. Biar bagaimana pun sesatnya jalan yang saya tempuh, Tuhan selalu memiliki caranya sendiri untuk memanggil saya kembali. Ia mengenal saya lebih dari saya mengenal diri saya sendiri. Latihan rohani yang saya lakukan selama lima minggu ini adalah cara Ia membawa saya kembali. Ia membuat saya kembali menyadari bahwa, kekeringan dan kehampaan ini terjadi karena saya jauh dariNya. Saya adalah makhluk ciptaanNya, dan jauh dariNya saya akan musnah.

Photo by Irina Iriser on Pexels.com

…kekeringan dan kehampaan ini terjadi karena saya jauh dariNya. Saya adalah makhluk ciptaanNya, dan jauh dariNya saya akan musnah.”

Maria Frani Ayu

Percakapan Rohani yang Kaya

Percakapan rohani yang saya lakukan dengan teman-teman di kelompok membawa saya pada a new level of spiritual stage! Saya bersyukur kepada Tuhan karena dapat dipertemukan dalam kelompok yang sungguh luar biasa. Saya belajar banyak dari mereka, dan pengalaman iman mereka sungguh menyentuh saya secara rohani.

Kelompok LRP #RendahHati

Oleh sebab, dan melalui mereka, saya memasang standar yang tinggi untuk hubungan spiritual dengan Tuhan.

Selama ini, saya menjalin hubungan yang sifatnya “professional” saja dengan Tuhan. Tidak pernah ada dalam daftar hidup saya, saya akan benar-benar menjalin hubungan secara sadar dan dilandasi oleh kesadaran akan Tuhan. Rasa takut dan berbagai alasan lainnya menjadi tali pengikat yang membuat saya tidak berani melangkah jauh menghadap Tuhan. Belum lagi, karena latar belakang saya yang lebih memilih untuk memahami Tuhan secara logika,..habis sudah!

Melalui latihan rohani selama lima minggu ini, saya dipertemukan dengan orang-orang yang dengan kebaikan hatinya membagikan kisah dan pengalaman mereka bertemu dengan Tuhan. Pergulatan hidup mereka, tidak pernah saya bayangkan! Pada satu sisi, saya merasa bahwa saya tidak sendiri, dan pada sisi lain, saya diliputi oleh rasa iri. Saya iri karena, meskipun mereka berada di titik terendah dalam hubungan mereka dengan Tuhan, mereka tetap setia dan sabar. Mereka belajar untuk tidak “mengharapkan” apa-apa, tapi dengan setia berjaga-jaga. Bertahan.

Saya ingat, ketika pertama kali bertemu dengan kelompok diskusi rohani ini, salah satu harapan saya adalah agar mendapatkan teman berbagi. Saya ingin sekali melakukan kontak dengan mereka yang memiliki latar belakang kepercayaan seperti saya, dan berdinamika bersama mereka dalam pembelajaran secara rohani. Saya penasaran dengan buah-buah yang dapat saya peroleh dari proses ini. Saya menantang diri saya sendiri untuk keluar dari zona nyaman, dan berupaya untuk menemukan jalan baru yang menarik. Niatan ini, saya peroleh dengan penuh syukur. Bahkan, jauh dari yang saya harapkan sebelumnya.

Saya tidak henti-hentinya bersyukur atas orang-orang yang ditempatkan di kelompok diskusi rohani. Saya belajar banyak! dan yang terpenting adalah, saya berproses secara roh bersama mereka.

Photo by Ayodeji Fatunla on Pexels.com

Pergolakan Rohani: Roh Baik vs Roh Jahat

Konsep baik dan buruk, yin dan yang, hitam dan putih adalah dua konsep yang cukup saya kenal. Saya mengenal baik dua konsep pembagian yang sangat-sangat kontras ini. Tapi, ketika saya diperkenalkan pada ajaran iman tentang konsep roh jahat dan roh baik, pertentangan muncul dalam diri saya dengan sangat-sangat kuat! Saya tidak pernah menduga, kalau pertentangan ini ada, dan bahkan bergejolak dengan sangat-sangat luar biasa dalam diri saya. Pertentangan itu datang secara konstan, dan bahkan muncul secara otomatis setiap kali saya menyebut tentang “roh jahat” dan “roh baik.” What the hell!

Saya masih bersikap seperti batu, setiap kali mendapatkan berita mengenai perbedaan kedua jenis roh ini. Saya bisa menerima “teori” mengenai dua dunia yang berbeda ini, tapi saya masih sulit untuk menerima konsep ini secara “spiritual.” Pada titik ini, saya bisa melihat bahwa saya terjerat dalam kuasa roh jahat dengan sangat-sangat dalam. Mereka yang belajar pembedaan Roh akan melihat jelas hal ini dalam diri saya.

Pada kesempatan berbagi, saya menceritakan mengenai analogi saya tentang keberadaan roh jahat dan roh baik ini. Saya lebih percaya cerita yang saya baca dari sebuah website menganai dua serigala yang menghuni tubuh manusia. Dua serigala ini, adalah si baik dan si jahat. Kedua serigala ini tumbuh dan terus bertarung dalam diri individu. Kemenangan ada pada pihak yang saya beri “makan” dengan cukup. Kalau saya memilih untuk memberi makan si jahat, maka itu pula yang akan tumbuh besar dan menguasai saya. Demikian sebaliknya.

Sampai saat ini, saya masih terus belajar. Saya masih memohon terus rahmat untuk dapat membedakan roh jahat dan roh baik. Saya masih memohon tanpa henti rahmat untuk dapat memisahkan kedua roh ini, dan berjalan mengikuti tuntutan roh baik.

Saya terjatuh dalam jumlah yang cukup sering. Tapi, saya tidak membiarkan diri saya jatuh terlalu dalam kali ini. Saya belajar.

Saya menciptakan mekanisme untuk dapat mengenal trik roh jahat dan mengabaikannya. Ketika roh jahat itu datang, saya membayangkan diri saya yang terus sibuk mengerjakan apa yang saya kerjakan, dan mengabaikan rayuan-rayuan penuh intrik itu. Saya tidak ingin memberikan perhatian dan bahkan waktu. Saya membiarkannya lelah menghadapi sikap saya yang keras seperti batu ini.

Photo by Dids on Pexels.com

Mantra: Menyerahkan Diri Kepada Tuhan

Kemampuan untuk menyerahkan diri pada sesuatu yang berada di luar jangkauan kita; sesuatu yang lebih besar dari kita, adalah keadaan yang dikenal banyak orang sebagai iman. Saya, adalah individu yang pada berbagai kesempatan banyak percaya pada dirinya sendiri. Menyerahkan diri saya pada kekuatan di luar dari jangkauan saya, bukanlah hal yang mudah.

Kerap kali, saya melihat bahwa ini adalah akar dari rasa cemas yang berkepanjangan dan tak ada habisnya dalam diri saya. Saya masih menyalahkan hal lain di luar diri saya sendiri. Saya menyalahkan Ibu saya, yang mengandung saya dalam keadaan sangat jauh dari rumah orang tuanya, dan dilanda dengan segala penderitaan emosional yang menyedihkan. Saya lahir dengan membawa beban rasa sakit dan bahkan kecemasan-kecemasan ini. Saya menyalahkan sisi sensitive saya, yang selalu membawa segala masalah ke dalam hati. Saya menyalahkan semua.

Pengalaman-pengalaman masa lalu ini, menyebabkan saya tidak mampu bersyukur. Saya tidak bisa dan sangat merasa kesulitan untuk memanggil kembali pengalaman-pengalaman untuk dicintai. Ketiadaan pengalaman-pengalaman ini, menghambat saya untuk bersyukur, apalagi menyerahkan diri saya seutuhnya pada Tuhan.

Dalam lima minggu ini, saya terus mengulang-ulang pemikiran ini. Saya mencari cara untuk “melepaskan” dan “mengobati” rasa sakit ini. Saya mencari jalan keluar.

Satu jalan keluar yang saya temukan adalah dengan menggali “pengalaman dicintai” dan dengan sungguh menyadarinya. Memanggil kembali pengalaman dicintai itu, sungguh adalah proses yang luar biasa.

Saya tertahan dan bertarung dengan dinding-dinding tanpa suara. Saya tidak mampu memanggil pengalaman dicintai ini. Rasanya sungguh mengecewakan. Tapi, setahap demi setahap, saya membuka celah-celah dalam hati ini, dan kemudian membiarkan pengalaman ini mengalir. Kesimpulan saya adalah selama ini, saya tidak ingin mengakui dan menerima cinta dari lingkungan di sekeliling saya. Kembali, pikiran dan hati saya ini, terbuat dari batu.

Latihan rohani selama lima minggu ini, mengajarkan saya untuk mengumpulkan perasaan-perasaan dicintai dan dikasihi. Setelah perasaan-perasaan ini muncul, maka lahir pulalah perasaan syukur dan terima kasih. Perasaan ini tidak terbendung, dan seolah berkata balik kepada saya, “Akhirnya…, setelah sekian lama,” “Selamat datang kembali…”

Setelah rasa syukur dan terima kasih keluar seperti mata air dari dalam diri, saya kemudian mencapai titik selanjutnya dalam perjalanan rohani ini, yaitu penyerahan diri. Mungkin karena sifat kepribadian saya, saya masih belum mampu untuk mengatakan dengan lantang “Ambillah Tuhan, dan terimalah seluruah kemerdekaanku, ingatanku, pikiranku dan segenap kehendakku,…dst.” Saya lebih nyaman dan lebih bebas untuk mengatakan, “…Cinta dan rahmatMu, cukup itu bagiku, Tuhan…”

Demikian, sedikit tulisan yang bisa saya bagikan mengenai rangkuman perjalanan latihan rohani selama lima minggu ini. Meskipun jadwal latihan rohani saya masih bolong-bolong, tapi saya tidak ingin berhenti. Saya jadikan ini sebagai pengalaman dan juga pemicu untuk melanjutkan latihan lagi, untuk hari-hari selanjutnya.

Saya sungguh berterima kasih kepada Frater pendamping kami, Fr. Antonius Bagas, SJ, yang sudah dengan sabar membantu saya dan teman-teman berproses serta berdinamika dalam roh. Saya salut dengan sikap sabar dan tenang milik Frater Bagas. Sikap tenang ini sungguh ingin saya pelajari. Frater memang sangat pas untuk menjadi seorang pembimbing rohani untuk kelompok rohani kami.

Saya juga bersyukur dan sungguh berterima kasih kepada Sr. Anastasia Ervin, S.A, PMY yang telah membagikan informasi mengenai kegiatan Latihan Rohani Pemula (LRP) ini. Saya tidak mungkin dapat berproses seperti ini, tanpa peran beliau. Semoga suster sehat dan sejahtera, dan selalu bersemangat untuk membagikan kebaikan kasih Tuhan.

Well, Saya yakin, teman-teman pembaca sekalian pasti memiliki kisah dan pengalaman perjalanan rohani yang tidak kalah menarik. Biar bagaimana pun, kita ini adalah makhluk spiritual.

Saya ingin mendengar kisah teman-teman sekalian, dan sungguh ingin belajar dari pengalaman-pengalaman ini. Bagikan kisah teman-teman, dan jangan sungkan untuk menandai saya. Saya akan singgah dan membaca.

Akhirnya, semoga hati kita semakin dibuka, untuk melihat kasih dan rahmat Tuhan yang begitu berlimpah di sekitar kita. Salam hangat untuk semua, as always, good luck!

11 pemikiran pada ““…Cinta dan RahmatMu, Cukup Itu Bagiku.”

  1. “Kemampuan untuk menyerahkan diri pada sesuatu yang berada di luar jangkauan kita; sesuatu yang lebih besar dari kita, adalah keadaan yang dikenal banyak orang sebagai iman.”

    Saya tahu ini tak mudah; penyerahan total berarti menyerahkan semuanya kepada kekuatan yang lebih besar yaitu… Tuhan (yang tak kelihatan itu). Diperlukan lompatan ataupun pemikiran serta kekuatan di luar nalar, namun yang tertulis di Kitab Suci sangat sederhana. Percaya saja.

    Aneh dan tidak masuk akal, namun itulah iman di dalam Kristus Tuhan 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  2. Terima kasih banyak, Pak.

    Perjalanan rohani ini sungguh tidak mudah, dan pastinya menantang. Tapi, saya memang harus belajar untuk menemukan harta dan kekayaan dalam sesuatu yang sederhana tersebut.

    Tuhan sungguh baik.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Saya muslim, tetapi senang membaca cerita di atas. Saya bahkan beberapa kali membuat online post tentang Tuhan sebagai inspirasi terbesar saya hari ini. So much love and salam 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  4. Hi, Kak.

    Terima kasih banyak sudah berkunjung dan membaca tulisan ini. Tuhan memang adalah sumber inspirasi terbesar kita. Semoga kita selalu setia di jalanNya. Salam juga dari saya, Kak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s