Kebebasan untuk (memilih) Mencintai


Konsep yang cukup terkenal, yang diperkenalkan dan diajarkan kepada manusia adalah ajaran yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas (free man; free will). Tapi, pernyataan mengenai kebebasan ini harus dipertanyakan dan bahkan dikritisi lagi. Kebebasan seperti apa ? 

Dalam drama korea yang berjudul “The Red Sleeve”, penonton ditunjukkan bahwa dayang-dayang di istana diikat dengan aturan untuk menyerahkan semua kebebasannya kepada raja dan aturan kerajaan. Tidak ada kebebasan, bahkan untuk kebebasan berpikir dan untuk merasakan. Saya cukup tercengang dengan fakta ini ketika saya menontonnya.

Soal kebebasan, sejarah di negeri kita sendiri sudah sangat jelas menunjukkan bahwa ada perjuangan untuk mendapatkan kebebasan yang dapat kita nikmati pada saat ini. Termasuk kebebasan untuk menulis di media sosial ini. 

Kebebasan yang saya bicarakan dalam tulisan ini adalah kebebasan untuk mencintai dan untuk memilih untuk mencintai. Perlu dicatat bahwa tulisan ini adalah pendapat personal saya sendiri.

Photo by Steve Johnson on Pexels.com

Malam itu, karena sudah sangat lama tidak bertemu, saya dan sahabat kemudian bertukar kabar tentang kehidupan kami masing-masing. Bercerita lama, dan akhirnya sahabat saya menyatakan pernyataan seperti ini: 

“Tidak semua yang kita sukai, harus kita miliki..”

(William Hervery, 11 Januari, 2022)

Pernyataannya ini membuat saya berpikir tentang kebebasan dan hakikat manusia sebagai makhluk yang bebas. Saya rasa, manusia sungguh bukan makhluk yang bebas. Tidak ada kebebasan pada diri manusia. Kebebasan manusia bahkan diperoleh dari tindakan ketika manusia tunduk terhadap aturan dan hukum yang mengikatnya. Ya, kebebasan itu lahir dari keterikatan, dari peraturan dan dari ketaatan pada peraturan. Bisa dikatakan bahwa tanpa adanya ikatan, manusia tidak benar-benar bebas. Ikatan dan keterikatan yang menjadikan manusia bebas. 

Ide mengenai keterikatan dan kebebasan sangat menarik saya, karena kenyataan bahwa keduanya ternyata saling berhubungan dan saling mendukung. Bahkan saling membutuhkan.

Saya akhirnya menyimpulkan bahwa manusia, pada hakikatnya bukanlah makhluk yang bebas. Tidak ada kebebasan dalam diri manusia. Manusia bukanlah makhluk yang bebas.

Photo by Sebastian Voortman on Pexels.com

Hilangnya kebebasan untuk memiliki yang kita sukai

Salah satu contoh dari ketiadaan kebebasan dalam diri manusia adalah pudar dan bahkan hilangnya kebebasan untuk menyukai orang yang ingin kita sukai. Hal ini jelas nampak dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh sahabat saya di atas. Sahabat saya menegaskan bahwa “tidak semua yang kita sukai, dapat kita ambil dan jadikan hak milik.”

Kebebasan kita untuk menyukai, terhalang oleh dinding tidak kasat mata. Salah satu yang paling terkenal adalah kepercayaan diri. Ya, kepercayaan diri bahwa kita layak untuk memilih siapa dan apa yang kita sukai. Hal ini menghalangi kita untuk melakukan tindakan ini, tidak mampu untuk memilih apa yang kita sukai. Hasil akhir dari perilaku ini adalah, keengganan untuk menyukai.

Namun, pernyataan sahabat saya ini mengandung arti lainnya. Sahabat saya ini mungkin berpikir bahwa apa yang dia sukai harus menjadi miliknya. Letak kekeliruan berpikir mungkin berada pada titik ini. Apa yang kita sukai, berbeda dengan apa yang kita pilih untuk dapat dimiliki. Menyukai berbeda konsepnya dengan memiliki. Suka ya suka, memiliki lain lagi.

Ketika kita memilih untuk memiliki, maka ada usaha yang harus dilakukan di sana. Usaha ini adalah harga yang harus dibayar untuk memiliki apa yang ingin kita miliki. Usaha ini, adalah usaha.

Hasil yang akan kita dapatkan, akan berbeda.

Hasil, akan sangat dipengaruhi oleh begitu banyak faktor atau variable. Lalu, yang lebih penting lagi, sangat tergantung dengan persepsi yang kita pilih akan digunakan untuk membicarakan mengenai hasil.

Photo by Noelle Otto on Pexels.com

Semuanya tergantung pada persepsi

Akhir-akhir ini, saya sangat menyukai membicarakan mengenai persepsi. Awalnya, saya sedikit pesimis dengan keadaan yang “dipersepsikan.” Sangat-sangat subjektif menurut saya (Meskipun memang sungguh benar demikian, dan itu adalah sifat dari persepsi). Tapi, lambat laun saya belajar dan menemukan hikmat dari persepsi, bahwa dunia yang kita alami atau yang kita rasakan saat ini adalah hasil dari persepsi kita. Kita yang membentuk persepsi tentang dunia kita, termasuk didalamnya adalah diri kita sendiri.

Kunci untuk mengubah dunia adalah mengubah persepsi kita tentang dunia.

Pernyataan sahabat saya tentang kebebasan untuk “memilih” orang yang ia cintai, dapat dipersepsikan setidaknya ke dalam dua hal yang berbeda dan saling bertolak belakang. Tapi, persepsi hanya akan tinggal dan menjadi hanya persepsi, yang lebih dalam lagi dari persepsi adalah tindakan.

Tindakan, lahir dan terinspirasi dari persepsi yang kita bangun.

Jika kita percaya bahwa kita bukanlah orang yang patut untuk dicintai, maka kita akan selalu menghindar dari cinta apapun yang disajikan di hadapan kita. Persepsi dan tindakan.

Does it make sense?

Hal ini pun berlaku dengan pengertian atau pemahaman tentang “kebebasan.” Jika memang kita berpikir bahwa kita adalah makhluk yang tidak bebas, dan jauh dari kebebasan, maka itu pun yang akan terjadi pada kita. Tingkah laku kita pun akan mencerminkan kepercayaan ini. Terikat dan kaku.

Semoga tulisan ini bermanfaat. As always, good luck!

Next, menulis apa lagi?

4 pemikiran pada “Kebebasan untuk (memilih) Mencintai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s