Menemukan Wajah Tuhan dalam Peristiwa Kematian


Banyak orang yang menyukai film dengan tema “Vampire,” sebut saja film-film dengan judul seperti, Count Dracula, Interview with the vampire, Twilight Series dan masih banyak lagi. Salah satu Alasan menyukai film dengan tema ini adalah karena sifat keabadian yang dimilikinya. Ini juga adalah alasan mengapa saya tertarik dengan hal-hal yang ada hubungannya dengan vampire dan sebangsanya.

Kekal, bukanlah sifat yang manusiawi, dan sangat bertolak belakang dengan sifat menusia yang fana. Tentu saja sifat atau konsep ini akan menarik manusia yang fana secara otomatis.

Photo by luizclas on Pexels.com

Sebagai manusia yang fana, saya memiliki keinginan untuk menjadikan apapun yang saya miliki sebagai sesuatu yang dapat bertahan bersama waktu, sesuatu yang dapat masuk ke dalam sesuatu yang sifatnya kekal. Inilah salah satu alasan kuat mengapa saya tidak berhenti menulis. Tulisan adalah kekal sifatnya.

Terdorong oleh keinginan yang sangat-sangat egois ini, saya pun menulis dan menghamburkan tulisan-tulisan di dunia maya. Dalam setiap tulisan yang saya terbitkan, terkandung harapan agar di mana pun tulisan ini berlabuh, ia dapat menyentuh hati pembacanya dan bertahan di sana melewati waktu. Keinginan ini lahir ketika saya tinggal di tempat perantauan, yang membuat saya harus berada dalam waktu lama di dalam kamar sempit, dan mengalami begitu banyak kejadian yang tidak jauh-jauh dari kematian.

Tulisan ini, sengaja saya buat dan bagikan sebagai hasil refleksi mengenai kematian. Saya berharap, siapapun yang membacanya dapat menemukan sesuatu dalam tulisan ini, dan juga dapat menemukan cahaya, yang juga saya temukan pada akhir tulisan ini.

Baca juga catatan saya mengenai “Agony” pada Instagram post.

Photo by sergio souza on Pexels.com

Kematian adalah peristiwa yang spontan

Kematian adalah sebuah peristiwa yang secara spontan membuat pemikirnya akan menjadi bijak. Mengingat kematian, membuat orang langsung berubah. Kematian adalah mesin transformasi yang luar biasa.

Dalam masa-masa gelap dalam hidup saya, saya merenungkan banyak sekali hal-hal tentang kematian. Saya berandai-andai bagaimana kalau dia, dia dan dia pergi meninggalkan saya. Lalu, bagaimana kalau saya sendiri yang pergi. Bagaimana rasanya mati?

“Mati itu seperti tertidur. Kesadaran kita hilang dan meninggalkan kita,“ demikian yang disampaikan oleh seorang sahabat saya.

Sejak saat saya menemukan pengertian ini, saya pun terus menerus melatih diri untuk siap siaga menghadapi kematian. Saya membayangkan proses ketika kesadaran saya meninggalkan saya. Umpama tidur tanpa mimpi, itulah keheningan dan kekosongannya. Itulah kematian.

Lalu, mengapa saya harus takut atau khawatir?

Photo by Mikhail Nilov on Pexels.com

Kematian dan Rasa Sakit

Kematian mungkin sangat menakutkan karena rasa sakit yang menyertainya. Ketika saya merawat Almarhum kakek, saya menyadari betapa menderitanya beliau.

“Cukup. Sudah cukup saya menderita. Ambil saja saya!, “ Demikian rintihan penuh rasa sakit yang kakek saya katakan hampir setiap malam.

Meskipun penderitaan itu sungguh sangat kejam dan menghujam, tapi kematian tidak pernah datang secepat yang diharapkan.

Penderitaan demi penderitaan fisik datang menghampiri almarhum kakek saya waktu itu. Hal yang juga menghantam seluruh anak dan keluarganya, yang juga membuat saya sungguh menyesal.

Saya masih ingat betul pandangan mata kakek saya waktu itu. Dalam dan menusuk jiwa saya. Saya tahu Ia sungguh menderita, dan Ia membutuhkan pertolongan. Tapi, Ia tahu bahwa tidak ada siapapun yang dapat menolongnya saat itu. Kami sama tidak berdayanya.

Rasa sakit, itu yang membuat kematian begitu sangat mengerikan.

Pada titik ini, saya sadar salah satu sifat kematian, bahwa ia tidak dapat diprediksi oleh siapa pun. Ia mungkin datang saat ini, atau nanti. Tidak ada yang tahu pasti kapan. Tugas kita adalah siap sedia dan menunggu.

Baca juga Ketika, kematian: Sebuah Catatan.

Photo by Juan Pablo Serrano Arenas on Pexels.com

Siap siaga setiap waktu

“Tidak usah takut dengan kematian. Dalam dunia ini, tiada yang lebih pasti selain kematian. Kita semua berjalan ke arah sana. Jadi, tidak perlu takut.”

Sahabat saya pernah mengatakan hal seperti ini untuk menenangkan hati yang terlalu gelisah karena peristiwa kematian. Ia benar ketika mengatakan bahwa “tiada yang lebih pasti di dunia ini, selain kematian. Ya, kematian adalah sebuah kepastian dan bukan hanya angan saja. Waktu, itu yang berbeda antara satu orang dan orang yang lainnya. Tapi, apakah waktu kematian adalah masalah untuk kita ?. Tidak. Alasannya adalah karena kita tidak memiliki kuasa atau kemampuan untuk mengetahui kapan “waktu itu akan tiba.” Untuk dapat menghadapi kematian, banyak orang menyarankan untuk berada dalam keadaan “siap siaga”, ya bersiap siaga seakan-akan waktu kematian itu seperti pencuri. Siap sedia, dan pastikan bahwa ketika waktu itu sudah tiba, ia tidak mendapati kita berada dalam keadaan terlena.

Photo by Rahul Pandit on Pexels.com

Ilusi waktu

Satu kesamaan yang saya temukan antara kematian kakek dan paman saya adalah ilusi waktu. Sungguh, kami semua dibuat kaget dan tidak percaya karena jarak antara keluhan pertama sakit dan kepergian keduanya sungguh-sungguh singkat.

Menghitung hari ke belakang, membuat saya semakin yakin bahwa waktu ini sungguh singkat. Mungkin karena alasan inilah mengapa banyak orang yang mendorong kita untuk banyak memfokuskan diri kita pada saat ini, atau waktu saat ini. Hidup untuk saat ini, dan waktu saat ini. Bukan masa lalu, atau terbuai dengan ilusi masa depan yang juga tak pasti.

Saya bersyukur atas latihan rohani yang saya jalani. Salah satunya adalah ketika saya memfokuskan diri pada keadaan “saat ini”, pada setiap hembusan nafas yang saya miliki saat ini. Praktik ini membuat saya tidak mengkhawatirkan apapun selain hidup pada saat ini. Detik ini. Menyadari dengan sungguh situasi yang sedang saya alami, menyadari dengan sungguh jalan yang sedang saya tempuh atau bahkan peperangan apa yang sedang saya jalani. Praktik ini membuat rasa sakit yang saya alami karena kehilangan tidak menggerogoti saya lebih dalam.

Photo by Hernan Pauccara on Pexels.com

Wajah Tuhan dalam Kematian

Dalam peristiwa kematian, saya menemukan Tuhan. Klise sekali menyebut kalimat ini. Kalimat yang secara terus menerus saya ulang-ulang, untuk tujuan meresapi dan memahami lebih dalam lagi arti dan maknanya.

Kematian kakek dan paman saya memiliki satu kesamaan, yaitu bahwa mereka mengalami penderitaan sebelum akhirnya mereka berpulang dalam damai. Penderitaan sebelum mereka meninggal adalah sesuatu yang sangat dalam saya pikirkan. Hal ini membuat saya berpikir bahwa Roh Kudus dengan sengaja membawa saya pada pemikiran ini, dan saya merasa bahwa Tuhan memang ingin agar saya menginvestasikan waktu untuk belajar dari peristiwa ini.

Ya, saya belajar.

Dalam wajah penderitaan yang dialami oleh kakek dan paman saya, saya melihat pergerakan Roh yang membuat saya merasa bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya. Penderitaan itu memang tidak “hilang” dan tidak bisa disingkirkan dalam satu kali tebasan tangan. Justru melalui penderitaan itu, terpancar kasih yang luar biasa besarnya.

Saya merasakan buah-buah cinta dan perhatian yang diberikan oleh anak-anak, cucu dan keluarga besar saya terhadap mereka yang sakit. Saya melihat kesabaran yang luar biasa untuk menemani, dan merawat mereka yang sakit. Cinta yang besar untuk dengan tulus mengupayakan pemulihan, dan berdoa bagi keselamatan jiwa mereka yang sedang menderita.

Pada saat inilah saya dapat dengan sangat percaya diri mengatakan bahwa, Tuhan hadir dan Tuhan berkarya melalui penderitaan yang dialami oleh kakek dan paman saya ini.

Saya mungkin sedang dalam proses menuju penerimaan bahwa kedua anggota keluarga saya ini sudah pergi untuk selamanya. Saya mungkin sedang mencari alasan dan pembenaran atas peristiwa menyedihkan yang baru saja saya alami. Tapi, ketika saya membaca kembali tulisan ini, rasanya sungguh lega. Tidak ada yang sia-sia, dan tidak ada yang terbuang percuma.

Pada akhir tulisan ini, meskipun dengan hati yang masih berat, saya masih mampu berucap

“Tuhan sungguh baik, dan amat baik.”

Saya harap, kamu senang dan dapat menemukan apa yang kamu cari ketika berkunjung ke blog ini. Kami juga bisa membantu saya untuk terus menulis dan berkarya, dengan bermurah hati mengunjungi link Saweria #mariafraniayu. Kemurahan hatimu akan sangat membantu saya tetap konsisten menulis dan berbagi dengan banyak orang.

4 pemikiran pada “Menemukan Wajah Tuhan dalam Peristiwa Kematian

  1. Dalam konteks iman, bagi saya, surga atau neraka itu adalah hadiah yang hanya Tuhan saja yang bisa memberikannya. Isi hadiah ini, berupa hidup kekal, kebangkitan atau kelahiran kembali, itu juga adalah hal yang saya serahkan hanya pada Tuhan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s