Pride and Prejudice


Saya menjadi sangat penasaran dengan novel klasik dari Inggris yang berjudul “Pride and Prejudice” sejak saya membaca dan menyelesaikan novel “After” dan beberapa seriesnya karya Anna Todd lainnya. Inspirasi dari novel ini adalah tentu saja, kisah cinta klasik yang ditulis dan diterbitkan oleh Jane Austen pada tahun 1813. Sudah lebih dari 100 tahun yang lalu. 

Pride and Prejudice Poster (Sumber. Pinterest)

Saya pernah menengok novel ini, dan langsung menyerah dengan kerumitan bahasa Inggris-nya. Saya dibuat pusing kepala dengan kosa kata bahasa Inggris yang digunakan seratus tahun yang lalu. Rumit! Alasan ini pula yang membuat saya lebih memilih untuk menonton saja filmnya, yang juga ternyata memuat juga kosa kata Bahasa Inggris yang sangat asing di telinga saya. 

Benar saja kata orang, Jane Austen menuliskan kisah Mr. Darcy dan Elizabeth Bennet dengan gaya menulis yang selain romantis, juga sangat puitis. Beberapa adegan yang dimunculkan, dialognya harus dianalisa berulang kali agar dapat dipahami makna sebenarnya. 

Pride and Prejudice memang adalah sebuah kisah cinta, dengan latar belakang negara Inggris pada tahun 1800an. Sungguh situasi dan lingkungan sosial yang di luar bayangan. Pada saat itu, orang tua dari mereka yang memiliki anak perempuan berlomba-lomba untuk segera menikahkan anaknya. Perempuan yang terlambat menikah dianggap sesuatu yang memalukan bagi keluarga. Tidak heran, orang tua, terutama sosok Ibu, akan dengan sangat keras berupaya agar anak perempuannya menemukan tambatan hatinya. Perjodohan adalah hal yang sungguh biasa pada masa itu. Parahnya, bahkan sebuah kenormalan. Biasa.

Sebuah Adegan Cantik dalam Film Pride and Prejudice (Sumber. Pinterest).

Elizabeth Bennet dalam kisah ini, adalah anak perempuan dari keluarga Bennet yang sungguh lain dan berbeda. Ia mencintai buku dan dunia literasi. Berbeda dengan saudari-saudarinya yang lain. Ia juga bukanlah seorang perempuan yang setuju dengan praktik “menjodohkan” yang normal dilakukan oleh masyarakat sosial pada waktu itu. Ia ingin persatuannya dengan seorang laki-laki, haruslah didasarkan oleh rasa hormat, kepercayaan dan cinta. Ya, cinta, yang nampaknya menjadi konsep yang sangat asing pada masa itu. Pernikahan datang lebih lebih dahulu dibandingkan cinta. 

Dalam filmnya, pertemuan pertama Elizabeth dengan Mr. Darcy bukanlah pertemuan yang baik. Keduanya harus dibuat salah paham dengan keadaan masing-masing. Tetapi, ini adalah awal yang baik untuk hubungan keduanya. Siapa yang menyangka. 

Lebih jauh, kisah keduanya berkembang dengan upaya untuk saling mengenal dengan benar kepribadian masing-masing. Ketertarikan tentu saja menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kisah keduanya, ditambah dengan konflik yang tercipta ketika keduanya harus melawan sistem sosial yang ada pada saat itu. Konflik yang harus mereka lalui agar dapat bersama.

Salah satu adegan favorit saya, yang juga nampaknya menjadi adegan yang banyak disukai oleh semua orang adalah adegan ketika Mr. Darcy berjalan di padang luas dengan tujuan menemui Elizabeth. Dialog yang dilontarkan oleh Mr. Darcy pada Elizabeth pada saat keduanya bertemu, dan pandangan mata Elizabeth adalah sesuatu yang menyentuh. Belum lagi, jawaban yang diberikan oleh Elizabeth berupa tindakan mencium tangan. Sebuah gesture yang menunjukkan status perempuan yang independent dan tidak terpengaruh dengan label sebagai insan nomor dua di masyarakat. Keren!

(Sumber. Pinterest)

Seperti banyak novel yang terbit pada tahun 1800an atau 1900an, yang selalu dan kebanyakan membawa pesan “transformasi masyarakat sosial,” saya pikir demikian juga dengan Jane Austen pada saat ia menulis dan menyelesaikan novel ini. Kisah Mr. Darcy dan Ms. Elizabeth Bennet mewakili keadaan sosial yang masih timpang pada saat itu, dan bagaimana memperbaikinya. 

Cinta, seharusnya menjadi dasar pernikahan dua insan, dan perjodohan bukanlah hal yang baik untuk melanjutkan eksistensi manusia di dunia ini. Tajam! 

Sebuah Kutipan yang menarik dalam Adegan Pride and Prejudice (Sumber. Pinterest).

Film ini sungguh menyenangkan untuk ditonton. Cinematografinya indah! perpindahan kamera dari satu scene ke scene lainnya, cerdas! Sebagai penonton, saya puas!

Saya pun tidak segan untuk merekomendasikan film ini kepada siapapun yang ingin merasakan nikmatnya menonton film klasik. Sangat menyenangkan!

Sedikit Catatan

Kadang, saya terus mempertanyakan soal ini kepada diri saya sendiri, “Apakah saya ini salah jurusan?,” mengingat ketertarikan saya pada dunia sastra, yang memang mengisi sedikit dunia ilmu keperawatan yang menjadi profesi saya sekarang. Kadang pula, saya kesulitan melihat keuntungan dan manfaat dari setiap sastra yang saya baca, terutama bagi dunia praktik keperawatan yang menjadi sumber kehidupan saya setiap harinya. Kalau hanya karena alasan, “melarikan diri” sejenak, kok rasanya sangat tidak pas. Sama seperti ketika saya menonton drama romantik, Pride and Prejudice ini. 

Namun, rasanya saya sudah selesai dengan perdebatan mengenai dunia manfaat atau keuntungan seperti ini. Saya memilih untuk bersikap “bodo amat.” Saya adalah manusia, makhluk sosial, yang berada di atas label profesi atau pekerjaan saya saat ini. Saya membutuhkan sastra untuk mempertajam pandangan saya akan kehidupan masyarakat, yang juga merupakan salah satu tugas untuk dapat eksis di dunia ini. Kalau pun saya harus menjalani aktivitas yang sia-sia, memangnya kenapa?

Pride and Prejudice, setidaknya mengajarkan kepada saya kenikmatan menyecap dunia seni, dan sastra. Saya belajar tentang kehidupan, tentang manusia, tentang dunia-dunia kecil yang juga ditinggali banyak orang. Nikmati dan selanjutnya syukuri.

Bagaimana denganmu? Apakah kamu pun adalah penikmat sastra klasik ? Bagaimana pendapatmu tentang film atau Novel Pride and Prejudice ini?

6 pemikiran pada “Pride and Prejudice

  1. Film ini selalu muncul di feed halaman web tetapi aku abaikan setelah membaca ini rasanya pengen nonton apalagi di bagian filmnya ada tentang membaca, entah parameter itu menjadi buatku ingin menontonnya

    Disukai oleh 1 orang

  2. Ia, Kak. Selamat menonton. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari film ini. Menarik memang, dan tentu saja ini adalah alasan kuat mengapa buku ini menjadi buku bacaan wajib bagi mahasiswa/i sastra Inggris.

    Suka

  3. Aku penikmat sastra klasik, tapi menurutku sastra romantis jaman victorian gini menye2 banget, dah ga sesuai jaman hahaha, lebih suka buku karangan Jules Verne, atau kisah2 lainnya

    Disukai oleh 1 orang

  4. Hi, Kak.
    Setting novel ini memang pada zaman yang bagaimana begitu, dan dalam bukunya banyak yang bilang kalau bahasanya terlalu “lebay” begitu.
    Nah, ada yang rekomendasikan Jules Verne nih, okay untuk next reading dah !

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s