Skylar Grey dan Depresi


Kebanyakan dari kita mungkin akan mengenal Skylar Grey karena suaranya yang unik, dan kolaborasinya yang sangat luar biasa di dunia musik internasional. Skylar Grey sudah pernah melakukan kolaborasi dengan Dr. Dre dan Eminem, dan yang paling tidak bisa dilupakan adalah kolaborasinya dengan DC Comics dalam membawakan theme song untuk film Aquaman dan Venom. 

Skyler Grey

Tulisan ini mengandung unsur-unsur yang dapat memicu terjadinya tekanan psikologis, yang juga dapat memicu kembalinya circle depresif. Read with caution! 

Seperti saya biasanya, saya jatuh cinta pada lagu atau musik terlebih dahulu, baru mencari informasi tentang penyanyinya. Inilah persis yang terjadi ketika saya terus memutar ulang lagu dengan judul Everything I Need,” soundtrack untuk Aquaman. Dalam salah satu liriknya, yang tentu saja menyentuh saya dapat saya tuliskan sebagai berikut: 

“Like the sea 

She keeps kissing the shoreline..” 

(Skylar Grey, Everything I need)

Lirik ini sangat puitis, dan mengingatkan saya pada konsep konsistensi. 

Sejak lagu ini, saya pun menjadi sangat terobsesi dengan karya-karya yang ditelurkan oleh Skylar Grey. 

Hal menarik yang saya temukan adalah bahwa Skylar Grey adalah penyanyi, yang menyanyikan lagu dengan judul Coming Home.” Lagu ini sering diperdengarkan di stasium radio, dan kerap dijadikan lagu untuk scene-scene perpisahan atau kalah dalam perlombaan di stasiun TV. Lirik yang terkenal, seperti yang dapat saya tuliskan di sini adalah sebagai berikut: 

“…

I’m coming home

I’m coming home 

tell the world I’m coming home

Let the rain 

Wash away

All the pain of yesterday

I know my kigdom awaits

And they’ve forgive my mistakes…” 

(Skylar Grey, Coming Home).

Lagu ini, mengingatkan saya akan kisah terkenal dalam Injil, yaitu “Kisah anak yang hilang.” Simbol pertobatan dan kembalinya seseorang pada pelukan orang-orang yang dikasihinya. Lagu dan liriknya sangat menyentuh saya secara personal. 

Keunikan Vokal milik Skylar Grey sungguh menghipnotis para penikmat karyanya. Saya dapat melihat kombinasi yang unik dalam diri penyanyi ulung ini. Saya dapat merasakan kekuatan, dan juga kerapuhan dalam lagu-lagu yang ditelurkannya (Pandangan dikotomi yang memang adalah ciri khas saya). 

Akhir-akhir ini, Skylar Grey kembali membuat saya terperangah dengan lagunya, seperti Angel with Tattoos, Vampire at the Swimming Pool, Falling Part, dan Partly Cloudy with A Chance of Tears. 

Falling Part, sebagai contoh berisikan kisah yang dapat membuat orang yang sudah depress menjadi lebih depress lagi. Buktinya adalah pada liriknya sebagai berikut: 

“What happened to me?

I used to be strong

I can remember

I used to stand up tall

Lovers will desert you

Failure will destroy you..” 

(Skylar Grey, Falling Apart)

Entah apa yang sedang terjadi pada Skylar Grey akhir-akhir ini. Tapi saya sendiri, berkat pandemi yang melelahkan ini, mengalami masa-masa yang sungguh tidak nyaman juga. Saya sudah tidak bisa memperhitungkan berapa kali saya berada dalam keadaan yang sangat-sangat mengkhawatirkan, secara fisik dan bahkan psikologis. Tapi, sama seperti banyak orang di luar sana, the show must be going on! Hidup akan terus berjalan, tuntutan demi tuntukan akan terus ada. Mati satu, tumbuh seribu. 

Saya kemudian menyerah! 

Saya menyerah untuk mempermasalahkan soal hidup saya, dan betapa tidak beruntungnya itu.  Saya tidak memiliki pilihan lain selain bangun dan berjuang lagi dan lagi. Tidak peduli sudah beberapa hancur tubuh dan jiwa ini. Untuk keadaan seperti ini, saya harus percaya dan benar-benar harus menaruh kepercayaan pada kemampuan diri untuk memulihkan dirinya sendiri. 

Melibatkan Tuhan dalam hidup saya, adalah keputusan terbaik yang saya lakukan untuk dapat melewati masa-masa sulit tersebut. Jika bukan karena kepercayaan akan Tuhan, saya mungkin tidak akan dapat bertahan sampai detik ini. Hal ini membuat saya sungguh menyadari peran Tuhan dan kepercayaan akan Tuhan dalam hidup manusia. Manusia, bagaimana pun keadaan dan bentuknya, membutuhkan sosok Tuhan dalam hidupnya. 

Melibatkan Tuhan dalam hidup saya, adalah keputusan terbaik yang saya lakukan untuk dapat melewati masa-masa sulit tersebut.

Maria Frani Ayu

Lagu-lagu Skylar Grey, seperti Falling Part dan Partly Cloudy with A chance of Tears membuat saya mengingat masa-masa gelap itu. Sangat dan sungguh tidak nyaman memang. 

Sangat tidak nyaman karena secara jelas saya merasakan keadaan sesak, seperti tanpa udara dan gelap tanpa cahaya sedikit pun. Saya melihat ada banyak tangan-tangan yang terulur pada saya, tapi saya dengan sengaja membalikkan badan dan menutup setiap lobang udara di ruangan tempat saya berada. 

Isi pikiran saya berlari-lari seperti monyet. Loncat sana dan loncat sini. Sangat keras bekerja di dalam sana. Tapi, nampak sekali berlari-lari pada tempat dan lingkaran yang sama. Seakan ada rantai yang mengikat kaki, pikiran-pikiran saya berlari pada satu tempat dengan pola yang sama. Ruminasi. 

Photo by Alex Fu on Pexels.com

Malam-malam saya pun suck! Saya tidak dapat beristirahat dengan tenang. Kadang, saya dapat terbangun tengah malam, dan tidak tidur lagi kemudian. Bahkan dalam mimpi-mimpi saya, saya seakan dikejar-kejar oleh begitu banyak kaki-kaki yang tak kasat mata. Saya tidak merasakan hangatnya kedamaian, dan hari-hari saya seperti kepura-puraan. 

Melarikan diri pada seni, filsafat, dan bacaan-bacaan tentang zen, membantu saya untuk dapat bertahan. Saya sungguh bersyukur karena sampai titik ini pun, penyertaan Tuhan masih dapat saya rasakan. Entah bagaimana, saya kerap menemukan tulisan dan bahkan buku-buku bacaan yang dapat menguatkan tubuh saya untuk bertahan dan melangkah lagi. 

Penderitaan dan rasa sakit terus saja saya rasakan. Saya tidak dapat menghindarinya, dan bahkan tidak dapat menghilangkannya dari hidup. Frustasi karena hasil yang seperti ini, saya pun memutuskan untuk menjadikannya bagian dari saya. Saya rangkul rasa sakit dan penderitaan ini, dan saya jadikan seperti sahabat yang akan terus mengingatkan saya akan makna hidup. 

Ketika saya berhadapan dengan penderitaan dan rasa sakitnya, saya putuskan untuk duduk bersila bersamanya. Saya mengamati apa yang terjadi, bagaimana tubuh saya bereaksi atas rasa sakit ini dan bagaimana perlawanan yang datang dari diri saya sendiri. Saya tidak ingin memberikan intervensi apapun, dan hanya mengamati. 

Photo by Eric Smart on Pexels.com

Saya kerap mengibaratkan diri saya sebagai seorang yang sedang memancing di pinggir sungai. Duduk dan mengamati apa yang sedang terjadi pada sungai dan alirannya. Saya tidak berniat untuk mengubah alur airnya, atau melemparkan batu ke atas permukaannya. Saya hanya duduk mengamati apapun yang ada di permukaannya, mengalir dan terus mengalir sampai jauh dari pandangan mata saya. Seperti ini lah saya mengamati setiap respon yang muncul dalam diri saya, akibat pertemuan saya dengan rasa sakit dan penderitaan. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Sampai akhirnya saya tidak merasakan rasa sakit itu lagi, dan yang tersisa adalah benar-benar permasalahan yang sesungguhnya, yang perlu segera saya selesaikan dengan menggunakan akal. 

Skylar Grey sungguh adalah penyanyi (dan juga penulis lagu) yang berbakat. Berkat lagunya, yang saya konsumsi sepanjang minggu yang berkabut di kota Banjarmasin ini, saya merasakan begitu banyak aliran emosi yang juga saya golongkan sebagai sesuatu yang nostalgic

Bagaimana denganmu? Apakah kamu pun adalah penggemar lagu-lagu Skylar Grey? Bagaimana pendapatmu dengan lagu-lagu yang baru saja Ia terbitkan? Apakah kamu pun merasakan perasaan yang sama seperti saya? 

PS.

Sebenarnya, saya cukup berdebat dengan diri saya sendiri ketika memutuskan untuk memberi judul tulisan ini dengan tambahan kata, depresi. Saya tidak ingin ada kontroversi atau perdebatan yang tidak-tidak karena judul tulisan ini. Tapi, kemudian saya putuskan untuk menuliskannya demikian.

Saya perlu mengingatkan pembaca, bahwa jika ada diantara teman-teman sekalian yang merasakan tanda dan gejala yang mengkhawatirkan, seperti tanda dan gejala depresi, mohon segera mengkonsultasikannya dengan petugas kesehatan yang sangat paham dan ahli. Say no pada self-diagnosis! berkonsultasi pada orang yang tepat akan sangat membantu penanganan yang tepat pula. Good luck!

7 pemikiran pada “Skylar Grey dan Depresi

  1. Stuju banget sama pernyataan kak Ayu bahwa melibatkan Tuhan dalam hidup kita mau senang ataupun sulit merupakan pilihan yang tepat 🙂

    Terlepas dari pembahasan skylar grey, saya lebih senang pembahasan kakak mengenai depresi. Bener sih, ketika kita mendapatkan masalah, hadapi! Duduk bersila sama masalah dan hadapi, dia maunya apa sih?
    Karena semakin kita lari, ya semakin dikejar jg sama si masalah, jadinya capek hati jiwa dan raga 😀

    Disukai oleh 1 orang

  2. Terima kasih sudah setuju dengan pernyataana tersebut, Kak.

    Setuju, Kak. Cepat atau lambat, masalah yang datang pada kita, harus kita hadapi dan selesaikan. Ibarat perangko, masalah itu lengket! Semangat, Kak!

    Terima kasih karena sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Kak.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Sepantasnya manusia harus melibatkan semua keputusan kepada Tuhan, karena tuhan lah Maha menyelesaikan masalah. Aku pernah melibatkan tanpa Pencipta ini membuatku salah mengambil keputusan. Tetapi dari situ aku mendapatkan sebuah tamparan untuk setiap masalah apapun libatkan Tuhan. Jangan spekulasi sendiri dengan ilmu yang di punya😁

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s