Venom: Let there be a Carnage


Judul Film: Venom: Let there be a Carnage 

Sutradara: Andy Serkis

Waktu: 97 Menit

Poster “Venom::Let there be Carnage” (Sumber. Pinterest)

Ketika film pertama Venom terbit, saya adalah salah satu fans yang tergila-gila dengan film ini. Saya sangat terkesan dengan kerja keras sang actor,  Tom Hardy. Lalu, berita mengenai diluncurkannya film kedua dari seri Venom ini, sungguh membuat saya tidak sabar!

Baca juga: Venom: Sosok Monster yang menjadi Superhero dan pelajaran baik dibalik Symbiote yang sangat mematikan.

Saya sudah tidak sabar melihat perilaku simbiosis yang dilakukan antara si parasit-Venom, dengan Inang-nya (Eddie Brock). Seperti dugaan saya, “Venom: Let there be a carnage” mengandung begitu banyak adegan-adegan kocak, konyol dan sangat menghibur. Siapa yang menduga kalau Venom-si Alien, bisa sekocak itu hidup di dunia Homo Sapiens, sambil terus mempertahankan hubungan baiknya dengan sumber makanannya. 

Lucu sekali melihat bagaimana Venom menolak untuk mengonsumsi ayam-ayam yang sengaja dipelihara sebagai sumber makanananya. Apalagi setelah mengetahui bahwa Venom menjalin hubungan baik dengan ayam-ayam ini. Ironis hidup sang parasit! 

Venom adalah sosok villain! Nampak sekali justifikasi ini dalam film Spiderman. Tapi, dalam filmnya sendiri, Venom dilihat sebagai seorang “hero”. Venom menyelamatkan banyak orang dari potensial kejahatan, dan membasmi kejahatan. Terdengar sebagai lelucon yang tidak masuk akal. 

Venom, entah bagaimana kemudian berkembang biak dan memunculkan parasit baru dengan kepribadian yang berbeda (Carnage). Musuh ini lahir dari Venom sendiri. Lalu, entah bagaimana kelahiran parasit baru ini malah melahirkan kepribadian yang jauh berbeda dengan sosok Venom. The opposite side of the Venom! 

Hal menarik yang dimunculkan dari film ini adalah bagaimana Venom bisa “merajuk” dengan Inangnya. Meksipun sifatnya adalah sebagai Parasit, tapi Ia ternyata memiliki perasaan juga. Ia bisa tersinggung, dan mengharapkan permintaan maaf dengan tulus. Lucu sekali. Apa mungkin karena Venom sudah lama tinggal diantara manusia, yang juga menjadi alasan bagaimana Ia dapat berpikir dan bahkan berperasaan seperti manusia? Lelucon dari sang penulis naskah yang cerdas menurut saya.

Carnage dan Ayahnya, Venom (Sumber. Pinterest).

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang nampaknya tidak bisa dijawab oleh penonton seperti saya. Pertanyaan seperti, bagaimana Venom bisa berkembang biak dan memunculkan parasit lain dengan kepribadian yang berbeda? Lalu, bagaimana Venom dapat melatih pengendalian dirinya dan tidak mengonsumsi manusia? 

Sebagai penonton, saya hanya berharap agar film-film Venom yang akan datang dapat membantu menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Mungkin penonton diminta untuk duduk bersabar, menyediakan kocek yang cukup untuk menonton film-film yang akan datang. Strategi bisnis yang cerdas.

Saya sedikit mencari hasil review dari beberapa kritiskus film, dan nampaknya ada banyak sekali variasi penilaian untuk film ini. Ada yang menilai baik sekali, dan ada yang menilai kebalikannya. Saya rasa, ini sama seperti penilaian saya juga. I have mixed feelings about this movie! Dalam film ini, ada beberapa adegan yang sangat-sangat menarik, ada ada pula yang hanya biasa-biasa saja bahkan terkesan membosankan. Kalau harus memilih, saya lebih menyukai Venom versi pertama. Saya lebih mendapatkan feel-nya! Tapi, saya menyadari bahwa perubahan itu harus ada, sama seperti film ini. 

Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah menonton film ini? Bagaimana tanggapanmu? Apakah kamu memiliki pendapat sama seperti saya? 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s