Diantara Taeyeon, Saya dan Rasa Cemas


Saya adalah penggemar lagu dan musik dari Korea, seperti yang diproduksi oleh Taeyeon dan labelnya SM Entertaintment. Saya adalah fans SNSD sebelum saya memilih Taeyeon sebagai salah satu penyanyi favorite dari negeri ginseng ini. 

Saya menyukai vocal range milik Taeyeon, dan juga bagaimana Ia secara konsisten melahirkan banyak karya yang menyentuh banyak orang. Taeyeon, seorang penyanyi berbakat yang tidak hanya melahirkan karya dengan tema cinta saja, tapi juga persahabatan dan bahkan tentang kesehatan mental. 

Meskipun mayoritas lagu-lagu Taeyeon dalam bahasa Korea (Hangul), tapi berkat adanya terjemahan dari lagu ini, saya pun dapat ikut memahami setiap baris lirik lagunya. Menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh penyanyi.

Berbicara tentang Taeyeon, kita pun tidak akan begitu saja terlepas dari keadaan mental-emosionalnya yang juga sempat diberitakan oleh media. Taeyeon adalah seorang idol yang memiliki latar belakang masalah kesehatan mental, dan berjuang keras untuk dapat tetap produktif dan sehat. Perjuangannya nampak jelas sekali dari karya-karya yang Ia lahirkan, dan melihat kembali jejak-jejak perjuangannya untuk menjadi apa yang dikatakan oleh masyarakat normal sebagai “keadaan yang normal,” sungguh sangat menginspirasi. 

Tulisan ini lahir ketika saya memikirkan tentang kecemasan sambil mendengarkan secara bergantian lagu yang berjudul “Blue” dan “Four season”, karya Taeyeon yang menurut saya sangat fantastis.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Saya cukup bersyukur karena mengenal sedikit tentang kecemasan dan bagaimana hal ini dapat mengubah hidup seseorang dengan sangat-sangat drastis. 

Saya termasuk salah satu yang percaya bahwa kecemasan memang adalah alasan mendasar akan perubahan hidup manusia. Saya termasuk ke dalam kelompok individu yang hidupnya berubah karena latar belakang cemas dan kecemasan.

Hidup saya dalam beberapa tahun ini adalah akumulasi dari begitu banyak kecemasan dan penderitaan yang sungguh menjadi alasan setiap tindakan yang saya ambil untuk menikmati pengembaraan saya di dunia ini. 

Saya menghindari apapun yang ada hubungannya dengan penyebab dari rasa cemas ini. Saya bahkan tidak ingin menengoknya atau pun memberikannya perhatian. Saya berusaha untuk melupakannya dan menghilangkannya dari dalam diri saya meskipun itu hanya sifatnya sementara. Menghilangkan sejenak pandangan akan trigger atau penyebab rasa cemas ini, membuat saya setidaknya bisa bernafas, meskipun setiap tarikan nafas membuat paru saya rasanya sakit bak tertusuk duri. Saya tidak benar-benar bisa merasakan kebebasan, dan saya terikat pada keadaan ini. 

Penderitaan yang saya rasakan, sebenarnya bisa saya hentikan dan saya ubah segera. Tapi, entah mengapa dan bagaimana, saya menikmati keadaan tercekik seperti ini. Saya melarikan diri, tapi tidak juga kembali ke titik di mana saya harusnya berhenti. 

Saya nampak bebas, tapi dalam pikiran saya, saya adalah orang yang terpenjara oleh ketakutan dan kecemasannya. Saya memiliki titik ini dalam diri saya. Kerinduan untuk lepas dari jerat yang sungguh-sungguh menyedihkan. 

Dalam salah satu lirik lagunya yang terkenal, Taeyeon pernah mengatakan demikian, 

“My blue heart spreads and becomes a withered scent
I call your name but there’s no answer
It rings like an echo

You’re my blue
Just like always
Only filling me with longing
It spreads but it’s beautiful

My days are the same
My smiles are filled with you
But when I get farther away
My sighs grow deeper…” 

Taeyeon, Blue.


“You”, bagi saya adalah untuk lobang besar dalam diri, dan “You” untuk pemulihan yang sungguh sangat saya dambakan saat ini. Pada saat saya menuliskan tulisan ini tepatnya. 

Saya merasa, dengan menyamakan gerak hati ini dengan lagu Taeyeon dengan judul “Blue” ini, saya menemukan kekuatan untuk keluar dari lingkaran setan ini. Saya memang sedang menari dengan rasa tidak nyaman dalam hati ini, tapi tarian ini mendorong saya untuk bergerak menuju pintu keluar. Membebaskan diri. 

Photo by Jackson David on Pexels.com


Semakin ke sini, saya menyadari bahwa apapun yang terjadi, dan bagaimana pun itu tepatnya, kita harus belajar untuk hidup berdampingan dengan masalah-masalah kesehatan jiwa yang tidak bisa kita elak ada, dan hadir dalam hidup kita masing-masing. Kita tidak bisa benar-benar melepaskannya atau menghilangkannya. Justru, kita harus hidup satu tempat duduk dengannya. 


Kadang, pandangan ini sangat memberatkan. Tapi, kenyataannya memang demikian, berat. Kita tidak pernah benar-benar lepas dari masalah dan rasa berat ini. Jadi, satu-satunya cara untuk berhadapan dengan masalah ini adalah dengan menghadapinya dengan kuat dan berani.

Tidak ada jalan keluar lain selain jalan keluar ini, menghadapinya dengan berani. Sampai selesai, sampai benar-benar habis, dan lepas. 


Bagaimana saya berhadapan dengan rasa cemas? 

Pertama, saya akan mengubah pandangan atau persepsi saya tentang trigger atau penyebab rasa cemas ini. Jika Ia nampak seperti singa, maka saya akan mengubahnya menjadi anak kucing terlebih dahulu. Membuatnya jinak di pandangan saya. 


Saya ingat sekali salah satu adegan dalam film Kung Fu Panda, pada saat itu Po harus berhadapan dengan musuh untuk memperebutkan the dragon scroll. Po sempat cemas dan sudah merasa sangat tidak sanggup! tapi, Ia kemudian mengubah dragon scroll dalam pikirannya menjadi gambaran “makanan” yang membuatnya nyaman dan melanjutkan pertarungan.

Tindakan “mengubah” ini adalah tindakan yang sangatlah luar biasa! Tindakan ini yang saya contoh ketika berhadapan dengan masalah kecemasan dalam pikiran. 


Tindakan ini mungkin terdengar seperti tindakan penipuan yang dilakukan pada diri sendiri. Tapi, why not? Pikiran kita pun sedang bermain-main dengan kita ketika keadaan cemas melanda, so tidak salah juga mengikuti permainan ini. 


Mendefinisikan hubungan saya dengan rasa cemas. 


“The four seasons come and go

I gave you my winter and summer too
You were my world but I will let you go
Did I even really love you?

We missed each other
We are sick of each other
Those long days and nights
Before I rust
Let’s shine again
The two seasons are changing

I gave you the world
Because you were my everything
I gave you my winter and summer too
In those hot and cold seasons
Did I even really love you?” 

Taeyeon_Four Season


Hubungan saya dengan trigger rasa cemas, dan gejala rasa cemas yang saya alami dapat dianalogikan seperti hubungan kasih antara saya dan empat musim (yang sayangnya juga belum pernah saya rasakan di Indoensia). Persis sama seperti yang dituliskan dalam lirik lagu di atas.

Hubungan ini putus-nyambung dan tidak tetap. Kadang, saya merasa sangat dekat dengan rasa cemas ini, dan kadang saya dapat menari-nari bersamanya. Kadang, saya bisa sesak nafas dan nyaris berakhir dalam kesengsaraan, tapi pada waktu yang berbeda, saya dapat berdansa bersamanya  dengan latar belakang irama jantung yang juga membuat saya menikmati lantai dansa dengan sungguh-sungguh. 


Aneh! 


Tapi, saya saya nikmati saja. Saya nikmati setiap gerakannya, sambil mencatat dan mempelajari setiap gerakannya. Saya belajar untuk hidup bersama rasa cemas yang terjadi dalam hidup yang sungguh hampa ini. Kadang, saya memang mengeluh. Tapi, kadang saya pun bersyukur atas apa yang saya alami dan apa yang saya rasakan. Saya belajar banyak! dan itu yang menjadi incaran saya selama ini. Belajar. 


Tiada Akhir

Sungguh, rasa cemas yang saya rasakan dan yang saya alami, tidak bisa begitu saja saya hilangkan. Terutama karana alasan, saya pun belajar dari perasaan dan pengalaman rasa cemas ini. 


Saya memilih untuk berjalan bersamanya. Beriringan. Saya ajak berdialog, dan saya ambil kesempatan ini untuk bertumbuh sebagai manusia. Pengembaraan di planet ini menjadi sangat menarik dan menyenangkan karena hal-hal yang receh seperti ini. 

Photo by Tobi on Pexels.com


Saya bersyukur kepada Taeyeon dan karya-karyanya. Saya dapat merasakan pengalaman seperti yang sudah saya tuliskan, dan belajar sesuatu yang indah dan membuat saya merasa kaya. 

Kamu sendiri, bagaimana? Apakah lagu-lagu Taeyeon menyentuhmu seperti yang terjadi pada saya? Apakah kamu juga penggemar karya-karya Taeyeon?

7 pemikiran pada “Diantara Taeyeon, Saya dan Rasa Cemas

  1. Lagu four seasons enak banget , sering banget aku setel lagu gituan. Oh iya satu lagi kak judulnya I love My self udah pernah lihat MVnya san disitu adegan Taeyeon lagi ngaca persis kayakaku yang udah muak sama kehidupan sekarang * hehe 🙂 padahal aslinya saya tuh nggak suka berdiam diri di depan ngaca meskipun cuman sekadar nyisir rambut aja 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  2. Terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar Mbak Alya. Wah…sesama penggemar K-Pop harus saling mendukung ini.
    Ia, lagu-lagu milik Taeyeon memang membawa kita pada dimensi yang berbeda. Setiap MV beda! tidak pernah ada yang sama atau mirip. Senang banget! puas dah sebagai penggemar.

    Suka

  3. Saya dapat pelajaran baru lagi.
    Pada akhirnya, untuk keluar dari kecemasan, saya harus mau ‘menikmati’ kecemasan itu sendiri. Setuju: “Justru kita harus hidup satu tempat duduk dengannya”.
    Terima kasih dan salam.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s