(Ulasan Buku): Sihir, Ganja, Miras, Buku dan Islam Karya AS Rosyid


Melihat iklan buku yang diterbitkan di akun Instagram milik Bang Ical, saya tertegun lama. Saya mencoba menyelami mengapa Bang Ical, editor dan tim produksi Mera Books memilih judul “Sihir, Ganja, Miras, Buku dan Islam.”

Beberapa prediksi lahir dengan sendirinya seperti ini,

“Mungkin karena ada lima tema yang dibahas dalam buku sebanyak 157 halaman ini,

Mungkin karena lima bagian ini melambangkan lima sila dalam Pancasila. Meskipun tidak berurutan, lima kata ini melambangkan lima sila dalam Pancasila.

Mungkin ini hanya akal-akalan Bang Ical atau Editor tulisan saja. Semakin absurd, semakin menarik pembaca!

Dugaan demi dugaan lahir hanya karena judul buku ini, yang memang bekerja untuk menarik saya yang kemudian memesan, membeli dan melahap buku ini satu demi satu.

Bang Ical berutang penjelasan mengenai makna dibalik judul buku ini kepada pembaca. Saya masih kesulitan menarik garis merah untuk menghubungkan kelima kata ini.

Photo by Larissa Farber on Pexels.com

Melahap

Saya senang menganalogikan kegiatan membaca sebagai kegiatan untuk melahap sesuatu (makanan). Menggunakan tidak hanya indra penglihan saja, tapi juga perasa atau pengecap. Menggerus, melumat sampai habis setiap sajian menarik yang sudah disiapkan oleh koki atau dalam hal ini adalah penulis. Ya, penulis adalah koki yang bekerja untuk mengelola bahan-bahan mentah berita atau isu-isu, dan kemudian berusaha keras untuk menyajikannya semenarik dan serenyah mungkin bagi pembaca. Saya merasa sangat beruntung sekali menjadi salah satu pembaca karya-karya Bang Ical. Tidak pernah rugi atau merasa merugi.

Sama seperti tulisan-tulisan milik Bang Ical di Blog-nya. Tulisan dalam buku ini adalah tulisan-tulisan pendek (atau Essay) yang sangat-sangat berbobot. Lalu, ciri khas tulisan Bang Ical yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja adalah kemampuannya untuk menyematkan pesan untuk merefleksikan diri. Pesan ini sederhana, secara lebih jelasnya adalah agar pembaca dapat memikirkan sendiri apa yang harus dipikirkan, diputuskan dan dilakukan. Brengsek banget ngak nih!

Namun, inilah mengapa setiap tulisan-tulisan milik Bang Ical sangat menarik bagi pembacanya. Isu-isu receh dan kadang luput dari perhatian media-media besar di tanah air, dapat dijadikan sebagai bahan bacaan yang renyah dan nyaman. Pembaca diajak untuk berpikir dan melihat ada sisi lain yang membutuhkan perhatian dan juga solusi. Ada suara-suara yang tak terdengar, yang menarik kita untuk mendekat dan membuka telinga.

Setidaknya, ada tiga hal penting yang menjadi tema besar tulisan ini. Saya menarik kesimpulan ini secara personal setelah menyelesaikan buku ini. Ketiga hal tersebut adalah mengenai 1) Isu lingkungan hidup, 2)Masyarakat atau komunitas-adat dan 3) Agama.

Isu-isu tentang lingkungan hidup, dapat dilihat dengan sangat jelas dalam tulisan-tulisan seperti Ganja, Kertas, dan Ketakutan-ketakutan Kita (Hal 3), Melunasi Pohon (Hal 9), Memaknai Ulang Green Jobs (Hal 23), Melihat Pangan dari Mata Vandana Shiva (Hal 15). Sedangkan, isu-isu tentang masyarakat sosial-adat, dapat dilihat pada tulisan-tulisan seperti Sihir Orang Lombok dan Hal-hal yang Bisa dipelajari darinya (Hal 71), dan Mengetahui Kapan Kematian Datang (Hal 89).

Membaca tentang masyarakat adat, saya jadi teringat dengan buku dan tulisan-tulisan karya Mbak Riyana Rizki, Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan. Orang-orang dari tanah Lombok sepertinya memiliki kebanggaan yang luar biasa dengan tanah lahirnya. Saya kagum, dan sungguh senang menyadari kenyataan ini. Sangat inspiratif.

Tulisan-tulisan mengenai Agama, dapat dilihat jelas dari halaman 117-152 dalam buku ini. Sedangkan tulisan dengan judul, Lebih Baik Tidak Usah Menikah Sama Sekali (Hal 153) menurut saya adalah bonus untuk pembaca, untuk melihat ke dalam diri, haruskah ikut perlombaan pernikahan atau hidup selibat saja. Ini isu social yang kemudian dilahirkan kembali secara personal.

Photo by picjumbo.com on Pexels.com

Gaya Menulis

Saya sangat terkesan dengan gaya menulis Bang Ical dalam tulisan yang berjudul, Aku, Kamu, dan Legalisasi Miras (Hal 29). Dalam tulisan ini, Bang Ical memang mau protes, tapi protesnya dilayangkan dengan sangat elegan. Dialog dari penulis kepada kekasihnya adalah trik yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Ini gaya menulis yang sangat-sangat apik dan cerdas menurut saya.

Lalu, dalam tulisan dengan judul, Keluhan Nyi Roro Kidul (Hal 43), bisa-bisanya ada dialog nyeleneh dengan tokoh yang terhormat seperti Nyi Roro Kidul.

Apakah Bang Ical ini tidak takut dikutuk?, batin saya ketika membacanya.

Tapi sungguh, saya paham dengan maksud dari penulis.

Tulisan mengenai Nyi Roro Kidul ini, mengingatkan saya pada salah satu adegan dalam film Aquaman, yaitu ketika penghuni laut mengirimkan sampah-sampah ke penghuni daratan. Kemarahan para penguasa laut waktu itu, persis seperti apa yang dtuliskan dalam tulisan mengenai Keluhan Nyi Roro Kidul ini. Apakah inspirasi tulisan ini dari film ini? Humm.

Penulis

Membicarakan mengenai buku atau tulisan-tulisan milik Bang Ical, tidak akan lepas dari sosok si penulisnya. Ya, Bang Ical sendiri.

AS Rosyid atau yang secara akrab saya panggil dengan Bang Ical adalah seorang penulis yang sangat produktif dan berani. Saya tidak ingat bagaimana kami dapat saling mengenal, tapi yang saya tahu pasti, kami pasti berkenalan melalui tulisan. Blog milik Bang Ical, adalah harta karun untuk penikmat tulisan-tulisan yang ringan dan juga dalam karya pikiran penulisnya. Saya selalu berhasil dihibur dengan humor unik yang disematkan dalam tulisan-tulisan milik Bang Ical. Bakat yang luar biasa!

Pada lingkungan tempat saya tinggal, seseorang itu dikenal karena gelarnya. Hal ini tidak berlaku pada Bang Ical. Kemampuan Bang Ical untuk berpikir dan bertindak, sudah melebihi gelar masternya. Saya setuju untuk mengatakan bahwa Bang Ical adalah seorang yang mendedikasikan diri untuk menjadi seorang pembelajar kehidupan. Bang Ical lahir dan dibesarkan oleh lingkungan dan masyarakat yang membuatnya belajar untuk pertama kalinya bukan dari buku, tapi dari lingkungan dan masyarakat sosial yang mengelilinginya. Bang Ical tahu kekuatannya, dan beliau menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Tulisan-tulisan yang beliau terbitkan dalam buku ini, jelas sekali menggambarkan latar belakang seperti ini.

Lebih lanjut ketika membaca buku ini, saya ingat perjumpaan dengan seorang sahabat beberapa waktu yang lalu. Sang Sahabat berkata, “Kegelisahan seseorang nampak sekali kehadirannya dalam bentuk tulisan.” Saya mengaminkan perkataan ini. Tulisan-tulisan ini bahkan menjadi gambaran jelas rasa cemas yang menghantui dan mendorong Bang Ical untuk melakukan sesuatu.

Ketika saya menonton video dari Youtube Komunitas Teman Baca, dengan judul, Ulas Buku “Sihir, Ganja, Miras, Buku dan Islam” karya AS Rosyid. Saya dengan sungguh memahami dan mengerti alasan mendasar mengapa pada akhirnya tulisan-tulisan Bang Ical diterbitkan dalam sebuah buku.

Kecemasan, yang juga berjalan berbarengan bersama ketidakberdayaan dan keprihatinan.

Kalau menelaah setiap tulisan yang diterbitkan Bang Ical, mudah sekali bagi kita untuk melihat bahwa inspirasi setiap gurat tulisannya adalah dari masyarakat dan lingkungan tempatnya berada. Isu-isu sosial dan lingkungan hidup adalah bahan kajian utamanya. Meskipun demikian, Bang Ical memang dianugerahi kemampuan untuk mengolah hal yang nampak biasa-biasa saja menjadi hal yang luar biasa. Ke depan, mungkin isu tentang tissue di meja makan pun akan menjadi bahan tulisannya. Kreatif memang! Salut!

Pada akhirnya, saya hanya ingin mengatakan bahwa saya sungguh puas dengan tulisan-tulisan yang disajikan dalam buku ini. Beberapa tulisan rasanya familiar diingatan saya, dan benar juga, tulisan-tulisan dalam buku ini ternyata diramu kembali dengan cara berbeda, untuk disajikan dengan lebih legit lagi dalam bentuk buku. Beberapa tulisan memang diambil dari Blog beliau.

Untuk menutup tulisan ini, saya hanya dapat berkata seperti ini, “Indonesia sungguh beruntung memiliki pemikir muda, yang juga bertindak sesuai dengan isi pikirnya. Lombok sungguh beruntung memiliki putera daerah seperti beliau ini.”

Buku “Sihir, Ganja, Miras, Buku dan Islam” Karya AS Rosyid.

Dimanakah harus memesan?

Saya, secara personal langsung memesan buku ini dari Toko Buku Cintaiotakmubook, dengan admin yang sangat peduli dan baik hatinya, Mas Abdul Ghofur (0895-1477-2615).

Saya sudah pesan dan membaca buku ini, kamu kapan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s