Big Bang-Still Life


Perubahan, meskipun adalah sesuatu yang sangat diharapkan, adalah sesuatu yang tidak nyaman. Ini adalah kenyataan yang sudah sejak dulu saya sadari. Tapi, sampai saat ini, masih gagal saya jalani.

Penolakan demi penolakan datang dari dalam diri, sebagai bentuk protes karena niatan saya untuk keluar dari zona nyaman. Tubuh saya, sudah begitu lama berada dalam keadaan sangat tidak nyaman, stress dalam waktu yang sangat lama!

Saya bertanya, sampai kapan saya akan bertahan?

Big Bang, Still life

Ketika Big Bang mengeluarkan single terbaru mereka tahun ini, pada April. 05. 2022, saya dilanda oleh perasaan haru dan juga bersemangat pada suatu waktu. Big Bang itu, seperti simbol kejayaan dan kejatuhan saya juga. Mendapatkan kabar terbaru dari mereka, sungguh membuat hati saya hangat dan nyaman.

Perubahan: Empat Musim

A sunset year, a blooming spring
A midsummer night’s dream
Feeling fall, then winter’s snow
Four times a year, then spring comes again

(Big Bang-Still Life)

Sama seperti Taeyeon dengan Four Seasons-nya, Big Bang pun menggunakan perumpamaan tentang musim untuk membawa topik tentang perubahan.

Musim panas, musim semi, musim gugur dan musim dingin. Keempat musim, yang melambangkan perubahan dan juga tindakan untuk melepaskan.

Big Bang seolah-olah ingin mengatakan bahwa seberapa indahnya sebuah musim, kita tidak dapat berlama-lama berada di musim ini. Bumi terus berputar, dan perubahan tidak terelakkan. Kita pun harus bergerak menuju gerbang perubahan yang baru. Musim yang baru.

Kita bisa saja meletakkan hati kita pada energi musim panas dan musim semi, tapi kita pun harus bersiap untuk bergerak menuju musim gugur dan musim dingin. Perubahan adalah mutlak hukumnya.

Photo by aj povey on Pexels.com

Melepaskan Pergi

Goodbye now to my beloved young days

Our beautiful spring, summer, autumn, and winter

(Big Bang, Still Life)

“Hello” dan “Good Bye” adalah dua kata yang harus menjadi biasa untuk semua orang. Kita sepertinya tidak dapat berlama-lama tinggal dan hidup dengan “Hello,” dan melupakan kenyataan bahwa kita pun harus menyambut “Good Bye.”

Big Bang, yang bisa dikatakan sebagai salah satu group pelopor terbukanya aliran K-pop kepada dunia, tidak luput dari perubahan dan kenyataan untuk melepas pergi. Waktu terus berjalan, perubahan terus dirasakan, dan mereka pun harus berubah.

Member yang ada di group band ini, berubah. Demikian juga dengan fans mereka, VIP. Perubahan yang tidak terelakkan ini, memunculkan tantangan untuk berpindah ke titik yang lainnya. Move on!

Mengucapkan selamat tinggal pada masa-masa yang lalu, dan menyambut masa yang baru.

Inilah hidup!

Photo by Brandon Imbriale on Pexels.com

Tidak ada yang sia-sia

Four season with no reason”
After the rain, instead of sadness comes a happy end
A seven-coloured rainbow slanted like a sneer

Passed the seasons without maturing

I can’t mature (still) Immature and long gone without maturing, Marchin’ Vivaldi

Tchaikovsky, greeting the seasons of today

Finally, the four at last

(Bing Bang, Still Life)

Kadang, apa yang terjadi pada kita, terjadi karena tidak ada alasan apapun dibaliknya. Sama seperti ini,

“Kalau mati, ya dikubur.”

Dunia memang sudah menjalankan hukum ini sejak awal kehidupan ada. Jauh sebelum kesadaran manusia akan kehidupan di alam semesta ini ada. Ini adalah cara alam semesta bekerja.

Big Bang juga mungkin memiliki pemikiran demikian ketika berkata, “Four seasons with no reason.” Kadang, memang tidak ada alasan, hanya memang harus terjadi demikian. Bekerja seperti nature-nya.

Hal menarik lagi adalah, pernyataan seperti ini,

After the rain, instead of sadness comes a happy end
A seven-coloured rainbow slanted like a sneer..”

Bing Bang, Still Life

Meskipun nampak seperti “sesuatu yang seharusnya” demikian terjadinya. Kita tidak dapat melepaskan kesan manusiawi dari seorang manusia yang ingin memberikan makna dan arti untuk setiap kejadian atau peristiwa yang Ia alami dalam hidup. Inilah mengapa, meskipun dalam keadaan yang nampak tidak nyaman dan tidak menguntungkan, kita masih bisa melihat ada Pelangi di kala hujan, atau cahaya ketika petir dan guntur menyambar. Selalu ada oase di padang gurun. Kegelapan tidak dapat tinggal atau hidup sendiri tanpa cahaya.

Hukum keseimbangan terjadi di alam semesta ini.

Lalu, meskipun perubahan sering terjadi di sekitar kita, ada titik yang mungkin tidak ikut berubah. Titik itu adalah diri kita sendiri. Manusia itu sendiri. Manusia yang membeku dan mengabaikan perjalanan dan pergerakan waktu.

I can’t mature (still). Immature and long gone without maturing..”

Big Bang, Still Life

Meskipun kontradiksinya demikian. Itulah hidup.

“Vivaldi” dalam lirik lagu Still Life, kemungkinan besar merujuk pada Antonio Lucio Vivaldi. Seorang guru dan seorang pastor Katolik. Lebih lagi, beliau adalah seorang pemain musik dan pencipta lagu yang handal. Karyanya yang terkenal, berjudul “the Four Seasons”.

Vivaldi dalam karyanya the Four Seasons, mengambil inspirasi dari empat musim, yaitu Spring, Summer, Autumn dan Winter. Oleh Vivaldi, masing-masing musim menjadi inspirasi untuk melahirkan karyanya, seperti concerto No. 1 in E Mayor, “La primavera” (Spring), yang juga dibagi menjadi bagian Allegro, Largo dan Allegro lagi. Demikian seterusnya untuk concerto nomor dua, tiga dan empat.

Sebagai tips, ketika menikmati music the Four Seasons dari Vivaldi untuk keempat musim ini, akan sangat menarik ketika juga membaca sonnet-nya. Kita akan langsung dibawa pada keadaan mental imaginative yang sangat menyenangkan!

Big Bang, sebuah group band yang terdiri atas lima personal harus menerima keadaan bahwa salah satu member-nya sedang mengalami masa-masa pencobaan yang sulit. Mungkin karena alasan ini, lirik “Finally, the four at last” diletakkan di sana.

Sebagai fans, saya menerima keadaan ini, dan dalam hati masih berharap agar mereka dapat kembali bersama, berlima seperti sebelumnya. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik ini, tidak masalah bagi saya. Saya akan menjalani hidup dengan semaksimal mungkin, sambil membawa torch harapan bahwa suatu saat akan tiba waktu itu.

Big Bang juga ingin menunjukkan bahwa, sungguh, tidak ada waktu yang sia-sia. Tak ada yang lewat begitu saja dan tidak meninggalkan jejaknya. Manusia, meskipun sudah pergi, jejak karbonnya masih ada. Jejak energinya masih terasa dan beterbangan di mana-mana, seperti debu.

Meskipun nampak sudah pergi, hilang dan tidak akan kembali, jejak-jejak hidupnya abadi. Ini adalah kenyataan.

Jadi, sungguh tidak ada yang sia-sia atau berakhir dengan kesia-siaan. Semuanya ada arti dan maknanya, semuanya meninggalkan jejak.

Photo by Kaboompics .com on Pexels.com

Kenangan itu menyakitkan, tapi bersyukurlah karena kita dengan hati yang berani bersedia melewatinya

Dalam Music Video (MV) Big Bang ini, nampak sekali keempat personel mengambil shoot pada tempat-tempat yang berbeda. Tidak ada yang berada pada satu tempat atau bersama-sama. Mereka bekerja sendiri-sendiri, bahkan dalam lirik pun mereka terpisah dan sendiri-sendiri.

Sebagai fans, melihat kenyataan ini sungguh sangat menyakitkan untuk saya. Meskipun memang indah, tapi tidak biasa. MV untuk setiap lagu yang mereka buat, selalu berlima atau selalu bersama. Lalu tiba titik ini, dan fans rasanya belum benar-benar terbiasa. Ya, ini kebiasaan.

Beratnya perubahan juga adalah beratnya pergeseran kebiasaan. Kita yang sudah terbiasa, harus berhadapan dengan keadaan yang tidak biasa atau memulai kebiasaan baru. Ini yang sangat tidak nyaman! Tapi, juga adalah sebuah keharusan. Kalau mau bertumbuh, kalau mau berkembang, harus ada perubahan, harus ada pergeseran kebiasaan. Ini hukumnya mutlak!

Pada bagian TOP, Ia melantunkan tentang sosok seorang anak laki-laki, yang sudah bisa ditebak adalah dirinya sendiri. Sebuah symbol perubahan, atau yang lebih tepatnya adalah transformasi.

“Boy looking over at the sky
Doing well throughout the four seasons (Good-bye)
Those who left and those who came
The world above our head
I’m leaving inspiration’s Amazon
Burying all the trauma from past nights
A round-trip ship running, risking its life to start anew
I’m going to change more than before
A good person more and more
A better person more and more
With the morning dew, burying my anger in the past
(I miss you, I miss you)
For life, do it away, away, away
(I miss you, I miss you)”

Big Bang, Still Life

Sama seperti TOP, kebanyakan kita pun saat ini sedang berada dalam keadaan ini, transformasi untuk menjadi sesuatu. Entah sesuatu itu seperti apa bentuknya. Kadang, bentuk pun tidak masalah untuk kita.

Transformasi membutuhkan keberanian, kesiapan dan kerelaan untuk melepaskan masa yang lalu dan berjalan menuju masa yang baru. Kenangan-kenangan dan rasa nyaman di masa yang lalu dapat menjadi tali pengikat yang dapat menunda perpindahan kita ke masa yang baru, tapi sejauh kita mengijinkannya.

Kenangan, adalah kenangan. Letaknya di masa yang lalu, dan karenanya kita bersyukur atas apapun yang terjadi pada saat ini. Tapi, letakkan masa lalu sebagai masa lalu, tarik pelajaran darinya. Lalu, berjalan lagi ke masa yang baru, masa depan. Tidak perlu takut, karena pelajaran yang sudah kita petik dari masa lalu, cukup sebagai bahan pelajaran untuk menapaki masa sekarang dan menatap masa depan.

Transformasi terjadi, mulai ketika kita menyadari hal ini.

Masa lalu, masa sekarang dan masa depan adalah kita. Bagian dari hidup kita yang tidak dapat kita buang atau singkirkan begitu saja.

Berterima kasihlah atas keberanian untuk melewati seiap hari ini dengan hati yang tegar dan berani. Nikmati setiap perjalanannya, satu demi satu dengan iramanya masing-masing.

Photo by Engin Akyurt on Pexels.com

Harapan

Lirik terakhir dari lagu ini menampilkan pesan tentang harapan. Bahwa akan ada hari esok, akan ada kesempatan yang baru. Badai tidak akan selamanya badai. Akan ada perubahan.

At sunset next year, a blooming spring
A midsummer night’s dream
Feeling fall, then winter’s snow
Spring, summer, fall, winter

Big Bang, Still Life

Percaya, bahwa kita akan mampu melewati hari-hari berat yang kita jalani sekarang. Percaya, bahwa saat ini kita sedang berproses menuju kebaikan, dan semoga penderitaan yang kita anggap sebagai derita adalah kesempatan belajar yang baik untuk kita semua.

Good luck!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s