Keluarga dan Masyarakat


Beberapa waktu ini, saya diberikan kesempatan untuk bersama-sama merawat anggota masyarakat yang berada di salah satu wilayah di Kalimantan Selatan. Banyak hal yang saya temukan, dan sungguh menyentuh hati saya. 

Saya mencapai titik keprihatinan yang mendalam, karena kesimpulan bahwa masyarakat kita pada saat ini sungguh sangat memprihatinkan dari segi kesehatannya dan membutuhkan bantuan atau pertolongan dari semua pihak. 

Pertama, masih sangat banyak masyarakat kita yang hidup dalam garis kemiskinan dan berjuang setiap harinya hanya untuk bisa makan hari itu. Jangan tanya soal tempat tinggal. “Bisa hidup saja sudah syukur,” adalah pernyataan yang kerap saya dengar. 

Kedua, masih banyak masyarakat kita yang tidak dapat menyelesaikan pendidikan mereka. Syukur kalau kita menemukan mereka yang meskipun pendidikan terakhir adalah sekolah dasar, tapi memiliki kecakapan literasi, logika, dan juga pengetahuan umum yang cukup untuk bertahan hidup. 

Jika hal seperti makan dan tempat tinggal saja masih menjadi masalah, bagaimana mereka bisa memikirkan tentang masalah kesehatan atau perawatan diri? 

Kebutuhan akan kesehatan dan bahkan perawatan diri tentu bukan menjadi prioritas “saat itu.” Untuk alasan ini, kegiatan promosi kesehatan dan bahkan upaya pencegahan penyakit yang sering kita gaungkan, menjadi sangat “sia-sia.” Masyarakat belum merasa perlu dan membutuhkan hal-hal seperti ini. 

Rumusan yang masih sering kita temukan di masyarakat adalah, “Kalau sakit, baru berobat.” Dalam artian dengan gaya hidup pada saat ini, menunggu sampai ada tanda-tanda “sakit”, baru memeriksakan diri ke tempat perawatan atau pengobatan. Kalau ada masalah, baru bergerak untuk menyelesaikan masalah. Kalau tidak ada masalah, tidak memikirkan bagaimana harus mencegah terjadinya masalah. 

Memikirkan mengenai setiap peristiwa yang saya temui pada saat itu, membuat saya sungguh “entahlah.” Sulit sekali memberikan komentar ketika sudah berada dalam keadaaan seperti ini. Belum lagi ketika melihat saya, dan bahkan keluarga saya sendiri adalah bagian dari masyarakat ini, yang juga ikut mempraktikkan gaya hidup yang juga tak sehat. Gaya hidup yang tidak termasuk di dalamnya upaya untuk mencegah terjadinya masalah atau penyakit. 

Lalu, apa yang harus dilakukan? 

Saya hanya berharap, usaha kecil yang saya lakukan pada saat ini, kepada 28 kepala keluarga ini dapat menjadi sebuah langkah untuk membuat perubahan. Semoga.

5 pemikiran pada “Keluarga dan Masyarakat

  1. Jangankan yang akses ke sektor kesehatannya yang terbatas, yang punya akses dan resources (baca: uang) pun masih kadang mentalitasnya kalau sakit baru di obati, bukan prevention. Memang urusan kesehatan ini urusan nasional alias satu bangsa, bukan urusan masing2, sama dengan pendidikan. Pemerintah kita sayangnya prioritasnya masih di bidang lain.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Setuju!
    Untuk itu, saya hanya bisa berkata “entahlah!.” Apa mungkin karena permasalahan kesehatan ini bukan menjadi prioritas, jadi solusi untuk menyelesaikan masalah pun tak jelas dan tidak terfokus. Atau saya yang ketinggalan kabar dan berita?
    Ah! saat ini hanya konsentrasi mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, sambil terus berusaha menyamakan langkah dengan program pemerintah yang ada.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s