Saat Khoon Maaf (7 Murders Forgiven)


Judul Film: 7 (Saat) Khoon Maaf (7 Murders Forgiven) 

Pemain: Priyanka Chopra, Vivaan Shah dan lainnya.

Sutradara: Vishal Bhardwaj

7 Khoon Maaf Poster

Apa yang harus dikorbankan untuk menemukan cinta sejati? 

Pertanyaan ini lahir ketika saya menyaksikan film yang dibintangi oleh seorang pemain film sukses dunia, Priyanka Chopra. 

Film ini, dikatakan adalah sebuah film yang mengandung “dark comedy,” sesuatu yang akhir-akhir ini menjadi guilty pleasure yang sulit saya tolak. Beberapa contoh dari film yang saya tonton, yang mengandung tema yang sama, seperti “The Addams Family.”

Dikisahkan dalam film bahwa, Susanna Anna-Marie Johannes seorang wanita yang lahir dari pernikahan campuran India-Inggris yang bertualang untuk mencari cinta, melalui tujuh pernikahan yang Ia jalani. Tujuh hubungan yang Susanna jalani, yang selalu berakhir dengan kematian yang tragis adalah sebuah kisah yang merupakan perumpamaan tentang tujuh dosa besar yang dimiliki oleh manusia. 

Penulis asli yang menjadi inspirasi dari naskah film ini adalah Ruskin Bond (“Susanna’s Seven Husbands). Kejeniusannya untuk menulis kisah ini, sungguh mendapatkan hormat dari saya pribadi. 

Poster yang Menggambarkan Susanna dengan Keenam Suaminya.

Kematian suami pertama, lambang dari “Kesombongan.” Suami kedua, lambang dari “Kerakusan.” Suami ketiga, lambang dari “Kemarahan.” Suami keempat, lambang “rasa iri.” Suami kelima, lambang “nafsu.” Suami keenam, lambang “ketamakan.” Kematian Manggie Aunty, lambang “kemalasan.” 

Dalam film, Susanna kemudian mengambil suami ketujuhnya, yaitu mengikatkan dirinya dalam pernikahan rohani dengan menjadi seorang biarawati, atau dalam istilahnya menjadi “pengantin dari Yesus Kristus.” Ending dari film ini menjadi hal yang mengejutkan. Menjadi seorang biarawati menjadi lambang dari “Cinta yang Sempurna,” yang selama ini dicari oleh Susanna. 

Atas kejahatan yang dilakukan oleh Susanna, yang sungguh tidak dilakukannya seorang diri, Susanna seharusnya dihukum oleh hukum dunia. Tapi dalam film, Ia selalu berhasil selamat dan diselamatkan dari maut dan hukuman dunia. 

Akhir kisah, yang menunjukkan bahwa Ia masuk dalam sebuah kongregasi dan menjadi seorang Biarawati, nampak sebagai akhir kisah yang sangat tidak adil. Ia dinyatakan sudah “meninggal” dan luput dari segala kejahatan dunia. Ia lahir kembali, dan menjadi orang baru dengan menjadi seorang Biarawati. 

Kongregasi dan keputusan untuk menjadi seorang Biarawati adalah sebuah pelarian yang cerdas dari tanggung jawab dan hukuman dunia. Kogregasi (dan bahkan Gereja dalam hal ini) dilihat sebagai tempat untuk melindungi mereka yang melakukan dosa dan kesalahan. 

Pada akhir film, penonton disuguhkan dengan adegan ketika Susanna mengakui semua dosa-dosa yang Ia lakukan kepada Pastor. Ini akhir film yang terus membuat saya berpikir, setidaknya sampai saya menuliskan atau menuangkan isi pikiran saya ke dalam tulisan ini. Apakah sampai disini saja?

Agaknya, saya masih belum sepenuhnya memahami tentang “Pengampunan dari Tuhan” dan “Keadilan yang harus ditegakkan di dunia.” Yeap, film ini secara otomatis membuka pintu refleksi untuk saya secara pribadi. 

Bagaimana denganmu? Sudah pernah nonton? 

PS. Film ini dapat ditonton di Netflix atau Disney Hotstar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s