Setelah, “Hanya sedang Rindu”


Saat itu, setelah pulang dari pertarungan hari kesekian, yang tak nampak juga akhirnya, aku mengistirahatkan raga. Pertarungan panjang ini menyisakan makna-mempertajam hati. Untuk dapat merasakan lebih jeli, pertarungan-pertarungan kecil dalam diri.

Rindu. 

Rasa rindu itu mengalir mula-mula hangat, lalu dingin. Memeluk diri, menariknya semakin jauh ke dalam. Menarik selimut dan memejamkan mata. Kemudian mencari hangatnya perapian dalam ruang-ruang kosong, tak berpenghuni. Api, yang kayu-kayunya berasal dari tiang-tiang keangkuhan dan harga diri, yang semakin hari semakin tak bersisa. 

Pada saat dingin berganti dengan hangat, pada saat itu rasa rindu ini mulai menunjukkan bentuknya.

Aku memandang gambar hitam dan putih, seperti kaset rusak yang sudah sangat kusut. Kenangan yang sudah tergerus oleh waktu. Lama dan tua. 

Aku mengingat satu, dua dan bahkan tiga orang. Mereka yang pernah bermain film dalam warna-warna terang dan menggembirakan. Mereka yang pernah menjadikan dunia kecil ini nampak sangat luas dan lebar. Tanpa tepi. Tanpa ujung. 

Aku mengingat setiap langkah yang dilewati bersama panasnya harapan. Untuk melihat bahwa, akan ada saat yang lebih indah, yang lebih mewah, yang lebih menggembirakan dibandingkan pada saat itu. 

Senyum kebodohan dan antusiasme yang palsu.

Aku mengingat setiap kesalahan-kesalahan, yang kemudian berubah menjadi beban. Memberatkan dan merepotkan. 

Sesuatu yang aku sesali. 

Lalu, lahir pula ini, rasa rindu. Bahwa apapun yang sudah terjadi, apapun yang sudah lewat, aku masih menyimpan rasa rindu, yang semakin dalam seiring waktu. Kedalamannya semakin tak terlihat, karena gelap dasarnya. 

Bersama angin saat itu, aku kabari satu, dua dan tiga orang ini. Kabar bahwa pada saat ini, karena tipuan purnama, aku sedang sangat rindu. 

Bersama desas-desus malaikat, yang mula-mula lirih, lalu semakin nyaring dan lantang berkata,

“Bahkan, setelah pertarungan-pertarungan ini, kau belum juga mengenali dia. 

Seperti kutuk, turun dan pecah dari ujung kepalamu.

Bagaimana mungkin kau tak mengenali dia, yang bertarung disebelahmu?” 

Aku semakin jauh ke dalam. Tak ada lagi tepian yang membatasi pandanganku. Hitam dan kelam jiwaku. 

Rindu ini adalah tanda, bahwa jiwaku sungguh dikutuk oleh keinginan untuk memiliki. Untuk mengikat, lalu melepaskan. 

Ini terjadi setelah “hanya rindu” pada saat itu, 12 Juli. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s