Untuk Apa Semua ini, Tuhan? 


Hampir setiap hari setelah bangun tidur, saya dihadapkan pada permenungan dan juga dilema, yang terpusat pada satu pertanyaan ini, 

“Mengapa saya harus bekerja sangat keras, sampai harus mengorbankan diri sendiri seperti ini?” 

Tidak ada jawaban yang benar-benar bertahan pasti, dan setiap kali pertanyaan ini saya lontarkan, jawabannya pun berubah-ubah. 

Jawaban saya, sangat dipengaruhi oleh banyak hal, seperti yang terjadi pada hari ini, ketika saya memandang tubuh fisik saya, yang semakin hari semakin menurun kekuatannya. 

Dalam pikiran, saya bisa-bisa akan menua sebelum waktunya, dan parahnya lagi, saya mungkin akan berakhir dengan kematian dalam waktu dekat hanya karena apa yang saya lakukan seperti ini. 

“Apa yang saya perjuangkan? Apa yang saya kejar?” 

Sesungguhnya, tidak ada.

Saya tidak sedang memperjuangkan apa-apa, dan bahkan tidak sedang mengejar apa-apa. Hal yang saya temukan, dan yang menjadi kesadaran saya adalah bahwa, saya yang malah dikejar-kejar oleh sesuatu yang tidak dan bahkan sulit untuk saya kendalikan. Saya terpasung pada ikatan yang tidak dapat saya lepaskan atau hindari.

Lalu, saya jatuh sakit, untuk yang kesekian kalinya pada bulan ini, dan itu pun harus memaksa diri untuk menghabiskan beberapa waktu di rumah sakit. Saya mengistirahatkan diri di rumah sakit, yang merupakan tempat istirahat yang jauh sekali dari keinginan saya sendiri. 

“Untuk apakah semua ini, Tuhan?”

Ketika peristiwa dramatis untuk masuk ke rumah sakit itu terjadi. Saya berada dalam keadaan “tidak percaya”, dan juga binggung harus menerima atau tidak keadaan yang terjadi.

Sama seperti hewan yang siap untuk dikorbankan, saya pasrah saja dengan apapun yang dilakukan pada tubuh ini. Pasrah dan sungguh tidak berdaya. 

Saya tergoda untuk bertanya kepada Sang Pencipta, dan memulai dialog panjang tentang 

“Mengapa, saya? Mengapa harus saya yang berada di posisi ini? Apa yang Tuhan inginkan, yang harus saya lihat dan perhatikan lagi? Apakah pada titik ini, keimanan saya sedang diuji? Apakah benar saya sedang diuji? atau ini hanya bagian dari petualangan yang sia-sia saja ujungnya?” 

Namun, pertanyaan itu mengalir saja tanpa keinginan untuk mendapatkan jawaban. Saya menyerah pada keadaaan saya pada saat itu. Tidak ada gunanya berdebat dengan Sang Pencipta pada saat itu. Saya pun tidak ingin memprovokasi-Nya, karena saya masih belum siap untuk berhadapan muka dengannya pada saat itu, atau pada saat ini.  

Saya benar-benar belum siap. 

Namun, saya pun pasrah. Jika, dan jika ini adalah waktunya, maka siapakah saya yang dapat menunda atau mempercepat waktuNya yang sungguh pasti tepat. 

Dalam keadaan penuh dilema ini, indera saya kembali dipertajam dengan banyak hal. Saya diminta untuk melihat sekeliling, dan melihat bagaimana Tuhan sendiri bekerja dengan penuh keajaibannya. 

Pertolongan demi pertolongan lahir dan berdatangan dari banyak tangan-tangan orang baik. Mereka, yang tak pernah saya duga datang dan menawarkan bantuan. Mereka yang tanpa saya minta, datang untuk memberikan saya kekuatan bahkan berdoa untuk saya. 

Pada saat itu, saya bersyukur atas kesadaran yang entah dari mana datangnya. Saya merasa, pada saat seperti inilah kehadiran Tuhan nyata terasa dalam hidup saya, pada saat yang sungguh saya perlukan, butuhkan dan inginkan. 

Jika, yang saya alami ini adalah sebuah penderitaan, maka ini adalah proses yang semakin mendewasakan saya secara iman (mungkin). Saya pun semakin tajam untuk melihat buah-buah rahmat dari orang-orang yang benar-benar tulus, dan belajar dari kebaikan serta kemurahan hati mereka. 

Masih dalam dilema dan ketidaktahuan, mengalir semangat baru dan juga kekuatan yang lembut-hangat. Seperti sahara yang kering, ada mata air yang perlahan mengalir dalam kesunyian, masuk dan membasuh hati yang merana. Kehangatan dan juga kedamaian, lalu harapan. 

Harapan bahwa, dalam situasi dan keadaan apapun, sósok yang saya imani sebagai Tuhan, menyertai dan sungguh menginginkan saya berada pada jalan ini. Ia tidak pernah meninggalkan saya, dan selalu hadir ketika saya membutuhkannya. 

Untuk pengalaman ini, saya sungguh bersyukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Semua ini terjadi, agar saya semakin menyadari bahwa saya berada bersamaNya, dalam rencana dan bahkan dalam jalanNya. Apa lagi yang saya takutkan? 

Terima kasih kepada Anak-anak yang luar biasa ini. Mereka adalah bagian dari perjalanan yang luar biasa ini.

4 pemikiran pada “Untuk Apa Semua ini, Tuhan? 

  1. Kadang Tuhan memberi kita sakit, lapar, miskin, takut untuk introspeksi: “apa yang sudah saya lewatkan selama ini?”
    Get well soon, Kak Ayu. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Terima kasih ya Mbak Luna. Lama sekali rasanya kita tidak bersua secara online seperti ini.

    Ia, sungguh. Sakit yang datang bertubi-tubi ini sungguh membuat saya bosan, dan juga marah dengan diri sendiri. Tapi juga kembali melihat, terlalu banyak yang sudah saya lewatkan, dan terlalu banyak yang sudah saya abaikan demi sebuah kepentingan egois yang juga tidak terlalu penting. Saya didorong untuk melihat kembali prioritas saya, dan belajar kembali.

    Setiap jalan dalam hidup ini, sungguh adalah pelajaran dan pengalaman yang berharga.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s