Purnama dalam Perjalanan Pulang


Perjalanan menuju rumah orang tua beberapa waktu yang lalu, saya ditemani oleh cahaya rembulan. Malam itu, masih dalam fase bulan purnama. 

Malam yang semakin tinggi, dan langit yang cerah tak berawan membuat malam itu menjadi sangat indah dinikmati dari tempat yang gelap. Dalam mobil. 

Pemandangan di luar mobil nampak menyenangkan, terutama ketika saya dapat melihat aktivitas-aktivitas menjelang malam yang dilakukan oleh para penduduk pinggir jalan. Lampu-lampu jalanan dan penerangan depan rumah yang temaram. 

Suasana yang memancing begitu banyak ingatan masa lalu, tua, tapi penuh kehangatan. 

Beberapa kali mobil ini melewati pemakaman warga, dan pandangan saya lurus menjurus pada ujung-ujung cahaya yang ditangkap oleh mata ini. Muncul pula harapan konyol, andai saja saya dapat melihat sampai menembus dinding-dinding batu dan tiang-tiang bisu di depan sana. 

Ah, pemikiran yang sungguh konyol. 

Memangnya, hantu mana yang mau menunjukkan muka pada sosok yang porak poranda hatinya seperti ini? yang melarikan diri terus menerus dari kenyataan ? membuang-buang waktu untuk menyembunyikan luka-lukanya dan menguburnya di masa lalu ? yang kembali pulang untuk menemukan jawaban, meskipun tahu bahwa jawaban sudah ada ditangannya?

Sedalam apakah luka dalam hatimu, sehingga kamu harus melarikan diri dan menyembunyikan diri seperti ini?

Sedalam apakah itu? Hingga kau sembunyikan dirimu sampai dalam, jauh dan tak terjamah lagi?  

Perjalanan pulang ini sungguh penuh makna. 

Doa-doa saya tetap sama, yaitu agar indera-indera ini semakin tajam untuk melihat tanda-tanda yang nyata di dejan. Semoga dengan cara ini, saya akan berhenti untuk melarikan diri. Berhenti untuk menemukan jawaban dan cukup bersukacita dengan apapun yang ada ditangan kosong ini. 

Kesadaran mempertemukan saya dengan kenyataan bahwa kosongnya tangan-tangan ini adalah sumber hidup. Penggerak setiap sendi dan otot-otot ini untuk secara sederhana menapaki satu demi satu perjalanan ini. Dalam ketenangan. Dalam ketiadaan. Apa adanya. 

Sungguh. Apa adanya. 

Bulan purnama. Ah, sungguh benar apa yang banyak dibicarakan orang tentangmu. Kau membuka begitu banyak rahasia dibawah sinarmu. Saat ini, kau sudah melucuti setiap benang-benang di tubuh ini. Meninggalkan tubuh ini dalam wujud awalnya. Apa adanya.

Puri, 16 Agustus 2022. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s