Memilih untuk Melakukan Sesuatu


“I ask you, is it lawful to do good on the sabbath rather than to do evil, to save life rather than to destroy it?”

Hujan lebat disertai tiupan angin kencang pada hari itu, dan saya pun memilih untuk berdiam saja dalam kamar. Tumpukkan pekerjaan di atas meja memberatkan langkah untuk berangkat ke tempat kerja saat itu. Pikiran yang penuh kecemasan ini meraja, menguasai sampai ke sel-sel otot dan ujung-ujung tangan dan kaki. Pergerakan yang saya lakukan hanya satu, yaitu berpindah dari tempat tidur ke meja kerja di dalam kamar. Membuka laptop dan mencurahkan seluruh perhatian saya pada lembar demi lembar dan folder demi folder didalamnya. 

Beberapa sahabat menghubungi saya melalui udara. Rata-rata menanyakan pertanyaan serupa, Turun ngak?. Saya jawab dengan singkat, tidak. 

Lalu, dilanjutkan dengan percakapan-percakapan lainnya yang dapat saya simpulkan sebagai rasa “tidak nyaman” karena tidak bisa turun bekerja dengan alasan karena hujan lebat dan berangin. 

Saya mengambil waktu sejenak untuk memahami apa yang sedang terjadi, dan menemukan ada ikatan yang menyebabkan rasa tidak nyaman ini muncul dan termanisfestasi dalam bentuk pikiran dan juga perilaku. Salah satu yang saya lihat adalah rasa “tanggung jawab” dan integritas yang dimiliki oleh mereka yang mengeluh “tidak nyaman” karena tidak bisa turun kantor hari itu. Sebuah pertanyaan yang baik.

Namun, saya pun menemukan sesuatu yang sungguh mengganggu. Saya merasa ada ikatan yang sangat dan sungguh tidak nyaman, yang mungkin tidak disadari oleh si pemilik. Ikatan ini bernama perasaan bersalah (guilty) yang merupakan tanda bahwa selama ini, sudah ada sesuatu. Saya pun sangat tertarik untuk mendalami hal ini, dan melihat lebih jauh ada apanya.

Pikiran saya, jauh melangkah pada tempat bekerja dan tempat tinggal. Pada masa saat ini, seorang individu didefinisikan tidak hanya dari apa yang Ia miliki atau yang berhasil dia kumpulkan, tapi juga adalah dimana Ia berkarya atau bekerja. Tempat bekerja atau dimana seseorang bekerja, akan sangat mempengaruhi sikap, perilaku dan juga pemikirannya. Karakternya juga.

Lebih jauh dari hanya sekedar tempat bekerja, adalah apa dan siapakah yang membentuk seseorang dapat menjadi sangat merasa bersalah seperti saat ini. Siapa yang dapat melakukan penindasan atau perisakan secara kasat mata, yang mungkin secara perlahan dapat mengubah seseorang. Menjadikan seseorang menjadi sangat patuh secara mengerikan (sikap taat yang buta) dan kemudian secara otomatis menghukum diri mereka sendiri ketika hukum tidak tertulis ini dilanggar.

Membayangkan kejadian ini, membuat saya berpikir tentang kegiatan “cuci otak,” tentang dokrinisasi, tentang propaganda, yang mematikan akal sehat.

Saya membayangkan tentang kegiatan yang membuat seseorang menjadi “takut”, persis seperti yang pernah diungkapkan oleh Paulo Coelho bahwa:

“If you want to control someone, all you have to do is to make them feel afraid.” (Paulo Coelho).

Lalu, saya mulai mengutuk mereka yang dengan sengaja dan bahkan tergorganisir menciptakan budaya yang sangat tidak nyaman ini. Mulai dari lingkungan paling dekat dan paling intim, sampai pada lingkungan paling luas saat ini. Ini sungguh adalah keadaan yang toxic, pikir saya.

Pikiran saya pun berjalan menuju beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghadapi masalah seperti ini, yaitu mengaktifkan kembali akal sehat.

Saya terinspirasi dari tulisan dan ajaran-ajaran dari Reza A. A. Wattimena dalam Rumahfilsafat.com. Salah satu kampanye yang sering dan terus menerus digaungkan beliau adalah tentang menggunakan akal sehat dalam setiap kesempatan. Menganalisis segala sesuatu yang nampak tidak pada tempatnya, dan kemudian melepaskan-membebaskan. Kontradiktif dan dualitas yang mencerahkan, I must say.

Kembali pada masalah ketakutan dan cemas tadi, saya pikir, mengapa harus cemas? Mengapa harus merasa tersiksa dengan ilusi hukuman ?

Mengapa tidak bisa menulis surat atau pemberitahuan bahwa saat ini tidak bisa datang ke kantor dan memilih untuk bekerja dari rumah? Mengapa tidak bisa mengkomunikasikan keinginan untuk memberi ruang nyaman pada diri sendiri ? Mengapa harus memilih jalan yang malah menyulitkan dan menyengsarakan diri sendiri?

Saya tertegun dengan pikiran saya sendiri. Perlahan menyadari banyak sekali hal yang saya tolak untuk lihat kembali dan sadari. Saya pun mungkin adalah korban dari keadaan yang seperti ini. Ironis.

Tenggelam dalam pikiran saya sendiri, saya pun memilih untuk berada dipihak mereka yang tidak turun kantor pada hari itu. Saya menyadari arti penting dari “menyelamatkan diri sendiri.” Terutama dari kekangan rasa bersalah yang kurang tepat dan menyengsarakan.

Saya merasa telah menyelamatkan diri sendiri pada saat ini, dan pada kesempatan saat memikirkan tentang pergumulan ini.

Entahlah, hujan lebat di kota Banjarmasin pada hari Senin yang telah lewat membuat saya menulis tentang hal ini. Tentang menyelamatkan diri sendiri, tentang memilih mana yang paling nyaman dan paling tepat, tentang mendamaikan diri sendiri.

Bersama hujan lebat dan angin kencang pada saat itu, saya haturkan perasaan syukur kepada alam semesta ini, kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Dapat berpikir seperti ini, pada keadaan yang seperti ini membuat saya menyadari banyak hal, terutama menyadari bahwa Ia, Tuhan, ada dan hadir bersama sama bahkan pada saat-saat seperti saat ini. Terpujilah Tuhan.

Banjarmasin, ketika hujan lebat dan berangin, 5 September 2022.

2 pemikiran pada “Memilih untuk Melakukan Sesuatu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s