Aborsi


Seorang sahabat, yang mengandung untuk pertama kalinya baru saja kehilangan bakal janinnya. Bakal janin yang bahkan belum berbentuk janin, harus keluar dari rahimnya karena akibat yang kurang menyenangkan.

Setelah mengangkat barang berat dan kelelahan yang luar biasa, bakal janin ini kemudian menyerah dan terpisah darinya.

Proses mengeluarkan sepenuhnya gumpalan darah dan sisa-sisa jaringan ini luar biasa. Pada saat ini, peran bidan atau perawat sungguh sangat vital untuk membantu pasien melewati masa-masa sulit ini.

Pasien akan diminta melakukan rawat inap, dan proses pengeluaran gumpulan darah yang tersisa dimulai. Proses diawali dengan cara yang sungguh tidak nyaman, yaitu memaksa dilatasi serviks dengan bantuan obat -obatan. Lalu, menunggu gumpalan darah ini keluar. Obat dimasukkan melalui vagina (per-vaginam). Diberikan dalam waktu 3 kali dalam jangka waktu yang berbeda-beda. Setelah itu, baru dilakukan pembersihan rahim dengan melakukan proses kuratase yang akan dilakukan biasanya adalah di ruang operasi.

Ketika memasukkan obat per-vaginam, kontraksi akan terus dirasakan oleh pasien. Obat yang dimasukkan memang bertujuan untuk merangsang kontraksi rahim untuk membersihkan diri sendiri. Proses kontraksi ini, sungguh sangat tidak nyaman. Pada saat ini, pasien akan diminta untuk menggunakan pembalut wanita (atau pampers) yang memiliki tujuan untuk menampung jumlah cairan atau benda yang mungkin akan keluar dari vagina.

Perawat/bidan bertugas untuk meng-observasi komponen apapun yang keluar dari rahim dan jalan lahir, dapat berupa darah atau komponen-komponen jaringan lainnya.

Mempelajari kasus seperti ini, memberikan perspektif baru yang sungguh sangat menarik untuk sejenak duduk dan diperhatikan.

….

Indonesia mencatat ada 79% praktik aborsi yang dilakukan secara tidak aman atau unsafe (Unssafe Abortion). Praktik aborsi yang tidak aman menyumbang penyebab peningkatan angka kematian Ibu di negara ini, yang saat ini masih berada di angka 30% dari total kematian ibu. Membicarakan mengenai aborsi, merupakan hal yang penting, terutama soal keamanan dan prosedur ini.

Aborsi dan Agama

Agama katolik adalah agama yang sangat menentang kuat praktik aborsi yang dilakukan secara sengaja. Apapun alasannya, jika aborsi dilakukan secara sengaja maka hukumannya adalah dosa. Memaksa janin untuk keluar dari rahim, sama seperti tindakan untuk membunuh dan tidak menghargai hidup.

Pada beberapa institusi katolik yang mengajarkan tentang ilmu kebidanan, praktik membantu proses aborsi adalah praktik yang sangat hati-hati diajarkan. Pengajar sudah mewanti-wanti agar praktik aborsi, apalagi yang dilakukan secara sengaja, adalah tindakan yang tidak berkenan di hadapan Allah dan harus dihindari.

Bagi mereka yang sudah melakukan tindakan aborsi, sesal dan bertobat adalah tindakan yang diajarkan oleh gereja. Bersamaan pula komitmen untuk mengubah diri, dan menjadi pribadi yang pro-life.

Aborsi dan Efek negatifnya

Perjalanan saya di muka bumi ini, membuat saya bertemu dengan berbagai kasus dan orang, yang mengajarkan saya bahwa aborsi sungguh adalah tindakan dan juga kejadian yang menyedihkan.

Beberapa orang yang saya temui merasakan apa yang disebut sebagai “kehilangan yang tidak selesai” setelah pernah melakukan aborsi secara terpaksa dan disengaja. Ketika janin atau bahkan zigot yang masih tumbuh dipaksa keluar, pada saat itu si Ibu merasakan efek psikologis yang tak terhingga. Seumpama jiwa yang dibawa pergi, jiwa dan separuh hidup dari si Ibu ikut terbuang, hilang dan tak pernah dapat dikembalikan. Belum lagi rasa menyesal, rasa dikejar-kejar oleh dosa dan masih banyak lagi.

Bukan hanya efek psikologis, tetapi bahkan efek fisik pun terasa.

Ada beberapa yang mengalami nyeri tak tertahankan, yang berlangsung terus menerus tanpa tahu kapan berhenti. Obat antinyeri adalah obat yang dikonsumsi sehari-hari, yang tak akan pernah tahu kapan dapat berakhirnya.

Ya, mereka saya ibaratkan orang-orang yang menanti datangnya kereta, yang tak pernah tahu kapan datangnya.

Seorang sahabat pernah menceritakan kisahnya kepada saya. Ia pernah melakukan praktik aborsi karena dipaksa oleh keluarganya. Salah satu anggota keluarganya membelikan obat, yang kemudian digunakan untuk memaksa janin keluar dan terpisah dari tubuhnya. Alasan karena ia masih muda dan masih belum siap untuk berkeluarga menjadi alasan tindakan abortus ini, yang jelas terjadi karena kehamilan diluar nikah. Saat ini, ia menanggung penderitaan sepanjang usianya, karena setiap kali dia datang bulan, ia akan merasakan sakit yang luar bisa. Sakit yang membuatnya ingat dengan proses pengeluaran janinnya beberapa waktu yang lalu.

Dokter yang memeriksa sahabat saya waktu itu jelas mengatakan bahwa, tindakan aborsi yang dilakukannya pada saat itu tidak dilakukan secara bersih. Nampaknya ada beberapa jaringan yang masih tersisa dan itulah yang menyebabnya nyeri yang akan terus menerus tinggal pada tubuhnya.

Jika memang tindakan aborsi yang dilakukan tidak dilakukan secara profesional dan sesuai dengan standar operasional prosedur yang telah disepakati, efek samping dari aborsi yang tidak diinginkan pun akan terjadi. Nyeri adalah apa yang akan sering dikeluhkan oleh Ibu.

Jika aborsi terjadi

Melihat dan memahami tentang kasus pasien dengan masalah aborsi penting untuk dilakukan pertama kali oleh petugas kesehatan. Bersamaan juga dengan melihat dan mempelajari hukum dan peraturan yang berlaku tentang aborsi (Hukum di Indonesia masih memberikan kesempatan kepada Ibu yang mengandung karena tindakan pemerkosaan untuk mengakhiri kehamilannya).

Tindakan perawatan yang perlu diperhatikan pun nanti akan sangat bergantung pada situasi atau keadaan. Apakah keadaan setelah aborsi dilakukan, atau masih dalam proses untuk mengeluarkan sisa-sisa jaringan di dalam rahim ?

Dalam ilustrasi kasus yang saya tuliskan di awal, aborsi terjadi tanpa direncanakan dan terjadi begitu saja (spontan). Pada saat ini, Ibu akan merasakan kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Cairan yang keluar dari jalan lahir semakin menambah ketakutan dan rasa tidak nyaman.

Berusaha tetap bersikap tenang dalam keadaan seperti ini, penting sekali. Ibu pun harus memiliki teman dan ditemani. Kadang, rasa nyeri yang hebat dirasakan membuat Ibu tak berdaya untuk bergerak atau berpindah tempat.

Tahu dimana tempat pelayanan kesehatan terdekat, dan tahu siapa yang harus dihubungi pada saat-saat tersebut sangatlah penting.

Perawat atau bidan, menemani pasien melewati proses dan tahap-tahap ini, satu-satu sampai selesai. Akan banyak pertanyaan-pertanyaan yang keluar dan bermunculan dari pasien, yang kebanyakan “baru pertama” melalui proses ini. Perawat hadir dan berada di samping pasien ketika pasien membutuhkannya.

Jika ada yang ingin melakukan aborsi

Melalui tulisan ini, nampak sekali saya berada di jalan atau pilihan yang mana terkait aborsi. Saya menggolongkan diri sebagai pro-life, dan melegalkan aborsi bukanlah sebuah pilihan untuk saya pribadi.

Saya bersedia untuk memberikan informasi yang diperlukan untuk sama-sama melihat kehidupan yang tumbuh di dalam rahim sana, dan berusaha untuk menekan keinginan untuk memisahkan kehidupan janin dengan ibunya.

Masalah berbeda mungkin akan muncul pada mereka yang mengalami kehamilan karena tindakan pemerkosaan. Masalah psikologis yang menyertai korban, dapat menjadi alasan kuat dilakukannya tindakan aborsi secara terpaksa. Saya belum pernah menghadapi kasus seperti ini, tetapi jika nanti saya bertemu dengan kasus seperti ini pada pasien yang saya rawat, saya sungguh berharap agar pada saat itu, hati saya menjadi lebih peka melihat apa yang paling dibutuhkan oleh pasien; tahu kapan saya harus meminta pertolongan; dan tetap ingat pada si Pemberi hidup semua makhluk di muka bumi ini.

Bagaimana pendapatmu setelah membaca artikel ini?

Iklan

5 pemikiran pada “Aborsi

  1. Interesting, aku paham latar belakang kamu yang berdasarkan agama. Tapi seperti yang kamu bilang tadi, mungkin ada kasus2 yang aborsi adalah jalan terbaik buat semua orang, entah kasus pemerkosaan, atau kasus dimana si perempuan tidak siap untuk membesarkan bayi, entah kesiapan mental atau finansial atau dua2nya (daripada anaknya jadi menderita nantinya kalau dilahirkan), maka dari itu aku justru merasa pentingnya aborsi dilegalkan.

    Bukan karena lantas legal lalu rame2 aborsi, enggak, tapi kalau ada kasus dimana aborsi menjadi pilihan paling baik, ya lalu bisa aborsi dengan aman, bukan aborsi pake dukun, atau pake gagang sapu atau apalah yang nanti jadi infeksi, atau malah si perempuan dipenjara.

    DI Denmark sendiri, aborsi legal sampai usia janin 12 minggu, karena dianggap bisa aborsi aman dibawah usia tersebut, kalau usia janin lebih dari 12 minggu maka butuh konsultasi lebih lanjut.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Hi, Kak. Terima kasih karena sudah mampir dan meninggalkan jejak.
    Ia, kita harus melihat kasusnya terlebih dahulu, baru kemudian memutuskan apa yang harus dilakukan. Juga, masing-masing tempat memiliki peraturannya sendiri.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s