(Review Buku): “Childfree and Happy”, karya Victoria Tunggono

“Kebanyakan orang bilang hidup belum sempurna kalau belum punya anak; perempuan belum sempurna kalau belum melahirkan. Tapi saya tahu, hidup saya sudah sempurna tanpa harus ada tambahan suami ataupun anak” Victoria Tunggono dalam “Childrfee and Happy”, pada halaman pengantarnya. … Pilihan hidup untuk tidak menikah, sudah banyak saya temui dalam hidup sehari-hari. Tapi, saya tidak …

Lanjutkan membaca (Review Buku): “Childfree and Happy”, karya Victoria Tunggono

Catatan di balik layar #AGNOSTHESIA: Sebuah Percakapan

Penerbit buku #Agnosthesia, EAbooks mengirimkan saya beberapa pertanyaan. Beberapa pertanyaan ini seharusnya saya gunakan untuk membuat video tentang #Agnosthesia. Tapi, saya bukan orang yang pandai menyampaikan sesuatu dengan kata-kata. Kenyamanan saya terletak pada jari-jari saya, pada kata-kata yang saya lahirkan. Video yang saya buat sudah jadi, dan ini adalah sedikit catatan yang saya siapkan untuk …

Lanjutkan membaca Catatan di balik layar #AGNOSTHESIA: Sebuah Percakapan

Seorang Wanita dan Kisah Sejumput Rindu

Memaksakan diri untuk memusatkan perhatiannya pada layar komputer yang ada di hadapannya. Wanita itu gelisah. Sudah tidak terhitung berapa kali ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela kantornya. Tubuhnya di sini, tapi tidak dengan pikirannya. Hanya Ia dan Tuhan saja yang tahu ke mana pikirannya melayang dan berlabuh. … Rindu, kata ini terlalu sering singgah dalam …

Lanjutkan membaca Seorang Wanita dan Kisah Sejumput Rindu

(Review Buku): Toxic Relationsh*it, karya Diana Mayorita

“Semua masalah dalam hidup kita, bermuara pada satu titik. Hubungan kita dengan orang lain” kata seorang sahabat kepada saya pada suatu sore. Perkataan ini sederhana, tapi sangat dalam maknanya. Saya jadi teringat dengan salah satu catatan yang ditulis oleh Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga dalam buku mereka “The Courage to be Dislaked”. Sama! Keduanya berpendapat …

Lanjutkan membaca (Review Buku): Toxic Relationsh*it, karya Diana Mayorita

Belajar untuk Hidup “bersama-sama”

“Learning to know, learning to do, learning to live together and learning to be” Keempat hal ini kita kenal sebagai keempat pilar dalam pendidikan (The four pillars of Education). Keempat hal ini adalah hal yang terlalu sering digemakan ketika belajar mengenai pendidikan dan hal-hal detil yang mengikutinya. Tapi untuk saya, baru-baru ini saja saya pahami …

Lanjutkan membaca Belajar untuk Hidup “bersama-sama”