Lanjut ke konten
Iklan

Posts from the ‘Beauty’ Category

Review Product Marcks’ Venus Soft Matte Lip Cream: Mencari Pemulas Bibir yang Tepat

Oleh,

Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

 

Mengapa ?

Sebagai seorang Perawat, selain berinvestasi pada ilmu pengetahuan, keterampilan tangan dan anggota gerak, serta kecantikan hati, saya juga diajarkan untuk berinvestasi pada keterampilan untuk mencerminkan citra diri yang positif dengan mencintai diri sendiri dengan sebaik-baiknya. Mencintai diri sendiri ini dimulai dengan pemahaman yang mendalam akan siapa diri ini dan bagaimana menjalani hari dengan penuh rasa syukur akan gambaran dan citra diri yang dimiliki.

Dalam proses untuk mensyukuri kebaikan Tuhan akan indahnya gambaran dan citra diri ini, sebagai seorang Perawat dan juga sebagai seorang wanita, saya terus menerus berusaha untuk menemukan setiap potensi baik dalam diri. Make up atau tata rias adalah salah satu cara bagi saya pribadi untuk berproses dan menjalani hari dengan penuh petualangan, mencari-menemukan-kehilangan diri sendiri, repeat. Proses yang terjadi terus menerus seperti demikian. Entah sampai kapan.

Ketika saya berhadapan dengan Klien saya sehari-hari, wajah adalah bagian tubuh pertama yang menjadi perhatian inidvidu diluar diri saya sendiri. Wajar sekali rasanya kalau saya harus sedikit menginvestasikan waktu saya untuk menyiapkan bagian wajah ini sebagai refleksi dari potensi apa yang bisa saya tawarkan kepada orang-orang yang datang dan membutuhkan perawatan.

 

Tantangan untuk menemukan Pemulas Bibir yang Tepat

Wajah tentu saja memiliki banyak bagian-bagian yang setiap bagiannya memiliki pancaran cantik secara sendiri-sendiri. Bagian yang menjadi perhatian saya kali ini adalah bagian bibir. Saya sadar dan harus mengakui bahwa volume bibir saya sedikit berbeda dengan orang kebanyakan. Saya bahkan memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan ketika masa tumbuh kembang saya. Saya sedikit di-bully karena penampakan bibir saya yang memiliki keunikannya tersendiri. Bahkan sampai sekarang, ada saja teman-teman saya yang masih memberi gelar bibir saya sebagai bibir ‘Angelina Jolie’, dan sampai hari ini saya masih berpikir bahwa bibir saya tidak se-sexy itu. Karena memang kenyataannya tidak.

Selain masalah volume, bibir saya juga tidak simetris. Entah kenapa, tapi memang saat saya menjalani masa-masa sekolah, saya sering mengelami trauma yang tidak diharapkan pada bagian-bagian wajah-tubuh, dan itu termasuk bibir. Ya, percaya atau tidak percaya, saya ini Kepala preman sekolah ketika masih duduk di Bangku Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama. Tidak ada kata cantik dalam kamus hidup saya waktu itu. Saya hanya tahu bagaimana menampilkan kesan menakutkan sehingga tidak ada orang yang berani dekat dengan saya. Maklum, saya sering membawa teman-teman saya untuk berkunjung ke sekolah lain dan membuat sedikit soal dengan anak-anak sekolah lain. Untungnya saya masih sadar bahwa cara menunjukkan kekuatan terbaik adalah dengan menggunakan yang namanya pertandingan. Entah itu pertandingan sepak bola, bahkan gulat. Serious !

Ya, bisa dibayangkan efek dari perbuatan seperti diatas. Hampir seluruh tubuh saya diliputi luka dan scar yang sampai saat ini masih tersenyum manis menghiasi tubuh saya. Saya pernah berpikir untuk menutup scar ini dengan tato, tapi mungkin akan memakan seluruh area tubuh saya.

Okay, kembali ke masalah bibir.

Selain dua permasalahan diatas, bibir saya juga sangat membutuhkan banyak kelembapan. Mungkin karena luas dan volumenya yang hampir diatas rata-rata anak sebaya saya, makanya Ia juga memerlukan kelembapan yang juga diatas rata-rata. Karena masalah ini, saya dihukum untuk menggunakan pelembap bibir seumur hidup (sepertinya).

Ketika saya memilih pemulas bibir, saya sangat selektif. Karena kalau salah pilih, itu sama artinya dengan membuang uang saya dengan sangat percuma. Belum lagi mengingat bahwa saya adalah orang yang sangat perhitungan soal mengeluarkan ‘uang’.

Dampak dari kombinasi unik permasalahan diatas , setiap kali saya mencari pemulas bibir, saya selalu berusaha untuk mencari pemulas bibir yang 1) membantu melembabkan bibir, 2) tidak menimbulkan crack ketika saya memulasnya di bibir saya, 3) matte finish, karena untuk bibir dengan ukuran yang tidak biasa, dewy finish hanya akan menyisakan penambahan ukuran yang juga semakin luar biasa dan saya pastinya tidak akan puas dengan hal itu, 4) pigmented, dalam artian harus memberikan warna tertentu untuk bibir saya dan warni ini tetap bertahan disana dalam waktu tertentu, dan yang terakhir adalah 5) tahan lama dan tahan dalam setiap medan, dalam artian kalau saya makan dan minum, pemulas bibir ini tidak ikut menempel di sendok atau pinggiran gelas.

 

Penemuan

Selama lebih dari sepuluh tahun ini, saya hidup dalam pencarian yang luar biasa untuk product pemulas bibir yang setidaknya bisa memberikan saya hasil yang saya harapkan seperti diatas. Pencarian saya kali ini berhenti pada pemulas bibir yang dikeluarkan oleh Kimia Farma, untuk brand cosmetic miliknya Marcks’ Venus. Pemulas bibir yang mereka keluarkan adalah Marcks’ Venus Soft Matte Lip Cream. Mendengar Namanya saja sudah membuat saya tertarik untuk mencoba. Pertama dari kata soft matte, yang saya artikan pemulas bibir ini akan memberikan saya kesan halus dan tidak dewy. Kedua dari kata lip cream, yang menunjukkan kepada saya bahwa tekstur dari pemulas bibir ini yang akan berbentuk cream, antara cair dan padat.

 

Informasi singkat mengenai Produk

Produk ini mengandung Vitamin E dan UV Filter. Pemulas bibir ini memang sengaja di kembangkan untuk memberikan kelembapan dan juga perlindungan optimal bagi wanita-wanita yang sering melakukan aktivitasnya diluar ruangan, harus terpapar sinar matahari. Tepat sekali untuk saya pribadi, karena saya sangat mencintai sinar matahari. Sinar matahari sangat saya butuhkan untuk mencegah alergi kulit yang saya miliki. Juga sangat membantu untuk meningkatkan mood saya untuk bekerja.

Sayangnya saya belum bisa menemukan kandungan kimiawi dari pemulas bibir ini di website resmi milik Marcks’ Venus. Kalau ada teman-teman yang ketemu, tolong kabari saya, biar kita bedah sama-sama kandungannya. Saya mungkin harus menggandeng sahabat saya yang memang paham soal zat-zat kimia dan membahasnya bersama.

Pemulas bibir ini memiliki container yang cukup menarik. Kemasannya panjang, dan wadahnya terbuat dari perpaduan kaca dan plastic (Entah apakah sebutannya). Beratnya sedang, tapi dengan kemasan seperti ini, bagi saya pribadi sangat tidak nyaman untuk dibawa untuk traveling. Mengingat saya sangat sering jalan-jalan ngak jelas dan memaksakan saya untuk membawa hanya barang-barang yang minimalis baik dari segi ukuran dan volume. Saya akan sangat mengapresiasi jika pihak produsen mau menyajikan kemasan mini, travel friendly untuk pemulas bibir ini (Semoga dikabulkan. Amin!).

Penampilan dan kemasan pemulas bibir ini, secara subjektif saya nilai cukup berkelas tapi juga sederhana. Saya suka dengan warna silver pada bagian tutup pemulas bibir ini, memberikan kesan mewah tapi juga sederhana dalam satu tampilan.

Produk ini bisa didapatkan langsung di Apotek Kimia Farma dengan harga Rp. 43.000 (Empat Puluh Tiga Ribu Rupiah). Saya tidak tahu apakah produk ini memiliki harga yang sama rata di seluruh apotek di Indonesia, tapi sejauh ini untuk area tempat tinggal saya, harga yang dipatok adalah sekian. Untuk sebuah pemulas bibir, harga ini saya rasa cocok dengan kantong masyarakat Indonesia. Karena beberapa brand local lainnya juga menjual harga pemulas bibirnya dengan kisaran harga demikian.

Produk juga bisa dipesan melalui pemesanan online di Akun Resmi Facebook Venus Cosmetics Indonesia.

 

Percobaan Pertama Product

Okay, long story short, saya pun akhirnya memutuskan untuk menginvestasikan berapa rupiah saya untuk mencoba salah satu keleksi. Karena ternyata Marcks’ Venus menyajikan 10 jenis Soft Matte Lip Cream dengan varian warna yang bervariasi dari lembut ke warna tegas. Saya menjatuhkan pilihan saya pada Marcks’ Venus Soft Matte Lip Cream No. 3 “Phengaris”. Bukan karena Namanya yang unik, tapi karena sebenarnya saya asal pilih saja (Jangan tertawakan saya soal ini).

Menurut Mbak yang menjual produk ini, Marcks’ Venus Soft Matte Lip Cream harus diaplikasikan pada bibir yang bersih dan tidak memiliki apa-apa dipermukaannya, tanpa lip balm atau minyak atau lip oil.

Setelah pulang kerja, saya pun melakukan seperti yang dianjurkan oleh Mbak sales ini. Lalu, saya mulai mengaplikasikan produk. Okay, kesan pertama adalah ringan. Serius, kata soft pada nama pemulas bibir ini tidak sembarang soft. Saya kaget karena sebenarnya saya tidak mengharapkan hal ini terjadi demikian. Kesan kedua, sticky. Karena pemulas bibir ini berbentuk cream, antara cair dan padat bentuknya, maka perasaan lengket menghampiri bibir saya saat itu. Tapi, saya coba lanjutkan saja terlebih dahulu. Saya sedikit kesulitan untuk mengaplikasikan pemulas bibir ini, karena ujung dari pemulas bibir ini ketika menyentuh permukaan bibir saya, tidak mampu untuk membentuk garis bibir saya dengan baik. Saya lalu harus menggerakkan jari tangan saya untuk meratakan produk pada permukaan bibir. Sedikit tidak nyaman, karena hal ini bisa dikatakan tidak hygienic.

Untungnya, produk ini tidak membakar permukaan kulit bibir saya. Karena saya pernah memiliki pengalaman rasa ‘terbakar’ yang tidak nyaman di permukaan bibir karena pemulas bibir yang tidak tepat.

Saya membutuhkan waktu beberapa detik sampai pemulas bibir ini kering seutuhnya dipermukaan bibir saya. “Sampai Ia menyerap”, mengikuti kata Mbak Sales tadi. Sambil membaca Komik kesukaan saya, saya berusaha sabar. Saya menunggu setidaknya lima menit sampai pemulas bibir ini kering betul dibibir saya dan saya bisa bergaya dengan bebasnya dengan pemulas bibir baru saya ini.

Hasilya, jujur tidak mengecewakan. Saya menyukainya!. Warnanya nampak menarik dan berjodoh dengan warna pakaian yang saya kenakan dan juga warna kulit saya yang sangat Indonesia. Pemulas bibir ini nampaknya memang di-design untuk kulit orang Indonesia contohnya seperti saya (Saya sangat percaya diri menuliskan kalimat ini).  

Okay, dan ini adalah hasilnya. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan sisi tercantik dalam diri saya sambil berperang dengan rasa ingin mandi, ingin segera pergi tidur dan melepaskan penat hari itu.

 

photogrid_15325232172775743450320604355500.jpg

Marcks’ Venus Soft Matte Lip Cream No. 3 ‘Phengaris’

 

 

Saya hampir tidak tega menghapus pemulas bibir ini dari permukaan bibir saya setelah hampir satu jam saya membiarkannya menghiasi bibir saya. Saya hanya perlu melakukan testing teakhir, berapa lama jenis pemulas bibir ini akan bertahan di bibir saya ?.

Mengingat saya tidak pernah bisa diam dengan bibir saya sendiri, pemulas bibir lainnya sebelum ini selalu berakhir menjadi makanan ringan saya, tidak akan bertahan lama dibibir saya, karena akan saya makan.

 

Test Penggunaan untuk Satu Hari

Selain kelima hal diatas, saya selalu mengharapkan agar pemulas bibir yang saya gunakan bertahan lama dan saya tidak perlu capek-capek memulaskan kembali produk ini disela-sela waktu istirahat saya. Karena jujur, saya tipikal orang yang agak pemalas untuk melakukan hal ini.

Jadi, untuk memuaskan rasa keingintahuan saya, saya akhirnya memutuskan untuk mencobanya ke esokkan harinya. Nekat !. Padahal saya punya jadwal yang lumayan keesokan harinya. Saya sudah tidak peduli lagi. Saya pernah ditegur karena bibir merah merona saya, nah saya rasanya sudah kebal untuk masalah seperti ini. Jadi, lupakan saja rasa takut. Saya memilih untuk NEKAT !, toh saya memilih warna yang tidak begitu menarik kaum lebah membicarakan aksi saya.

Untuk hari kedua, saya mencoba untuk merubah teknik saya dalam memulas bibir dengan menggunakan produk ini. Saya terkesan karena hanya dalam satu kali swipe saja, pemulas bibir ini sudah bisa meng-cover seluruh permukaan bibir saya. Selain itu, untuk hari ini, saya tidak menggunakan jari-jari saya untuk meratakan produk ke permuakaan bibir. Teknik-nya saja yang perlu saya perbaiki dalam mengaplikasikan produk ini.

Untuk hari ini, saya mencoba untuk menguji ketahanan produk ini terutama ketika saya membawanya untuk bekerja. Saya penasaran, hasilnya.  Saya juga memaksakan untuk berhadapan dengan berbagai jenis makanan dan minuman yang saya konsumsi hari ini. Saya juga harus membiarkan kebiasaan saya mengonsumsi pemulas bibir secara tidak sadar (Ini mah bukan membiarkan, tapi memang tidak sadar).

Hasilnya, saya berikan hanya dalam waktu enam jam kurang. Sepertinya memang pemulas bibir ini tidak mencintai saya seperti saya mencintainya. Saya hanya makan mie rebus dan minum kopi segelas, tapi hasilnya sudah membuat saya hampir menangis. Karena sepertinya saya harus memulas ulang pelembap bibir ini dengan terlebih dahulu membersihkan bibir saya dari pemulas bibir sisa.

 

photogrid_15325906434257115482836477774546.jpg

Hasil Marcks’ Venus Soft Matte Lip Cream No. 3 ‘Phengaris’ setelah melewati test makan dan minum dan penggunaan beberapa jam.

 

Untuk membersihkan pemulas bibir ini, saya tidak membutuhkan pembersih make up khusus. Jika dalam keadaan urgent, saya biasanya menggunakan tissue basah saja. Kalau tidak dalam keadaan ini , maka saya akan menggunakan pembersih make up yang lebih khusus.

 

Rekomendasi ?

Secara pribadi saya mungkin tidak akan membeli kembali produk ini kalau milik saya ini sudah habis digunakan. Tapi, Saya tetap merekomendasikan produk pemulas bibir ini bagi teman-teman sekalian yang mencari produk pemulas bibir yang terasa ringan dibibir, lembap, pigmented, cocok untuk aktivitas di luar ruangan.

Tentu saja perlu dingat bahwa produk apapun yang kita gunakan, harus sesuai dengan kebutuhan dan keperluan kita masing-masing dan yang tidak kalah penting juga adalah harus sesuai dengan keadaan tubuh kita sendiri. Seperti misalnya pelembap bibir ini. Mungkin kelembapan bibir saya tidak sesuai dengan pemulas bibir ini, sehingga hasilnya seperti ini. Tapi, mungkin saja bagi teman-teman yang lain, pelembap bibir ini nyaman, dan asyik untuk digunakan.

Hayo, bagi kalian yang berniat untuk mencoba, jangan tunggu lebih lama lagi, grab yours ! dan tulis kesanmu setelah menggunakannya. Jangan lupa share dengan saya juga, saya akan dengan senang hati membaca dan memberikan komentar.

Selamat mencoba! Dan selamat berpetualang untuk hari ini.

Sebagai catatan tambahan,

Selama lebih dari 20 tahun ini saya memperhatikan bagaimana wanita-wanita disekitar saya mencintai dirinya, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa cantik fisik itu harus didahului oleh cantik hati dan pikiran, hati yang ringan dan bahagia memancarkan kecantikan special tersendiri yang sangat unik. Kecantikan seperti inilah yang lebih melekat dihati dan tahan lama dipikiran orang-orang yang memandangnya.

photogrid_15325221996324760651887735035242.jpg

Iklan

Surga di Telapak Kaki Ibu: Sebuah Polemik definisi tentang Surga

Capture

Kalimat “Surga di Telapak kaki Ibu” merupakan sebuah ungkapan yang sangat terkenal diantara kita. Ada juga yang mengenalnya dengan “Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu”. Kalimat ini memberi arti yang sangat mendalam terutama dalam hal penghormatan kepada sosok Ibu, terutama Ibu yang mengandung dan melahirkan kita.

Seperti yang dikutip dari Rappler.com, Surga di telapak Kaki Ibu ini ternyata pernah dibuat judul sebuah film yang terinspirasi dari kisah Malin Kundang. Film yang dimaksud belum lama ini terbit dan beredar di Masyarakat Indonesia. Hayooo…Siapa yang sudah menonton ? (Saya belum). Tapi, bukan ini maksud dari tulisan saya ini. Saya tidak berniat untuk promosi film ya…

Okay, Lanjut..

Mengenai kalimat ini, saya sempat berdebat dengan sahabat saya yang merupakan seorang dosen senior disalah satu Perguruan Tinggi Swasta di Kota Bandung. Saya sempat terlibat dalam beberapa proyek dengan Beliau dan pada suatu kesempatan, arah pembicaraan kami tertuju pada kalimat yang nampaknya menjadi persoalan sendiri baginya.

Bagi saya sendiri, kalimat ini menunjukkan penghormatan kepada sosok Ibu. Sosok yang mengandung, melahirkan dan membesarkan saya. Dalam artian, tidak boleh durhaka kepada Ibu sendiri. Mungkin sama persis dengan cerita Malin Kundang yang mengisyarakatkan untuk berbakti kepada orang tua, terutama kepada sosok Ibu. Berbakti dalam artian adalah berusaha untuk membahagiakan dan mendahulukan kepentingan sosok Ibu ini.

Tapi, bagi sahabat saya ini, tidak demikian. Sahabat saya menitikberatkan kalimat kiasan ini pada kata “Surga”. Menurutnya, Surga itu adalah tempat suci, tempat dimana Tahta Yang Maha Kuasa berada, tempat dimana Yang Maha Kuasa itu ada dan tinggal. Sangat tidak pantas jika diletakkan pada ‘telapak kaki Ibu’. Karena telapak kaki seorang Ibu diartikan sebagai tempat yang rendah, kotor karena menginjak bumi/tanah. Menurutnya, tidak ada hubungan sama sekali dengan upaya merendahkan diri untuk mencapai surga.

Lalu menurut Beliau, penggunaan kalimat kiasan ini sebaiknya dihindari. Lebih baik jika mengatakan bahwa Surga ada didalam Hati Nurani Ibu. Karena Hati Nurani menurutnya adalah tempat dimana Yang Maha Kuasa itu berbicara kepada Manusia, letaknya lebih tinggi dibandingkan telapak kaki.

Nah, bagaimana menurut teman-teman sekalian. Apakah Teman-teman setuju dengan pendapat Sahabat saya ini atau memiliki pendapat yang berbeda ?.

Red Lip dan hati yang dipaksa untuk siap menghadapi tantangan

 

Sejak beberapa waktu yang lalu, saya merubah sedikit gaya hidup saya terkait dengan perawatan diri. Saya memilih untuk menginvestasikan uang dan waktu saya pada skin care dan mempraktikkan make up yang natural dan tidak ada sama sekali. Tapi, saya memilih untuk tetap menggunakan lipstick atau pemulas bibir sebagai satu-satunya make up diwajah saya yang sama sekali tidak berwarna,

Silahkan baca disini: Menjadi Diri Sendiri: No Make Up Look Experience

Saat ini, karena pengaruh Ibu-ibu yang ada ditempat saya bekerja, saya juga ikut menggunakan pemulas bibir yang berwarna mulai dari warna yang natural hingga yang mencolok seperti merah. Menurut mereka, hal ini dilakukan untuk menambah kesan ‘percaya diri’ dan kenyamanan, “Kita harus berani untuk menggunakan warna bold seperti merah pada setiap kesempatan” Kira-kira demikian apa yang mereka katakan. Tanpa berpikir panjang, saya mengikuti saja trend dikalangan Ibu-ibu di kantor. Ya, mungkin sampai ada yang menegur kami karena menggunakan make up yang terlalu menor atau berlebihan nantinya.

Mungkin selain filosofi kopi, saya juga harus memperkenalkan filosofi bibir merah.

Lingkungan benar-benar mempengaruhi saya akhir-akhir ini, tapi saya juga menyetujui untuk mengikuti perubahan seperti ini. Selain karena rasa kebersamaan juga karena alasan pribadi, ‘saya ingin mencoba hal baru dan merasakan petualangan konyol dalam hidup’. Sebuah alasan klasik untuk anak dengan dasar pembangkang seperti saya pribadi.

Awal menggunakan pemulas bibir dengan warna mencolok ini was-was, sampai ketika tidak banyak yang protes dan keterusan sampai sekarang. Kadang, warna merah saya gunakan pada acara-acara sore atau malam yang memang tidak ada cahaya matahari sehingga warna merah dari bibir saya tidak terlalu mengganggu penglihatan orang lain. Untuk sehari-hari, saya masih menggunakan warna merah yang tidak mencolok, kadang orange atau pink yang hampir menyerupai warna normal bibir. Pernah suatu hari saya menggunakan warna pink yang sedikit gelap dan penampilan saya waktu itu membuat orang-orang berpikir bahwa saya mantan anak punk. Seriously?.

Warna merah (yang Ibu-ibu ini ajarkan) yang saya gunakan mengandung arti dan makna bahwa kita memaksakan diri untuk percaya diri dan stand out di banyak orang disekitar kita. Kita berani beda dan berani mengambil tanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan di dalam komunitas dan lingkungan milik kita. Sebuah filosofi yang menarik. Mungkin selain filosofi kopi, saya juga harus memperkenalkan filosofi bibir merah.

photogrid_15237918673061329595823.jpg

Warna merah yang melekat di bibir juga membuat banyak perhatian orang tertuju pada saya ketika ada pertemuan-pertemuan dan orang-orang menjadi mengenal saya dan banyak yang penasaran. Sehingga ketika dalam pertemuan ada beberapa orang yang dengan sengaja meminta saya untuk berbicara, mungkin untuk melakukan penilaian, apakah saya seberani atau sekuat warna merah yang ada dibibir saya atau hanya pulasan bibir yang tidak memiliki arti, hanya bibir merah yang tidak bisa apa-apa.

Untung saja, saya masih diselamatkan oleh banyak keberuntungan dan Tuhan masih melewatkan saya dari berbagai tangan dan mulut-mulut orang yang siap menerkam saya. Saya rasa hal seperti ini juga terjadi karena saya didukung oleh ibu-ibu super hebat yang berdiri di belakang saya sana.

Bibir merah dan keberanian yang dipaksakan mengantarkan saya pada keberanian untuk unjuk diri dan bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan. Ah, sebuah permenungan yang menarik. Semoga pimpinan kami tidak menegur kami setelah ini, karena sudah ber-make up terlalu menor dalam beberapa hari ini.

Salam.

 

Catatan dibalik layar:

Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya siapkan, tapi saya tahan-tahan untuk diterbitkan. Alasan menahan diri adalah karena belum merasa bahwa tulisan ini layak untuk diterbitkan atau di share di blog. Tapi, akhirnya memutuskan untuk, “Ya sudahlah. Publish saja!“.

Saat ini saya memang sedang berusaha untuk menguatkan hati dan pikiran supaya bisa kembali bekerja setelah beberapa hari meliburkan diri. Semoga tidak cepat bosan dan tetap mempertahankan hati dan pikiran yang produktif, tenaga yang kuat untuk bekerja dan mengabdi.

Oh ya, mengenai pemulas bibir yang saya gunakan. Bisa dicek disini, Maybelline Indonesia.

Jangan tanya Review mengenai pemulas bibir ini ya…Saya masih belum ahli menulis soal review produk kecantikan. Saya harus belajar dari beberapa ahli dulu wkwkwkwk.

Selamat bertualang kawan!

photogrid_15238046422271688106793.jpg