Lanjut ke konten
Iklan

Posts from the ‘Knowledge’ Category

Penelitian yang dikatakan, “Bias” seperti apakah itu ?

Oleh, Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Sebagai seorang Perawat, bidang lain yang saya tekuni saat ini adalah soal penelitian. Penelitian yang bergerak dalam bidang keperawatan dan kesehatan, terutama untuk bidang kajian keperawatan jiwa dan pendidikan.

Baca juga: Sensitifitas Publikasi Karya Hasil Penelitian

Kegiatan penelitian begitu sangat menarik hati saya, karena dunia penelitian menawarkan saya begitu banyak jalan yang tidak saya ‘pahami’ dan karena tidak pahamnya saya, saya terdorong untuk menggali lebih jauh dan lebih dalam lagi. Hingga saat ini, saya terus saja merasakan moment ‘AHA’ dalam petualangan saya dengan dunia penelitian.

Baca Juga: Evidence Based Practice dan mengapa ini sangat penting untuk Perawat: Sebuah Pengantar dan Refleksi.

Penelitian yang saya geluti saat ini, adalah jenis penelitian kualitatif. Sejak saya memilih penelitian ini sebagai metode penelitian saya waktu menyelesaikan penelitian sarjana saya, saya langsung jatuh cinta dengannya. Jujur, saya tidak bisa move on dari penelitian jenis ini dan terus penasaran dibuatnya. Penelitian ini sangat dan sangatlah kontroversial bagi para penikmat penelitian Kuantitatif, karena dilihat sebagai penelitian yang sangat rentan dengan ‘bias’ atau penyimpangan yang menjadi noda dalam pencarian kebenaran. Untuk mengenal apa itu bias, saya mendedikasikan sedikit tulisan oret-oret ini.

Nah, Bias sendiri diartikan sebagai, suatu faktor pengaruh yang dapat berkonstribusi dalam pembentukan hasil study yang error atau tidak tepat. Dalam Bahasa sederhana, Bias ini dapat menyebabkan penelitian kita menjadi tidak benar/tepat atau dipertanyakan kebenarannya. Banyak kan kasus-kasus dimana penelitian seseorang ditolak oleh panel ahli karena dikatakan bias, atau tidak benar dan hasilnya tidak valid. Dalam penelitian keperawatan, hal yang sama juga berlaku.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi biasnya sebuah penelitian, faktor-faktor ini juga akan menjawab mengapa penelitian keperawatan dengan jenis kualitatif sangatlah rentan bias, dan bagi banyak peneliti dengan menentang seorang mahasiswa awal, melakukan penelitian yang tergolong cukup beresiko ini.

Faktor dari Partisipant/mereka yang diteliti.

Partisipant memiliki kemungkinan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya atau dalam artian me-manipulasi data. Cukup sulit bagi peneliti untuk mengatakan bahwa partisipan ini memberikan data yang sebenarnya dan peneliti ini tidak memberikan data yang sebenarnya. Peneliti harus setidaknya memiliki pelatihan khusus, memiliki pengalaman dalam memvalidasi pembicaraan seseorang/kelompok dan menguji kebenaran data yang diterima. Ada seperangkat kompetensi yang harus dimiliki oleh calon peneliti.

Faktor peneliti.

Peneliti adalah seorang manusia yang memiliki seperangkat kompetensi untuk meneliti. Peneliti sangat rentan dengan subjektivitas ketika Ia melakukan penelitian. Sangat sulit rasanya untuk mempertahankan objektivitas ketika melakukan penelitian, terutama penelitian milik pribadi kita sendiri.

Faktor metode penelitian yang dipilih. Metode penelitian itu adalah hal yang sangat dan sangat penting, okay semua orang tahu mengenai ini. Metode penelitian yang kurang tepat, sangat rentan untuk jatuh kedalam label bias. Mulai dar,

  1. Sample yang tidak seimbang pemilihannya/pengambilannya, hanya akan menyebabkan data yang diambil juga menjadi kurang tepat. Misalkan, peneliti ingin melakukan penelitian mengenai Perilaku mengendalikan stress pada anak-anak remaja, lalu peneliti mengambil sample anak-anak yang hanya juara kelas. Tentu saja hasilnya nanti tidak bisa berlaku pada seluruh anak-anak remaja, penelitian ini mungkin saja hanya berlaku pada anak-anak yang tergolong kedalam juara kelas.
  2. Pengambilan data. Proses pengambilan data juga akan sangat mempengaruhi bias atau tidaknya sebuah penelitian. Misalkan, peneliti ingin meneliti mengenai kepuasan pemberian layanan keperawatan jiwa di Bangsal A. Tapi, peneliti adalah juga merupakan bagian yang penting dan sangat tidak bisa dipisahkan dari Bangsal A dan ikut merawat Klien dan anggota keluarga yang ada di Bangsal A. Ini tentu saja tidak tepat, karena hasil penelitian akan bias, partisipan penelitian mungkin saja akan memberikan penilaian yang memuaskan karena takut nanti peneliti tidak akan memberikan pelayanan yang mereka harapkan di Bangsal.
  3. Study design. Bagaimana seorang peneliti membangun penelitiannya sangatlah penting bagi hasil penelitian yang akan diraih kelak. Misalkan, peneliti adalah seorang perawat sekolah yang ingin melakukan penelitian mengenai stress belajar dari siswa-siswa ditempat Ia bekerja. Untuk mendapatkan data, Perawat ini langsung datang ke kelas dan menyebarkan kuesioner yang dibutuhkan, sambil menunggu agar siswa-siswi mengisinya. Kehadiran Perawat pada saat pengisian kuesioner dikelas akan mempengaruhi bagaimana siswa/I ini memberikan jawaban, siswa mungkin saja akan berpikir bahwa karena perawat ini tergesa-gesa, maka siswa akan menjawab seadanya dan terburu-buru.
  4. Pelaksanaan penelitian. Pelaksanaan penelitian bahkan dapat menyebabkan suatu penelitian menjadi bias. Jadi, berhati-hatilah dalam melaksanakan penelitian. Misalkan, peneliti ingin melihat praktik implementasi asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan masalah gangguan persepsi sensori, halusinasi. Peneliti lalu ikut dinas dan memperhatikan bagaimana perawat melakukan praktik asuhan keperawatan ini (Observasi). Pelaksanaan penelitian ini sangat rentan bias karena bisa saja karena tekanan adanya peneliti disana, perawat yang berencana untuk melakukan praktik asuhan menjadi cemas dan praktik yang dilakukan malah tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya atau bisa saja perawat tersebut merasa karena ingin diteliti, Ia lalu melakukan praktik asuhan tersebut sesuai dengan standar yang berlaku, sehingga nanti pikirnya hasil penelitian akan menjadi baik.

Bias memang tidak bisa dihindari, tapi jika peneliti tahu dan menguasai penelitiannya, dan tahu bagaimana meminimalisir bias ini, maka penelitian akan berakhir dengan sinyal ‘aman’.

Demikianlah tulisan saya kali ini, Semoga membantu mereka yang sedang berkutat dengan tugas akhir atau penelitiannya.

Bagi yang can relate dengan masalah mengenai bias-nya sebuah penelitian, ayo sharing pengalamanmu disini. Siapa tahu bisa membantu teman-temanmu yang lain.

Semoga bermanfaat.

Iklan

Indonesia Sehat melalui Perlindungan Imunisasi: Polemik Vaksin dan terbitnya Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018

Oleh, Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Masalah halal dan haram-nya imunisasi dan vaksinasi menjadi masalah yang sangat luar biasa di kalangan Netizen beberapa waktu yang lalu, terutama para Ibu. Hal ini wajar terjadi karena pada dasarnya seorang Ibu, naluri untuk menjaga dan melindungi buah hatinya sangatlah kuat. Selain karena masalah Halal dan Haram-nya vaksin, terutama Vaksin Measles Rubella (MR), masalah mengenai ‘Apakah betul Vaksin aman disuntikkan kedalam tubuh ?” juga menjadi perdebatan tersendiri yang sangat menarik untuk diikuti.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tentu saja tidak tinggal diam menghadapi masalah ini, dengan tekad untuk Indonesia Sehat, melalui berbagai kanalnya, Kementerian kesehatan berupaya untuk mencarikan jalan terbaik bagi perseteruan di kalangan masyarakat ini.

Untuk tulisan ini, saya akan membahas mengenai Fatwa MUI yang sudah dikeluarkan pada 20 Agustus 2018 yang lalu. Fatwa tersebut berbicara mengenai Vaksin MR dan juga dorongan kepada pemerintah untuk melindungi warga negaranya. Penting sekali informasi ini diketahui oleh masyarakat, terutama masyarakat yang beragama Islam yang akan membawa anaknya untuk diimunisasi dan sangat penting juga bagi tenaga kesehatan yang akan bertugas di lapangan untuk memberikan imunisasi kepada masyarakat.

 

IMG-20180823-WA0007-702x336

Pejabat Kementerian kesehatan dan MUI ketika melakukan pertemuan untuk membahas mengenai Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 yang baru saja terbit.

 

Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018

Setelah melalui proses diskusi dan studi yang mendalam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya mengeluarkan Fakwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin Measles Rubella (MR) pada tanggal 20 Agustus 2018 lalu. Fatwa ini menjelaskan bahwa pelaksanaan imunisasi dengan vaksin SII (Serum Institute of India) diperbolehkan. Alasan diperbolehkan ini adalah karena adanya tiga alasan ini, yaitu pertama, memenuhi ketentuan dlarurat syar’iiyah; kedua, belum adanya alternatif vaksin yang halal dan suci, dan yang terakhir adalah adanya keterangan ahli yang kompeten tentang bahaya yang bisa ditimbulkan jika tidak dilakukan vaksinasi. Sebagai catatan,  Vaksin MR yang diproduksi oleh SII menggunakan zat yang dikategorikan haram dalam proses pengolahannya. Begitulah kesimpulan yang dituturkan oleh Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni’am di Jakarta, 23 Agustus 2018 yang lalu.

 

Asrorun Ni'am

Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Ni’am

 

Lebih lanjut, Asrorum Ni’am menegaskan bahwa Fatwa MUI yang sudah dikeluarkan ini bisa dijadikan pijakan sekaligus panduan bagi pemerintah dalam melaksanakan imunisasi MR. Fatwa ini juga harusnya menjadi rujukan bagi masyarakat, khususnya bagi masyarakat muslim untuk tidak ragu lagi mengikuti imunisasi MR dengan vaksin yang sudah disediakan pemerintah.

Sikap Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 yang diterbitkan pada 20 Agustus 2018 yang lalu itu tentu saja menjadi keputusan yang sangat disambut baik di Lingkungan Kementerian Kesehatan. Hal ini terutama karena Fatwa ini bersinergi dengan program kementerian kesehatan dan juga komitmen pemerintah untuk melindungi seluruh waga negara Indonesia dari bahaya akibat penyakit campak dan penyakit lainnya yang bisa dicegah dengan pemberian vaksinasi dan imunisasi.

Menteri Kesehatan Ibu Nila Farid Moeloek dalam sambutannya pada 23 Agustus 2018 yang lalu mengekspresikan antusiasme-nya untuk menyambut Fatwa ini dan menuturkan bahwa Imunisasi akan sangat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia terutama menjauhkan diri dari penyakit berbahaya yang bisa mengancam jiwa anak-anak, melindungi generasi agar tumbuh menjadi bangsa yang sehat, cerdas dan kuat, serta membawa maslahat untuk umat manusia semuanya. Lebih lanjut, Menteri Kesehatan juga mendorong upaya sinergi dari semua pihak untuk mensukseskan program imunisasi ini keseluruh pelosok Indonesia terutama untuk menurunkan beban dan dampak dari penyakit-penyakit yang kemungkinan bisa dicegah dengan menggunakan langkah vaksinasi.

Meskipun sejak tahun 1982 Indonesia sudah melaksanakan pemberian imunisasi campak secara rutin kepada anak usia 9 bulan, tapi tetap saja pemberian imunisasi ini tidak merata di seluruh Indonesia, sehingga menyisakan daerah kantong yang berpotensi melahirkan kejadian luar biasa seperti Kejadian Luar biasa (KLB) Campak seperti yang baru saja terjadi di Asmat awal tahun 2018 yang lalu. Perlu diketahui bersama bahwa berdasarkan data publikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2015, Indonesia masuk kedalam 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia. Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah kasus Campak dan Rubella yang ada di Indonesia sangat banyak dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Antara tahun 2014 s.d Juli 2018 tercatat sebanyak 57.056 kasus (8.964 positif Campak dan 5.737 positif Rubella). Dirjen P2P Kemenkes RI, Anung Sugihantono menambahkan bahwa lebih dari tiga per empat dari total kasus yang dilaporkan, baik Campak (89%) maupun Rubella (77%) diderita oleh anak-anak yang berusia di bawah 15 tahun. Fakta ini ingin menunjukkan bahwa baik pemerintah dan kita semua, warga Indonesia memiliki tantangan yang besar untuk mengatasi masalah-masalah  ini kedepannya.

Campak dan Rubella

Penyakit campak dan Rubella adalah penyakit yang paling ditakutkan dapat terjadi jika masyarakat atau individu tidak melakukan vaksinasi terutama Vaksin MR.

Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan sangat mudah menular. Virus bergerak dan menularkan diri melalui udara terutama ketika batuk dan bersin. Gejala penyakit Campak yang dapat kita lihat adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai dengan batuk dan/atau pilek dan/atau konjungtivitis (radang selaput mata) yang dapat berujung pada komplikasi berupa pneumonia, diare, meningitis dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Ketika seseorang terkena Campak, 90% orang yang berinteraksi erat dengan penderita dapat tertular jika mereka belum memiliki kekebalan terhadap Campak. Kekebalan ini terbentuk jika individu telah diimunisasi atau pernah terinfeksi virus campak sebelumnya.

Komplikasi dari campak yang dapat menyebabkan kematian adalah Pneumonia (radang Paru) dan ensefalitis (radang otak). Sekitar 1 dari 20 penderita Campak akan mengalami komplikasi radang paru dan 1 dari 1.000 penderita juga akan mengalami komplikasi radang otak. Selain itu, komplikasi lain adalah infeksi telinga yang berujung tuli (dapat terjadi dengan perbandingan 1 dari 10 penderita), diare (1 dari 10 penderita) yang menyebabkan penderita harus melakukan perawatan dan pengawasan yang intensif di Rumah sakit.

Sementara itu, Rubella adalah penyakit akut dan ringan yang sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan dengan gejala yang tidak spesifik (tidak jelas) dan juga mudah menular. Hal yang menjadi perhatian dalam bidang kesehatan adalah efek teratogenik apabila virus Rubella menginfeksi anak yang berada dekat dengan wanita hamil, dan menularkan virus tersebut terutama pada masa awal kehamilan (pembentukan janin). Infeksi Rubella pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan permanen pada bayi yang dilahirkan atau dikenal dengan Congenital Rubella Syndrome (CRS) yang bisa menunjukkan tanda dan gejala berupa ketulian, gangguan penglihatan bahkan kebutaan, hingga kelainan jantung, bahkan kelainan pada otak seperti pengecilan pada otak. Data dari 12 rumah sakit yang menjadi sentinel pemantauan kasus CRS selama lima tahun terakhir s.d Juli 2018, seperti yang telah dicatat oleh Kementerian kesehatan telah menemukan 1.660 kasus suspek CRS.

Penyakit Campak atau Rubella ini bisa menyerang siapa saja baik laki-laki maupun perempuan. Hingga saat ini, belum ada satupun pengobatan yang ditemukan dapat mematikan virus Rubella yang masuk ke dalam tubuh seorang individu. Untuk menghadapi serangan virus dan penyakit ini, Imunisasi merupakan satu-satunya upaya yang dapat kita lakukan bersama, yang terbukti paling efektif sebagai langkah pencegahan penyakit-penyakit yang sudah digambarkan diatas.

Sikap yang diharapkan dari Petugas Kesehatan di Lapangan

Petugas kesehatan yang berada di lapangan seperti Dokter, Perawat, Bidan dan masih banyak lagi, penting sekali mengetahui mengenai perkembangan pemberian Vaksin MR ini. Apalagi mengingat bahwa Vaksin MR adalah vaksin wajib yang harus diberikan kepada seorang Individu dalam masa-masa pertumbuhannya.

Menghadapi polemik seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penting sekali bagi petugas kesehatan untuk mengeluarkan jurus ‘pendidikan kesehatan’ miliknya kepada masyarakat yang datang untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan sekaligus imunisasi. Masyarakat perlu diberi informasi mengenai perkembangan pemberian Vaksin MR dan Fatwa MUI yang sudah dikeluarkan ini. Tujuannya tiada lain dan tiada bukan, yaitu untuk melindungi masyarakat Indonesia sendiri dari bahaya tidak diimunisasi.

Pemberian pendidikan kesehatan seperti yang disebutkan sebelumnya, dapat dilakukan dalam bentuk kampanye sehat, penyuluhan kesehatan dan juga konseling dengan pendekatan yang persuasive. Pemilihan metode ini disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Hanya saja, petugas kesehatan perlu menggarisbawahi bahwa apapun metode pendidikan kesehatan yang diberikan, masyarakat harus paham betul mengenai informasi seputar imunisasi ini sebelum mereka mengambil keputusan bagi diri mereka sendiri dan juga anggota keluarganya. Petugas kesehatan harus bisa memastikan bahwa infomasi yang diberikan harus sama dengan informasi yang diterima oleh masyarakat yang bersangkutan. Hal ini penting untuk mencegah kesalahpahaman dikemudian hari.

Demikianlah, pada praktiknya pelaksanaan Imunisasi MR dan juga pelaksanaan Imunisasi secara keseluruhan merupakan amanah dari semua pihak. Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa yang dikeluarkannya juga berusaha untuk menjaga amanah ini. Amanah baik ini tentu saja ditujukan untuk melindungi generasi penerus bangsa dari ancaman penyakit berbahaya yang bisa menimbulkan kematian dan kecacatan permanen. Amanah ini juga menekankan pencapaian tujuan secara bersama-sama, bergotong royong dan bersinergi demi Indonesia yang jaya dan Indonesia yang Sehat.

Salam Indonesia Sehat !.

(Seminar Report) Championing Support: Harm Reduction Approach to Working with People Who Use Drugs

20180810_1441585753253542872082871.jpg

Oleh, Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Pada tanggal 10 Agustus 2018 kemarin, saya diberi kesempatan untuk mengikuti secara gratis seminar mengenai penanganan untuk para pecandu obat-obat terlarang. Kesempatan ini saya dapatkan karena sejak kurang lebih setahun lalu, saya mengikuti proyek bersama untuk menggali informasi seputar terapi rehabilitasi bagi para pecandu obat-obat terlarang atau Drug Users. Fokus project saya waktu itu adalah spiritual care yang khusus diberikan oleh Perawat kepada Klien dengan masalah kecanduan obat-obatan terlarang, sayangnya memang saya tidak menggali lebih jauh mengenai kecanduan minum-minuman keras atau alkoholik.

Seminar gratis ini diselenggarakan oleh Collage of Nursing, University of the Philippines Manila yang bekerja sama dengan No Box Philippines. Seminar ini berlangsung selama kurang lebih tiga jam bertempat di Seminar Room, Room 215, Sotej Hall, UPCN (University of the Philippines, College of Nursing). Pembicara untuk seminar ini adalah seorang praktisi kesehatan, peneliti dan juga pembicara yang sangat handal, Dr. Andrew Tatarsky dari New York, Amerika Serikat. Ia datang memang sangat disengaja, atas undangan dari organisasi non-profit yang bergerak dalam promosi dan rehabilitasi drug users di Filipina, No Box Philippines yang saya sebutkan sebelumnya. Saya adalah salah satu orang yang sangat beruntung mendapatkan undangan untuk ikut serta dalam program menarik ini. Nah, sebagai rasa syukur saya, saya berniat untuk membagikan informasi penting untuk bisa kita perhatikan bersama mengenai ‘jalan lain’ untuk menangani mereka dengan masalah kecanduan narkoba atau obat-obatan terlarang.

Berikut adalah laporan perjalanan dan juga laporan hasil Seminar yang berhasil saya rangkum.

Mengapa Filipina?

Jika Indonesia sempat heboh dan mungkin sampai sekarang masih sangat heboh dengan hukuman mati bagi pengedar Narkoba dan obat-obatan terlarang, Filipina terkenal lebih keji lagi. Filipina, dibawah komando Presiden Rodrigo Duterte mengimplementasikan operasi tembak ditempat bagi pengedar bahkan yang lebih parahnya pemakai obat-obatan terlarang ini. Negara ini bahkan menjadi perhatian dunia International akibat implementasi hukum yang dinilai luar biasa sangat tidak manusiawi ini. Bayangkan saja, tembak ditempat !.

Implementasi dari hukuman tembak mati ini membuat semua orang, ketakutan. Takut untuk kelaur rumah bahkan merasa was-was dalam tidurnya. Saya masih ingat betul beberapa waktu yang lalu, sebelum saya kembali ke Indonesia, saya pernah melihat secara langsung mayat seseorang yang berdarah, dikerumuni oleh wartawan dan banyak aparat. Mayat ini tiada lain dan tiada bukan adalah korban dari hukuman tembak ditempat yang diimplementasikan oleh negara ini. Ketika ada kesempatan, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada salah satu warga, menurut pendapat warga ini, korban yang meninggal ini adalah seorang homeless yang sering tinggal didaerah tempat tinggal saya waktu itu. Tidak ada yang tahu kalau Ia adalah pengguna atau agen pengedar obat-obat terlarang ini. Warga cukup kaget karena tiba-tiba saja ada letusan yang cukup keras dan tergeletaklah mayat dengan darah merah-hitam, menghiasi senja yang sudah mulai gelap waktu itu.

Sampai saat ini, masih belum bisa hilang dari ingatan saya, warna merah kehitaman darah yang merembes dari tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa tersebut. Saya masih bertanya-tanya bagaimana si penembak tahu dan memastikan bahwa orang yang ditembaknya ini adalah memang orang yang menjadi kunci penting dari kasus Narkoba atau pengedaran obat-obatan terlarang ini ?. Korban bahkan tidak diberi kesempatan untuk bernegosiasi dengan nyawanya.

Operasi seperti ini terus berjalan sampai saat ini, sudah tidak terhitung lagi banyak korban yang berjatuhan dan banyak keluarga yang menangisi anggota keluarganya yang malang.

Melihat kondisi seperti ini, saya waktu itu sempat mempertanyakan bagaimana penanganan detoksifikasi obat atau rehabilitasi untuk para pengguna. Jawaban yang saya temukan selalu tidak memuaskan. Mungkin karena saya adalah orang asing, teman-teman saya ini berusaha untuk menutupi informasi mengenai isu yang sangat sensitive ini. Ya, saya tidak menyerah hanya disini saja, saya coba mencari dokumen atau kepingan informasi dari internet, jurnal peneltiian dan hasil yang saya dapatkan sesuai dengan apa yang saya perkirakan. Mereka ternyata tidak memiliki system rehabilitasi dan hukum yang baik jika dibandingkan dengan negara kita, Indonesia. Meskipun negara kita tidak memberikan kata ‘ampun’ pada para pengedar narkoba dan obat-obatan terlarang, setidaknya negara kita masih memberi ampun pada pemakai/pengguna aktif obat-obatan ini. Upaya untuk detoksifikasi dan juga rehabilitasi masih terus dilakukan dan kualitasnya masih terus ditingkatkan sampai saat ini.

Dengan latar belakang ini, jelas diperlukan adanya terapi yang efektif, untuk membuka mata banyak orang bahwa ‘ada cara lain yang lebih manusiawi’ terutama terhadap para pengguna. Masih ada upaya dan masih ada harapan diluar sana untuk membawa kembali para pemakai obat-obatan terlarang ini untuk kembali produktif seperti manusia-manusia normal lainnya. Dan semangat inilah yang menjadi awalan untuk seminar luar biasaya yang saya ikuti ini.

Silahkan untuk membaca laporan dari Reporter Rappler, Samantha Bagayas dengan judul How Compassionate Pragmatism can Help drug users, untuk melihat lebih jauh motif dari seminar dan pelatihan mengenai terapi ini.

20180810_1626037532974894214511923.jpg

Dr. Andrew Tatarsky

 

Apa itu Harm-Reduction?

Harm-reduction diartikan melalui sumbernya sebagai,

Harm reduction is a revolutionary framework for addressing substance misuse and addiction and other potentially risky behaviours that does not require abstinence.

Harm-reduction juga akan lebih dikenal sebagai integrative Harm Reduction Psycotherapy (IHRP) merupakan sebuah treatment yang efektif dengan menggunakan full spectrum atau broad spectrum untuk menangani Klien dengan masalah Substance use. Konsep ini dipopulerkan oleh Andrew Tatarsky dan sahabatnya G. Alan Marlatt beberapa tahun silam dan sudah banyak dipergunakan untuk membantu banyak orang dalam menangani masalah kecanduan obat dan alcohol.

Harm-reduction juga dikenal sebagai, “Compassionate Pragmatism”, hal ini karenakan terapi ini dimulai dengan penerimaan yang bersifat pragmatic dan menekankan bahwa masing-masing individu memilih untuk menggunakan obat-obatan terlarang dan mengonsumsi alcohol sebagai bentuk dan upaya perlidungan diri terhadap ancaman dari lingkungan dan dari orang lain. Terapi ini menekankan pentingnya penerimaan dan pemahaman yang mendalam terkait dengan alasan dari sudut pandang individu (pemakai) mengenai alasan mengapa Ia memilih untuk menggunakan barang-barang terlarang. Inidvidu dan therapist dalam terapi ini nantinya akan secara personal menjalankan hubungan terapeutik untuk mencapai tujuan yang menantang yaitu terlepas sepenuhnya dari obat-obatan terlarang.

Prinsip klinik dari Harm Reduction Psychotherapy

Prinsip klinis dari terapi ini ditekankan pada tiga hal utama yaitu 1) melihat dan menangani klien sebagai seorang individu yang paling penting dan utama (Patient center), 2) menciptakan terapi yang didasarkan oleh hubungan terapeutik yang membawa penyembuhan dan pemulihan, 3) bersifat ‘bimbingan’, bukan paksaan.

Prinsip klinik ini dapat dilihat juga secara lengkap pada tulisan Andrew Tatarsky dan G.Alan Marlatt dengan judul State of the Art in Harm Reduction Psychotherapy: An Emerging Treatment for Substance Misuse.

Secara lebih spesifik, prinsip yang digunakan dalam terapi ini akan dijelaskan sebagai berikut, (Saya berusaha merangkum dan menjelaskannya secara sederhana dengan menguraikannya sebagai berikut).

  • Masalah ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang bahkan masalah alkoholik, hanya dapat ditangani dengan merubah paradigma bahwa perawatan itu haruslah bersifat individual dan komprehensif, sesuai dengan lingkungan social dimana individu ini hidup. Dalam artian, masalah Klien yang bersifat personal, haruslah diatasi secara personal dengan/bersama Klien. Tapi, meskipun berisifat personal dan sangat individu, Klien juga adalah makhluk social yang selalu terhubung dengan lingkungan sosialnya. Penanganan/terapi yang diberikan haruslah dilakukan secara personal dengan mengembangkan terapi dalam lingkungan sosialnya.
  • Temui Klien dan hargai Ia sebagai seorang individu yang personal. Individu ini memiliki kekuatan, kelemahan dan juga kebutuhan serta potensi untuk mewujudkan sesuatu. Petugas kesehatan harus secara terus menerus mengingat hal penting ini, karena ini akan sangat berguna nanti untuk perencanaan terapi dan intervensi kedepannya.
  • Ingat, setiap individu memiliki kekuatan yang siap untuk dipergunakan bagi kepentingan diri pribadinya. Petugas kesehatan dalam hal ini adalah Perawat harus bisa menggali dan menemukan kekuatan dalam diri klien yang dirawatnya, ini sangat penting untuk menyukseskan pencapaian tujuan terapi yang diharapkan. Perawat tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan dari perawat sendiri, kekuatan yang dimiliki oleh klien inilah yang terpenting. Kekuatan ini dapat berupa motivasi atau alasan untuk mengerjakan atau melakukan sesuatu.
  • Stigma masih melekat dengan sangat kuat terhadap para pelaku/klien. Perawat harus bekerja dengan sangat keras untuk melawan dan merubah stigma negative yang melekat kuat di pecandu dan menyakinkan masyarakat bahwa ‘ada cara lain’ untuk membantu mereka dan bahwa para pecandu ini juga adalah bagian dari masyarakat yang harus diselamatkan.
  • Obat-obat terlarang yang digunakan oleh Klien/korban digunakan sebagai respon ‘adaptif’ terhadap stress atau masalah yang dialami oleh Klien. Sayangnya memang, respon adaptif yang ditunjukkan oleh individu ini bersifat negative dan merugikan. Hal penting ini sangat perlu diingat oleh Individu.
  • Penggunaan obat-obatan terlarang ini bersifat ‘lanjut’, dalam artian berkembang dalam jumlah dosis dan bahkan mungkin jenis dari obat.
  • Seperti halnya hubungan terapeutik yang terjalin antara perawat dan Klien dengan masalah gangguan jiwa, perawat harus selalu ingat bahwa tidak pernah diijinkan untuk melakukan/membuat keputusan terhadap kondisi Klien sebelum Perawat melakukan pengkajian secara mendalam dan menyeluruh. Persepsi yang dibuat oleh Perawat sebelum Ia bertemu dengan Klien akan menentukan keberhasilan hubungan terapeutik yang terjalin antara keduanya.
  • Tujuan utama dalam terapi adalah hubungan terapeutik antara perawat dan Klien. Hubungan inilah nanti yang akan membantu Klien berhadapan dengan masalah yang Ia alami dan tentu saja adalah prinsip utama dalam terapi ini.
  • Mulailah terapi dari mana klien berada. Ini adalah hal yang sangat penting untuk terus menerus diperhatikan. Perawat tidak bisa menawarkan sembarang paket pelayanan atau asuhan keperawatan tanpa melihat kebutuhan Klien. Karena jika tidak, hanya kesia-siaanlah yang akan didapatkan oleh baik perawat dan Klien.
  • Berusahalah untuk menemukan kekuatan yang dimiliki oleh Klien utnuk melakukan perubahan. Harm-reduction therapy menggerakkan kita untuk melihat kekuatan dan motivasi yang dimiliki oleh Klien. Terutama motivasi untuk berubah dari keadaannya yang tidak nyaman menjadi atau menuju keadaan yang lebih baik dimasa yang akan datang. Perawat bersama Klien diharapkan menemukan kedua hal penting ini secara bersama-sama yang sangat bermanfaat bagi kelancaran proses penyembuhan yang akan dijalani nanti.
  • Jalinlah hubungan yang berlandaskan kolaborasi, yang bersifat membangun (empowering) dengan Klien. Hubungan antara perawat dan klien haruslah berupa hubugan yang bersifat equal, dalam artian tidak ada yang superior antara perawat dan Klien. Keduanya harus berada dalam posisi yang sejajar, terutama dalam terapi. Mungkin pembeda antara keduanya adalah peran, perawat akan bekerja sebagai therapist dan klien akan menjadi individu yang membutuhkan terapi.
  • Tujuan dan strategi terapi didapatkan dari proses terapeutik yang dijalankan antara perawat dan Klien. Kebutuhan Klien, motivasi, tujuan dan kekuatan yang dimilikinya, akan menjadi penentu keberhasilan terapi. Tantangan yang nantinya dihadapi oleh Perawat/therapist adalah bagaimana perawat dapat menciptakan lingkungan/suasana terapeutik dan menggunakan dirinya sendiri sebagai media bagi Klien untuk merubah perilakunya.

Demikianlah, beberapa hal penting yang perlu digarisbawahi dan diketahui oleh kita semua, terutama mereka yang bekerja sebagai petugas kesehatan. Prinsip-prinisp ini tentu saja dapat kita gunakan dan kita adaptasi dalam lingkungan praktik kita, terutama jika kita memang berniat untuk mendalami upaya untuk membantu Klien dengan masalah substance abuse dan alkoholik.

Sedikit komentar dari Saya

Mendalami mengenai terapi ini, tentu saja sangat menyenangkan bagi saya pribadi, sungguh. Saya menyadari betul bahwa tidak banyak orang yang mendapatkan kesempatan yang sama seperti saya, dan sebagai ucapan syukur itulah saya bersemangat untuk membagikan ilmu ini dengan cuma-cuma, dengan harapan kita pun dapat tergerak untuk memperhatikan misi baik yang dibawa dalam kegiatan seminar ini dan siapa tahu berniat untuk mengimplementasikannya di tempat kita berkarya.

Lebih jauh, terapi yang ditawarkan oleh Dr. Andrew Tatarsky ini sangat dekat konsepnya dengan konsep asuhan keperawatan jiwa yang kita pelajari di Indonesia, terutama landasan terapi dan bahkan prinsip-prinsipnya. Ketika mengikuti rangkaian seminar mengenai topik ini, saya berkomentar didalam hati, “Aha, ini mirip sekali dengan terapi milik ilmu keperawatan, hampir tidak ada pembeda!”. Pemikiran ini membuat saya berpikir, jika memang ingin meng-copy terapi ini dan melakukannya di tempat kerja kita, kita tidak perlu jauh-jauh mengundang Dr. Andrew Tatarsky ketempat kita, kita hanya perlu menguatkan pemberian asuhan keperawatan jiwa yang sudah kita miliki, mengujinya dan tentu saja mempraktikkannya dengan benar, jangan lupa untuk evaluasi dan tindak lanjutnya.

Hubungan terapeutik yang saya maksudkan adalah juga menyangkut praktik berkomunikasi secara terapeutik dengan menerapkan teknik-teknik komunikasi dengan Klien atau resident yang kita rawat di pusat rehabilitasi atau di tempat praktik lainnya.

Demikianlah laporan seminar saya kali ini, perlu waktu cukup lama bagi saya untuk melaporkannya karena alasan tertentu, tapi saya puas akhirnya berhasil menyelesaikan laporan ini dan siap untuk dibaca oleh pembaca budiman sekalian.

Bagi teman-teman yang ingin mendalami lebih jauh mengenai terapi ini, silahkan untuk menghubungi saya di alamat dan informasi kontak yang sudah disediakan.

Mari bersama membangun negeri dengan menyehatkan masyarakatnya !

Kerja kita, prestasi negeri !