Lanjut ke konten
Iklan

Posts from the ‘Travel and Adventure Diaries’ Category

Keseruan Persiapan dan Pembukaan ASIAN GAMES 2018 bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Bagian II)

Oleh,

Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Setelah menuliskan mengenai Keseruan Persiapan dan Pembukaan ASIAN GAMES 2018 bersama Bitread Publishing dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Bagian I), saya siap untuk membagikan kisah perjalanan ini selanjutnya. Semoga yang membaca tidak bosan ya.

 

photogrid_15349545664897875607344104911471.jpg

Salah satu Gedung di Komplek Kota Tua Jakarta yang berhasil saya abadikan sebelum kami melangkah ke tempat selanjutnya.

 

Saya harap, teman-teman tidak hanya melihat keseruan dari apa yang saya alami, tapi lebih mengambil makna dari pengalaman-pengalaman ini. Ambil pelajaran positif yang ada disini, tinggalkan hal-hal negatifnya.

Pertemuan dengan Anggota Project Pop, Mas Yosi

Setelah Makan siang di Pinggiran Ancol, kami lalu berpindah tempat ke sebuah restoran atau saya katakan tempat nongkrong asyik yang juga masih di area Ancol. Pertemuan kami ini memang direncanakan oleh Panitia, tapi tidak dijelaskan lebih detail ‘ada apa’-nya.

Saya bukan orang yang menyukai kejutan, tapi kegiatan ini saya golongkan sebagai pengecualian. Saya menunggu dan ingin merasakan setiap kejutan yang disiapkan bagi saya dan teman-teman, entah itu berupa tidak tidur sampai pagi atau terserahlah. Saya terlalu lelah memikirkan beberapa menit kedepan, atau bahkan apa yang akan kami lakukan kemudian.

Kami dikumpulkan pada sebuah café-restoran dan tempat nongkrong asyik dimana sudah ada panggung yang disediakan disana dan juga tempat duduk yang super comfy. Sangat cocok untuk nongkrong sore hari. Saya dan teman-teman mengambil tempat strategis di barisan kedua di depan panggung. Tidak terlalu menonjol di depan dan sedikit tersembunyi kalau misalkan kami berteriak-teriak terlalu kencang.

 

photogrid_15349546354854877816857438147940.jpg

Restoran Segarra, Tempat pertemuan malam itu.

 

Sambil menunggu, kami dikejutkan oleh kedatangan tamu Istimewa, Mas Yosi dari Project Pop. Siapa yang tidak kenal dengan Project Pop, Band super gokil dan sangat luar biasa ini sudah menjadi bintang di hati saya ketika masih remaja, dan saat ini, salah satu vokalisnya, Mas Yosi, hadir ditengah-tengah kami. Mas Yosi datang atas permintaan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk mengajarkan kami ‘yel-yel’. Wooooaaa….Bukankah ini luar biasa ?.

Mas Yosi benar-benar sangat berbakat, dengan gayanya yang sangat luwes, Ia membimbing kami untuk mempelajari empat yel-yel sekaligus!. Ia pun memilih diantara kami pemimpin yang akan membimbing kami menyerukan yel-yel di Stadiun Gelora Bung Karno nanti. Saya tidak bisa tidak bahagia karena ini. Terima kasih banyak, Mas Yos. You are the best, Dah !

 

img_20180823_0021594249161138028211819.jpg

Mas Yosi, Project-Pop

 

Kuliah Bersama Prof. Dr. Drs. Henri Subiakto, S.H., M.Si

Rangkaian kegiatan yang saya alami, benar-benar luar biasa dan penuh kejutan. Saya menjadi tidak sabar untuk menanti kejutan lanjutan. Ya, kejutan lanjutan diberikan kepada kami semua dalam rupa ‘kuliah’ umum yang singkat bersama Prof. Henri Subiakto. Beliau adalah seorang Staf Ahli Menkominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa dan lebih penitngnya, Beliau adalah salah satu orang yang bergerak merevisi undang-undang ITE yang sangat ramai dan diperbincangkan beberapa waktu yang telah lewat.

 

photogrid_15349547606896532165747466802979.jpg

Prof. Dr. Drs. Henri Subiakto, S.H., M.Si

 

Prof. Henri dengan rendah hati memperkenalkan sebagai Dosen Universitas Airlangga Surabaya untuk mata ajar Ilmu Komunikasi. Lebih jauh saya baru tahu bahwa Beliau juga adalah seorang pakar Ilmu Komunikasi Politik, sesuatu yang sangat menarik hati saya. Saya benar-benar sangat beruntung mendapatkan kuliah langsung dari Beliau.

Seperti jabatan professor dan juga guru besar yang disematkan pada namanya, Beliau memberikan kuliah umum dengan sangat luar biasa bagi saya dan juga teman-teman yang lain. Saya benar langsung terbius oleh gayanya mengajar, sangat Indonesia dan sangat berkarisma. Salut ! (Maafkanlah saya yang terlalu banyak memuji Beliau, hanya saja, saya langsung jatuh cinta dengan apapun yang Beliau tampilkan kepada kami peserta waktu itu).

Topik yang dibawakan Beliau pada kuliah umumnya ini adalah mengenai “Bhineka Tunggal Ika dalam ber-Media Sosial”. Dalam topik ini, terdapat beberapa pembahasan mengenai budaya asli milik Indonesia, Hoax dan cara untuk menjaga diri dari berita yang bersifat Hoax, dan yang terakhir adalah Hypno-writing. Mengenai budaya asli milik Indonesia, entah teman-teman sadar atau tidak, susah sekali untuk menemukan yang Namanya ‘budaya asli milik Indonesia’. Budaya yang kita sebut sebagai budaya asli adalah budaya hasil perpaduan dari berbagai budaya kesukuan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Misalkan, kebaya adalah budaya berpakaian asal Suku Jawa. Penjelasan yang diberikan oleh Prof. Hendri ini juga menyadarkan saya kembali betapa luar biasanya Bangsa Indonesia. Bayangkan saja, menegakkan sebuah negara yang terdiri dari ratusan suku bangsa dan Bahasa?. Bukankah ini sangat luar biasa ?. Bahkan Amerika Serikat-pun hanya terdiri dari 50 States dan dari 50 States ini tidak ada yang variasinya seperti milik Indonesia. Menyadari hal ini, bukankah kita sepatutnya bangga ? dan bangga kita seharusnya diwujudkan dengan menjaga persatuan dan kesatuan yang sudah kita miliki ?.

Mengenai Hoax, Prof. Hendri mengajarkan mengenai pentingnya memilih berita-berita yang kita baca di media social atau di dunia maya. Pada saat ini, apalagi menjelang pemilu, banyak sekali berita-berita yang bernuansa kampanye untuk menjatuhkan atau sebaliknya membangkitkan image dari calon pemimpin yang akan berlaga di pemilihan umum tahun depan. Sebagai seorang pembaca yang baik, sudah seharusnyalah kita memperkaya diri dengan pengetahuan yang cukup, terutama untuk menangkal berita-berita hoax yang ada di dunia maya. Untuk membekali diri kita dengan kemampuan dan keterampilan untuk membedakan berita hoax dan tidak, saya sarankan teman-teman untuk membaca tulisan milik Agung DH yang berjudul Cara membedakan Berita Hoax atau benar di Musim Pilkada.

Kejutan terakhir, D’Masiv

Acara kami yang super kece ini, sebenarnya dipandu oleh tiga orang MC (Master of Ceremony) yang sangat luar biasa, tapi sayangnya saya tidak mengambil satupun foto mereka bertiga. Ketiga MC ini, jago bener dalam membawakan acara. Beda sangat dengan MC yang sering membawa acara kami di kampung pastinya. Mereka bertiga ini sudah level Nasional dan ada diantara mereka yang memang berasal dari salah satu stasiun televisi, Metro TV.

Ketiganya memberikan kami kejutan yang sangat luar biasa! Kementerian Komunikasi dan Informatika menghadiahkan kami kedatangan D’Masiv. Ya, Tuhan…Kurang apa coba !

 

photogrid_15350266543268703712913460749566.jpg

Rian D’Masiv

 

Saya benar-benar mau pingsan ketika melihat Rian D’Masiv berdiri diatas panggung. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak berlari kearah panggung dan langsung ikut bernyanyi dengan teman-teman saya disana. Maklum, baru pertama kali melihat artis ibukota secara langsung dengan jarak super dekat, dan Yupz, saya berhasil menyentuh tangannya. Sungguh jauh berbeda dengan tangan saya yang banyak kapalannya.

Malam ini, benar-benar seperti mimpi. Saya hampir tidak bisa tidur sesampainya di hotel tempat kami menginap. Saya tidak pernah meminta Tuhan untuk mengirimkan saya paket kebahagiaan seperti ini, setelah masa-masa sulit dan sangat menderita yang saya alami. Saya hanya bisa bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas segala nikmatNya. Atas segala cinta dan kasihNya. Saya bukan siapa-siapa, tapi Ia begitu memperhatikan saya sampai sedetail ini. Segala Puji dan Puja hanya milik Tuhan.

Untuk menutup malam itu, saya tidak lupa menyandungkan salah satu milik D’Masiv,

“Saat aku tertawa di atas semua

Saat aku menangisi kesedihanku

 Aku ingin engkau selalu ada

Aku ingin engkau aku kenang

 Selama aku masih bisa bernafas

Masih sanggup berjalan

Ku kan slalu memujamu

Meski ku tak tau lagi

Engkau ada di mana

Dengarkan aku ku merindukanmu…”

Bersambung…

Iklan

Keseruan Persiapan dan Pembukaan ASIAN GAMES 2018 bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Bagian I)

Oleh,

Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Setelah menjalani Marathon menuju Writingthon Asian Games 2018, menikmati jamuan makan malam sambil menikmati sejarah di Gedung Arsip Nasional, saya bersiap untuk menjalani persiapan pembukaan Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Pada kesempatan ini, saya akan membagikan sedikit pengalaman saya selama beberapa hari di Jakarta untuk tujuan menyambut pembukaan Asian Games 2018 yang katanya sangat meriah dan spektakuler itu.

Amanat Bapak Presiden

Setelah dua hari di Jakarta, saya baru menyadari bahwa dikumpulkannya saya dan teman-teman dari 34 provinsi di Indonesia adalah karena amanat dari Bapak Presiden, Joko Widodo. Seperti disampaikan oleh Ibu Dra. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si, Direktur Jenderal Informasi dan Komuniksi Publik, dalam sambutannya,

Kalian semua dikumpulkan disini atas amanat dari Bapak presiden. Beliau ingin agar pembukaan Asian Games ini tidak hanya dirasakan di Jakarta atau Palembang saja, tapi dirasakan oleh semua masyarakat di Indonesia, diwakilkan oleh generasi-generasi muda dan penerus Bangsa yang diambil dari masing-masing Provinsi“.

Saya tentu saja menjadi sangat terharu dan juga sangat berbangga. Bangga karena saya bisa mewakili kampung saya dan provinsi kebanggaan saya. Tiada kado yang lebih indah dari ini. Mengingat, tulisan yang saya kumpulkan untuk mengikuti Lomba menulis kategori Blogger, tidak sebagus karya-karya hebat teman-teman dari provinsi lainnya. Saya akui itu dengan sangat sadar, sesadar-sadarnya!.

Untuk hadiah luar biasa yang diberikan oleh Negara ini, melalui Amanat Bapak presiden dan selanjutnya diteruskan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan media partnernya, saya sungguh dan sungguh berterima kasih.

Berkunjung ke tempat-tempat wisata di Jakarta

Sambil menunggu hari-H pembukaan Asian Games 2018, Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi publiknya membawa kami, para pemenang Lomba Writingthon, Visual Runner, Duta Supporter Indonesia dan masih banyak lagi untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di Jakarta. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan kekayaan kebudayaan dan seni yang dimiliki oleh kota Jakarta. Jadi, tidak melulu soal tulis-menulis saja, tapi juga jalan-jalan dan belajar mengenai seni. Tempat wisata yang dipilih oleh Panitia pelaksana adalah Kota Tua Jakarta yang didalamnya terdapat banyak situs bersejarah yang serius kece pake banget !.

Jujur, saya sangat antusias mengunjungi objek wisata seperti ini, dalam bayangan saya, kota tua akan sangat hening dan bebas dari keramaian dan saya bisa dengan bebas menikmati setiap karya-karya bersejarah dan sekaligus menyerap setiap nilai-nilai yang ditinggalkan disana. Saya memang seperti orang tua banget ya ?.

 

photogrid_15349158289986626270607285398558.jpg

Salah satu bangunan peninggalan VOC di Kompleks Kota Tua Jakarta

 

Kota tua Jakarta adalah sebuah kompleks yang terdiri dari setidaknya tiga objek wisata menarik, yaitu Fatahillah Square, Museum Wayang dan yang terakhir adalah Museum Keramik (Museum of Fine Art and Ceramics). Kunjungan kami ketempat ini dibimbing oleh seorang tour guide yang super kece, Mpo’ Petty.

 

photogrid_15349158759855652982272761187365.jpg

Fatahillah Square, bagian dari Kota Tua Jakarta

 

Sejarah Kota Jakarta

Berkunjung ke Kota Tua Jakarta tidak akan lengkap sebelum mencicipi sejarah berdirinya kota Jakarta. Mpo’ Petty dengan sangat bersemangat menceritakan kepada kami sejarah berdirinya kota metropolitan yang kita kenal juga sebagai Ibu kota Negara, Jakarta.

 

photogrid_15349157026911002966111353442830.jpg

Mpo’ Petty, Tour Guide Andalan Kami.

 

Jakarta, sejak masanya dahulu, pada abad ke-16 memang adalah ‘Permata Asia’, “Ratu dari Timur” karena kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah dan posisi strategisnya untuk melakukan perdagangan. Sebagai Warga Negara Indonesia, kita harus benar-benar sadar bahwa tanah Air kita ini sejak jaman dahulu sudah terkenal dengan kekayaannya, kekayaan ini bahkan menimbulkan banyak ‘cemburu’ dari negara dan bangsa lain, sehingga banyak yang datang berbondong-bondong untuk mengulitinya.

Kota Jakarta itu dimulai dari sebuah Pelabuhan, tempat pemberhentian, tempat mengistirahatkan kapal dan badan, yang disebut sebagai Pelabuhan Sunda Kelapa. Dulu, Sunda Kelapa ini dimiliki oleh Kerajaan Hindu yang bernama Padjajaran. Oleh Fatahillah dari Kesultanan Demak, Sunda Kelapa selanjutnya direbut dalam sebuah perperangan, dan diganti Namanya menjadi Jayakarta. Kata Jaya-Karta inilah cikal bakal nama kota yang kita kenal sebagai Jakarta.

Jayakarta tumbuh dan berkembang sebagai kota dagang yang sangat makmur sampai kedatangan bangsa Belanda melalui Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda/ VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Jayakarta selanjutnya diubah namanya menjadi Batavia. Dari Sunda kepala, Pusat kota selanjutnya dipindahkan ke Daerah sekitar tepi timut Sungai Ciliwung yang kita kenal sekarang sebagai Kota Tua Jakarta. Kota tua ini selanjutnya disulap menjadi pusat admiistrasi dari VOC dan juga tempat tinggal bagi begitu banyak warga pendatang.

Sampai saat ini, kita masih bisa menikmati beberapa peninggalan bersejarah bangsa Belanda/ VOC, yaitu beberapa bangunan yang bergaya Barat dan beberapa rumah-rumah penyiksaan dahulu yang sampai saat ini masih dilestarikan keberadaannya sebagai pengingat bagi semua.

 

photogrid_15349161838925042254603027452402.jpg

Cafe Batavia dengan Gaya Bangunan Semi Modern

 

Museum Keramik dan lukisan-lukisan berdaya seni tinggi

Setelah berjalan-jalan ria di halaman Kota Tua bersama dengan rombongan dan juga banyaknya pengunjung, kami menyempatkan diri ngadem sebentar ke Museum Keramik. Entah mengapa musem keramik ini mengingatkan saya pada Museum Anthropology yang ada di Kota Manila, terletak tidak jauh dari tempat tinggal saya saat ini. Saya langsung saja menarik benang merah kesamaan antara keduanya, dan mengambil kesimpulan, “Kebudayaan manusia itu tidak jauh berbeda ya…”.

Dalam Museum Keramik ini, saya menemukan banyak lukisan-lukisan menarik yang dilukis oleh para pelukis Indonesia asli. Lukisan-lukisan yang hanya bisa saya nikmati di buku-buku pelajaran ketika saya masih SMP dan SMA bisa saya nikmati secara langsung di museum ini.

Berikut adalah koleksi-koleksi lukisan yang menarik hati saya (Saya minta maaf kalau saya tidak menyertakan nama pelukisnya, nampaknya saya benar-benar terbius dengan karya lukisan ini, sampai lupa siapa nama pembuatnya).

 

 

Makan siang di Ancol

Setelah lelah berjalan dan menikmati berbagai macam karya dan kekayaan milik Bangsa, tibalah saatnya untuk menyantap makan siang. Saya sudah sangat lapar saat itu, rasanya sudah lewat jam makan siang saya. Menariknya, tidak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk mencapai tempat makan yang menjadi tujuan. Kalau tidak salah, letaknya tidak jauh dari tempat menginap Atlet Zet Ski, entah siapakan namanya. Bukan wisma Atlet ya.

 

20180817_1631521965432159885274062.jpg

Tempat makan siang kami dan foto salah satu Kontingen dari Kalimantan Tengah untuk Writingthon kategori Pelajar/Mahasiswa.

 

Untung saja, makan siang memang sudah sengaja disiapkan terlebih dahulu di meja makan, kami yang datang langsung dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dan tanpa komando langsung melahap habis makanan yang sudah disediakan. Lapar nih ceritanya. Asyiknya, kami makan bersama-sama sehingga rasa kekeluargaan dan rasa berbagi sangat terasa diantara kami. Kami berbagi ikan, ayam dan lauk bersama-sama, ah pengalaman makan yang luar biasa.

 

20180817_1515561508059899245752332.jpg

Menu Makan Siang Kami waktu itu

 

Acara makan-makan kami selanjutnya ditutup dengan hiburan bersama. Ada diantara kami yang memang sangat berbakat untuk menyanyi, menari dan menghibur. Wah, kami benar-benar seperti kedatangan Artis dari mana begitu. Saya benar-benar menikmati hari ini.

Tidak terasa, setengah hari sudah kami jalani. Jadwal dari panitia yang sudah dibagikan semalam sudah tidak kami perhatikan lagi. Kami terlalu menikmati keseruan hari ini. Menikmati dengan penuh rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan dan kepada negeri ini.

Perasaan saya

Beberapa waktu ini menghabiskan waktu dengan teman-teman dari Sabang sampai Merauke, dari 34 Provinsi se-Indonesia membuat saya sadar, se-sadar-sadarnya bahwa Indonesia itu sangatlah kaya. Kaya akan kebudayaannya, kaya keberagamannya, kaya keunikannya. Saya jatuh hati sungguh dengan negara ini.

Pada masa-masa ini, saya belajar kebudayaan provinsi lain, seperti dari DIY Yogyakarta, Kepulauan Riau, Jakarta, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Irian Jaya dan masih banyak lagi. Luar biasa!.Tidak pernah saya merasakan indahnya keberagaman dan juga kesatuan dalam keberagaman seperti saat ini. Saya mensyukuri berkah kemerdekaan dan juga perjuangan yang luar biasa dari para Pahlawan yang telah gugur untuk menyatukan bangsa ini. Sungguh bangsa kita adalah bangsa yang sangat besar! Kekuatan kita terletak pada keberagaman yang kita miliki !

 

photogrid_15349154702856557360339273857900.jpg

Saya dan Natalia. Natalia adalah peserta Writingthon Challenge dari Irian Jaya.

 

Bersambung,..

Food Festival, bertemu Anak Presiden RI dan Pelajaran Penting dari Bisnis Makanan

Hari minggu yang baru saja lewat ini, ketika saya masih setia berada di Manila, teman-teman mengajak saya untuk mengunjungi acara budaya yang diselenggarakan oleh KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia). Acara tersebut adalah Food Festival yang dibalut dengan acara seni dan budaya. Saya secara personal lebih tertarik pada ‘makanan’ Indonesia yang pastinya akan dijual bebas di stand acara. Memang ya, mau kemanapun kita, kita tidak akan bisa hidup jauh-jauh dari makanan Indonesia itu sendiri. Kata sahabat saya, itu adalah salah satu tanda cinta tanah air dan bangsa. Jadi, berbanggalah sedikit.

Saya tidak berangkat sendirian, dengan ditemani oleh satu orang Biarawati, dan dua orang sahabat saya yang awam, kami berangkat ke tempat tujuan dengan menggunakan Train, Kereta listrik yang dimiliki oleh kota Manila. Mungkin kedepannya saya akan menulis sedikit soal jenis transportasi yang dimiliki oleh Kota Manila dan Filipina pada umumnya. Kami memilih naik train karena hari ini hari Minggu, mungkin tidak akan sepadat hari lainnya dan lebih nyaman dan murah pastinya. Kamu harus mengganti train sebanyak dua kali sebelum mencapai tempat tujuan. Acara KBRI kali ini diselenggarakan di sebuah Mall yang cukup ramai dikunjungi oleh warga sekitar Manila. Hanya saja memang kalau dari tempat saya tinggal saat ini, lumayan jauh.

 

photogrid_15305111282747538375161522772976.jpg

Suasana Persiapan Acara Food Festival yang disponsori oleh KBRI

 

 

Sampai di tempat acara, nyaris pukul 12 siang. Nampak stand makanan sudah berdiri mengitari Atrium tempat pertemuan. Saya sudah bisa mencium aroma bakso daging, dan gudeg. Oh Tuhan….entah sejak kapan saya cinta mati dengan gudeg. Mungkin karena jenis makanan ini benar-benar unik dan khas sekali Indonesia-nya. Di Banjarmasin sendiri, dekat tempat kerja saya terdapat warung makan yang khusus menjual makanan khas dari Jogjakarta ini. Semoga rasanya tidak beda jauh dari yang di Banjarmasin, dan semoga rasanya bisa lebih enak.

 

photogrid_15305111693266654359986841724290.jpg

Atrium tempat acara Food Festival dilangsungkan. SM MegaMall, Mandaluyong City.

 

Sambil menunggu teman yang lainnya, sambil bertegur sapa dan say halo sana dan halo sini, kami menuju tenda makanan. Jelas saya memilih tenda makanan yang menyajikan menu gudeg. Kami harus mengantri dengan sabar sebelum makanan diberikan kepada kami. Ketika mengantri, saya mengalami hypersalivasi beberapa kali karena aroma makanan yang aduhai. Bahagianya hari ini semakin lengkap karena makanan yang akan kami makan nanti ternyata ditraktir oleh sebuah keluarga Indonesia yang baik hati. Saya tentu saja senang bukan kepalang, ditraktir wooooiiii…

 

photogrid_15305112073208489677792589411127.jpg

Makanan Khas Indonesia di Food Festifal, Manila July 01. 2018

 

Gudeg memang adalah makanan yang luar biasa bagi saya. Saya bisa membuat sebuah puisi hanya karena makanan ini. Makanan Indonesia memang luar biasa!

 

photogrid_15305112452432754798104690515026.jpg

Gudeg dan Nasi Khas Indonesia

 

Sambil makan, kami dihibur dengan beberapa kesenian daerah yang sengaja dihadirkan oleh pihak KBRI. Musik tradisional bahkan lagu-lagu tradisional yang membuat kita semakin merasakan Indonesia, meskipun saat ini berada di negeri orang. Perhatian saya tiba-tiba saja pecah ketika ada group Ibu-ibu yang berteriak, “Itu Mas Gibran!”. Secara otomatis saya langsung mengasosiasikan nama tersebut dengan nama salah satu anak presiden Indonesia. Karena pikir saya, ini adalah food festival, dan Mas Gibran jualan Martabak. 100 % pikiran saya mengarah ke situ. Tapi, saya lebih memilih menyelesaikan makanan saya dengan perlahan dan menikmati setiap sendok nasi plus gudeg yang ada dihadapan saya.

Selesai makan, kami selanjutnya memutuskan untuk keliling stand dan melihat tawaran makanan lainnya yang ada di Pameran. Pandangan mata saya langsung tertuju pada banner bertuliskan, MARKOBAR. Whooaa…tebakan saya benar. Gibran yang disebut oleh rombongan Ibu-Ibu ini, benar-benar adalah Mas Gibran, Anak Sulung Pak Joko Widodo. Dan tebakan saya menjadi 100 % sesuai karena beberapa detik kemudian, saya bisa melihat sosok anak Pak presiden ini. Berdiri di stand Markobar miliknya sambil mengendong tas berwarna merah menyala miliknya, bertuliskan Supreme.

Lalu, otomatis saya memainkan handphone milik saya dan mulailah cekrek dan cekrek. Wah, saya bertemu dengan anak presiden, dan rasanya seperti bertemu Presiden itu sendiri.

Kesan pertama, biasa saja. Saya hampir tidak menyadari kalau orang yang berjarak beberapa kaki dari saya saat ini adalah seorang anak presiden. Gayanya benar-benar seperti gaya orang-orang yang ada disekelilig saya ini. Biasa saja. Hal yang membuat heboh adalah pengawal miliknya yang benar-benar berada tidak jauh dari anak presiden ini. Badan mereka yang kekar dan tinggi benar-benar menarik perhatian banyak orang. Belum lagi ditambah dengan pakaian hitam dan kesan sangar yang datang dari mereka. Saya malah lebih tertarik mengobservasi pengawal Mas Gibran dibandingkan Mas Gibran itu sendiri.

Ada seorang Ibu-Ibu yang meminta saya mengambil foto beliau ketika beliau mau berjabat tangan dengan Mas Gibran. Saya mengiyakan dengan segera. Saya benar-benar mau melihat dari dekat sosok dari Mas Gibran ini. Saya benar-benar kaget karena untuk bertemu dengan Mas Gibran ini, kita harus berhadapan dengan pengawalnya yang super ketat. Kami tidak bisa menemui beliau langsung!. Ya, saya sadar, orang yang berada tidak jauh dari saya ini adalah orang penting yang keselamatannya bisa saja membahayakan kepala negara sendiri. Untungnya Ibu yang bersama saya ini kekeh dan memang niat untuk berfoto. Ia meminta dengan hormat kepada para pengawal ini, karena sosoknya yang sudah ‘Ibu’, lancarlah proses perizinan ini. Kami akhirnya bisa berfoto dan bersalaman dengan Mas Gibran. Mas Gibran sih, langsung berkata, “ Ia, Ibu boleh..silahkan…”.

 

View this post on Instagram

Today, We met our president's eldest son (finally…🤩), Mr. Gibran. From my own perspective, He is a humble man and a very simple person (not like his body guards 😄). I can learn from Him what we call "down to earth" person and of course just like others Indonesian, has unique local dialect. Seeing Him was like seeing our President itself. I am so glad that He is our president's son. He was like, "He is" in social media or television. No drama, no political intigue. So glad to finally seeing Him here, a bussiness man with high passion of enterpreneurship. I am so blessed🙏 Location: SM Megamall, Mandaluyong City . . . . Baca cerita lengkap pertemuan saya dan teman-teman dengan Mas Gibran di mariafraniayu.com (link ada di bio). Judul tulisan "Food Festival, Bertemu Anak presiden RI dan pelajaran penting dari Bisnis Makanan".

A post shared by a Nurse (@ayufrani) on

Saya tidak bisa membayangkan kalau saja, Mas Gibran bilang “Tidak bisa!”. Wah, bisa-bisa Ibu ini langsung lepas kewarganegaraan, karena melihat betapa berusahanya Beliau untuk bertemu dengan Mas Gibran ini.

Satu hal yang saya pelajari dari seorang Mas Gibran, jiwa bisnisnya itu lo!. Sepanjang acara, dia focus memperhatikan dan sesekali melayani pembeli Martabak miliknya. Benar-benar pebisnis yang luar biasa. Dia jualan Martabak sampai ke Manila !. Bahkan ketika Ia beristirahat, Ia datang dan duduk bersama para pebisnis Indonesia yang berdiskusi mengenai bisnis mereka di Filipina. Terutama bisnis makanan. Salut pokoknya.

Dari pertemuan ini, saya belajar banyak hal terutama bagaimana kita dapat stand out sebagai seorang warga negara Indonesia. Tidak perlu koar-koar tidak jelas, Ayo Bisnis! Se-simple itu saja!. Ayo bekerja!. Mau bertahan di era ekonomi global, MEA dan seterusnya, ayo buka usaha!. Tanyakan pada diri sendiri, apa yang bisa saja jual ?. Apa yang bisa saja jual untuk mendapatkan untung?, Bagaimana kita bisa berinvestasi ?. Yang kita jual mungkin bukan hanya barang, tapi juga jasa. Stay productive dan beranikan diri untuk bereksplorasi. Ah..saya bak seorang ahli pidato saja saat ini. Tolong maafkan saya, tapi saya benar-benar harus menekankan ini. Ayo bekerja!. Manfaatkan waktu yang ada untuk bekerja, melakukan sesuatu, meningkatkan sesuatu. Dengan focus bekerja, maka dengan sendirinya kita membangun hidup yang lebih baik dan lebih bermartabat.

Inilah cerita saya pada hari minggu. Teman-teman pasti memiliki cerita sendiri, bukan ?. Ayo bagikan ceritamu. Inspirasi mereka yang membacanya. Hiduplah dengan penuh semangat dan antusiasme.

Salam dari saya,

 

July 02. 2018.

 

20180523_022906.png

Maria Frani Ayu Andari Dias
Mariafrani10@gmail.com