Skip to content
Iklan

Biji Gandum yang Jatuh dan Mati : Pelajaran dalam Menghadapi Kesukaran Hidup

 

bread-roll-weath-28548319

Sumber: thumbs.dreamstime.com

 

Oleh, Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Mungkin, seperti banyak orang, saya sangat senang belajar mengenai pelajaran hidup dari perumpamaan atau kisah kiasan. Entah mengapa, perumpamaan atau kisah dengan kiasan memberi kebebasan tersendiri bagi saya pribadi. Bukannya takut untuk memberikan penilaian yang salah, saya malah senang untuk memikirkan banyak arti dan makna yang bisa saya tangkap dari kisah-kisah jenis ini. Apakah ada yang merasakan hal yang sama seperti saya ?.

Penulis seperti Paolo Coelho adalah salah satu penulis kesukaan saya, yang saya jadikan rujukan untuk belajar mengenai seni kehidupan. Karya-karya hebatnya, seperti The Alchemist terus menerus menjadi buka bacaan yang saya baca berulang-ulang, karena entah kenapa, ketika saya membaca untuk kedua atau ketiga kalinya, saya akan menemukan pengertian baru yang membuat saya berkata “AHA!” pada diri sendiri.

Hari ini, sebelum menutup hari ini, saya menemukan sebuah tulisan yang sangat menarik, lebih tepatnya sepenggal kalimat, berikut adalah kutipannya,

Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

Kutipan yang selanjutnya akan kita sebut sebagai perumpamaan ini singkat, tapi entah kenapa begitu menusuk kedalam hati saya. Menyadari apa yang terjadi pada diri, saya lalu mengambil waktu sebantar untuk menguraikan apa yang menjadi hal menarik dari perumpamaan ini.

Pertama, mengenai biji gandum. Bagi orang Indonesia tulen seperti saya, gandum mungkin tidak terlalu familiar. Saya lebih kenal biji padi dibandingkan biji gandum. Tapi, setelah mencari sedikit di Internet, biji gandum itu ukurannya ternyata kurang lebih sama seperti biji padi. Sama seperti Padi, Gandum juga dikenal sebagai sumber karbohidrat yang sangat penting untuk tubuh manusia. Lebih lanjut, gandum ini tumbuh dari bijinya, sama persis seperti padi. Sebutir biji gandum harus jatuh ketanah, atau lebih tepatnya masuk kedalam tanah, lalu tumbuh menjadi tumbuhan gandum dengan hasil yang berkali-kali lipat. Satu biji gandum yang jatuh ketanah, mungkin bisa menghasilkan 10 kali lipat bahkan lebih biji-biji gandum lainnya.

Kedua, mengenai kata, “jatuh kedalam tanah dan mati”. Ketika membaca perumpamaan ini, pikiran saya diarahkan langsung pada ‘kehidupan manusia’. Saya langsung mengartikan perumpamaan ini ditujukan kepada kehidupan manusia, kehidupan saya. Ya, saya harus mengakui bahwa akhir-akhir ini hidup saya terasa cukup berat. Saya katakan, ‘berat’ karena saya bisa melihat apa yang terjadi pada keseharian saya sendiri. Saya bahkan mengira bahwa saya terkena depresi berat karena apa yang saya lakukan setiap hari. Beratnya hidup ini, saya artikan sebagai kejatuhan kedalam tanah. Mungkin agak berlebihan untuk mengatakannya demikian, tapi ijinkanlah saya berkreasi dengan arti perumpamaan ini.

Kata ‘mati’, atau ‘kematian’ juga begitu menyentuh hati saya. Mungkin, teman-teman Obrolin tahu dengan pasti apa yang kita alami bersama beberapa waktu yang lalu. Belum lagi ditambah dengan pengalaman saya pribadi yang masih belum sembuh benar dari kehilangan anggota keluarga di Kampung dan ditambah dengan beberapa peristiwa lainnya yang membuat kata ‘mati’ begitu sangat berkesan, kesan yang menakutkan malah. Belum lagi tulisan dari Momo Taro yang berjudul “Penulis Rentan Bunuh Diri? Bloger Apa Kabar?”, semakin melengkapi asumsi negative mengenai kematian.

Ketiga, kalimat “tetapi jika ia (Biji Gandum) mati, ia akan menghasilkan banyak buah”. Namanya juga perumpamaan, jadi bukan arti sebenarnya yang ditunjukkan oleh pencipta kalimat ini. Kalimat ini menunjukkan kepada saya mengenai harapan, kekuatan dan juga kesempatan untuk mengubah sesuatu yang buruk menjadi baik. Kalimat ini juga menunjukkan kepada saya bahwa saya tidak seharusnya memaki kejatuhan, kekurang-beruntungan dan kesialan yang saya alami pada saat ini. Pandangan saya bahwa kejatuhan adalah suatu keburukan, spontan berubah. Perlahan, kejatuhan saya definiskan kembali sebagai kesempatan, dan keadaan untuk berjalan menuju kebaikan dan kebangkitan. Saya memang harus jatuh, sampai sejatuh-jatuhnya ketanah, supaya dari kejatuhan ini, saya dapat belajar dan pada akhirnya menghasilkan sesuatu bagi diri saya sendiri dan bagi kebun dimana saya hidup dan berada.

Planting and Harvesting 🌾 . . What a beautiful process ? Thank you so much oh Lord for such flourishing land and also blessing that we received 🙏 . . Tanah Kalimantan dimana saya dan keluarga saya tinggal adalah tanah yang subur dan luar biasa menghasilkan. Selain kaya akan hutannya yang masih alami, tanah ini juga berkonstribusi terhadap kelangsungan hidup manusia dengan menyediakan hasil kebun berupa karet, juga hasil bercocok tanam seperti ubi-ubian dan juga padi . . Cara bercocok tanam keluarga dan saudara-saudari saya di kampung memang kebanyakan masih tradisional, tapi hal ini dilakukan untuk menjaga agar keseimbangan alam tetap aman dan harmonis dengan manusia dan makhluk yang tinggal didalamnya . . Tiada yang lebih indah selain ucapan syukur untuk kemurahan Tuhan dan tentu saja alam Kalimantan yang luar biasa ini . . Semoga petani-petani kita selalu sejahtera hidupnya ! 🙏 #petani #Indonesia #KalimantanTengah #Ampah #dayak #padi #panen #tanam #cocoktanam #tamiyanglayang #barombot #kalimatan #dayakmaanyan #budaya #menanam #padipadian #sawah #ladang #petanitradisional #tradisional #ricefield #indonesia #tanahair #bumi #tanahdayak

A post shared by a Nurse (@ayufrani) on

Sambil menuliskan mengenai hal ini, saya juga terpikir mengenai beberapa kalimat penyemangat yang merajai situs-situs motivasi, seperti

“Mistake is the Best Teacher” (Bill Gates),

Success is stumbling from Failure to Failure with no loss of enthusiasm” (Winston Churchill).

Sehingga pada akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa, kegagalan dan kejatuhan itu adalah sesuatu yang penting dan itu juga adalah sesuatu yang perlu untuk dirasakan. Mengapa harus berduka berkepanjangan ketika kejatuhan terjadi ?.

Beri waktu untuk diri berduka dan menangisi kemalangan beberapa saat, lalu jangan lupa untuk menghapus air mata dan bangkit berdiri. Kalau tidak, Biji gandum hanya akan menjadi biji gandum, bukan tanaman gandum yang seharusnya menghasilkan.

Demikianlah teman-teman, kesukaran hidup, kegagalan, kejatuhan pasti akan terus kita alami dalam hidup. Jatuh itu pasti, tapi kita juga memiliki pilihan untuk bangkit dan menghasilkan sesuatu dari kejatuhan ini. Kejatuhan juga bukan hal yang benar-benar buruk, karena entah sadar atau tidak, hal demikian memang harus terjadi, agar kita bisa belajar banyak dari setiap momentnya dan menjadi berkat untuk hidup orang-orang yang bersentuhan dengan kita.

Bagaimana teman-teman ?.

Saya rasa cukup sekian dulu mengenai biji gandum. Saya harap, teman-teman pembaca sekalian dapat mengambil buah-buah dari tulisan sederhana ini.

Salam.

Iklan