Lanjut ke konten
Iklan

Cemburu itu belum habis

32e680a4702a771ec02b25b21c48849f

Sebuah catatan singkat dikala malam semakin habis sumbunya dan matahari siap untuk menancapkan panahnya

Bara itu ternyata belum habis disiram oleh air hujan

Baru itu masih saja menyala dan belum habis

Asapnya sudah tidak ada tapi hangatnya masih terasa

Cemburu

Asapnya tidak menyesakkan tapi membunuh

Baru saja padam tapi menyala lagi

Bara itu tidak punah oleh air hujan

Iklan

Nafsu belanja dan Kekosongan Diri

best-shopping-in-bucharest

Belanja, Kegiatan menukar uang dengan benda-benda yang memiliki nilai yang kurang lebih sama dengan nilai uang yang ditawarkan. Disebut juga proses mewujudkan ‘benda’ atau kebendaan dari barang atau benda yang bernilai. Jangan diperdebatkan dari mana saya mendapatkan definisi ini, tapi ya begitulah. Atau da Emak-emak yang akan mengatakan bahwa belanja itu adalah “memberi uang ke penjual dan mendapatkan barang dari penjual”, jangan lupa, “kembalian”.

Belanja adalah kegiatan yang paling identik dengan ‘wanita’. Wanita disebut sebagai pribadi yang paling gemar untuk berbelanja. Para pria sebenarnya juga suka melakukan hal ini, tapi kegiatan belanja pria mungkin tidak seheboh kegiatan belanja wanita.

Pada dasarnya, wanita adalah makhluk yang penuh pertimbangan dan sosok yang sangat pemilih. Ya, Pria juga memiliki sifat ini, tetapi wanita mungkin lebih mendominasi. Karena sifat timbang-menimbang, pilih-memilih inilah maka wanita menghasilkan perilaku yang menghebohkan ketika berbelanja. Bisa dilihat dari waktu belanja yang luar biasa lamanya, dan juga betapa hebohnya tawar menawar yang dilakukan oleh keturunan Hawa ini.

Namun, jauh dari ini semua, saya melihat bahwa perilaku berbelanja bukan saja didasari oleh kebutuhan, tapi juga hal lain yang cukup sensitif. Kegiatan berbelanja yang berlebihan bisa jadi adalah seruan dari dalam jiwa, seruan rasa sepi dan kosong yang selalu meminta untuk dipenuhkan.

Saya memberi kesimpulan demikian karena banyak hal, salah satunya dalah karena sikap terus menerus yang dilakukan. Bukan hanya itu, saya juga melihat dari kegunaan dari balang belanjaan itu sendiri. Wajar bagi para ibu-ibu untuk membeli kebutuhan dapur, yang memang akan habis pakai, karena diolah menjadi makanan bagi keluarga. Tapi, bagaimana dengan hal lain?, Misalkan. Pakaian. Ya, saya tahu, pakaian pun akan digunakan. Tapi, pada beberapa wanita, pakaian dibeli, lalu ditumpuk dan dibiarkan demikian saja, menumpuk dan terus menumpuk.

Ingat, ada sebuah film dengan judul “Confession of Sophaholic”. Ya, kurang lebih demikian.

Belanja adalah kegiatan untuk menukar, menukar sesuatu yang bernilai dengan sesuatu yang juga bernilai. Harapannya adalah benda hasil penukaran dapat memiliki nilai yang menguntungkan dan lebih dari benda yang ditukar. Mungkin demikianlah kerja alam perasaan nun jauh disana, Ia berusaha untuk menukar apa yang Ia miliki untuk mendapatkan sesuatu dari luar. Mengisi tidak ‘bernilai’nya miliknya didalam.

Online shopping

Saya, tahu ini semua terkesan klise. Tapi, saya berbicara dari pengalaman saya sendiri dan juga hasil interaksi saya dengan mereka yang menaruh ujung hidupnya pada ‘belanjaan’ mereka.

Orang-orang seperti ini, sebenarnya berteriak untuk minta ditolong. Tapi, kadang memang telinga kita disekitar seperti tersumbat kotoran telinga tingkat berapa begitu, sehingga kadang, kita memilih untuk cuek, atau mengabaikan saja. Bahkan yang lebih parahnya, kita malah memberikan komentar yang tidak seharusnya.

Semoga dengan tulisan ini, ada sedikit perubahan yang bisa saya sumbangkan. Minimal pada diri saya sendiri.

Salam.

Obrolan dalam Segelas Es Kopi

8a014e5028edb66e0deff93797b5ef8f

Hari ini, sahabat saya mengajak untuk bertemu.  Saya menyetujuinya dan kami memutuskan untuk bertemu di kedai kopi kesukaan kami. Sesampainya disana, kami sama-sama memesan makanan yang akan lahap sebagai pengganjal perut. Maklum sejak pagi tadi belum juga mengisi perut dengan makanan.

“Ice Coffee for Two “, Kata sahabat saya.

“One Moccacino and One Cappucinno” Seru saya selanjutnya.

Saya tahu betul selera sahabat saya, Ia Moccacino dan saya Cappucino.

Sambil menunggu datangnya pesanan, kami mulai berbincang-bincang. Pembicaraan kami adalah perihal smartphone terbaru. Awalnya saya pikir, Ia ingin membeli smartphone baru, tapi ternyata ini hanya pengantar dari pembicaraan kami. Ya, meskipun saya tahu, sahabat saya ini bisa gonta ganti smartphone setiap bulan, tapi Ia tipikal orang sederhana yang sangat menghargai saya, sehingga smartphone-nya tidak perlu terus berganti. Kadang, kalau ada barang baru miliknya, Ia terkesan malu-malu untuk menunjukkannnya pada saya. Ia, memang orang yang tidak mau menyombongkan diri.

“Mar, apakah menurutmu saya sudah banyak berubah ?” Tanya Dia.

Saya agak sedikit binggung menjawab pertanyaannya, karena cakupannya terlalu luas dalam benak saya. Lalu saya bertanya,

” Berubah seperti apa ? dalam hal apa? “

” Well, Apa saja, jika dibandingkan dengan satu atau dua tahun yang lalu “, Jawabnya.

Saya hening sejenak sambil memperhatikan dirinya. Mencari tahu jawaban yang pas sesuai dengan pertanyaannya.

” Dari segi penampilan, saya lihat sudah banyak berubah. Lebih tua pastinya” Jawab saya.

Lalu, Ia terus menerus meminta saya untuk memberikan penilain dan kami terus menerus membicarakan perihal dirinya.

Saya mengenal sahabat saya ini, Ia memang orang yang suka meng ‘evaluasi’ berbagai hal, termasuk dirinya sendiri. Ia adalah seorang perencana program dan juga evaluator keberhasilan program tersebut. Saya banyak belajar perihal manejemen darinya. Menarik !

Tapi, kadang saya merasa khawatir dengan dirinya, terlalu terobesesi dengan evaluasi diri sendiri menandakan masalah dalam dirinya. Saya coba untuk menggali masalah dalam dirinya dan seperti yang saya duga, Ia mengalami kecemasan didalam dirinya.

“Sebentar lagi kita akan pulang ke Tanah Air, ya..meskipun itu hanya untuk berlibur beberapa hari. Saya merasa khawatir bahwa dalam beberapa waktu yang saya habiskan disini, saya tidak menunjukkan peningkatan atau perubahan apapun” Kata sahabat saya.

“Apa yang membuatmu berpikir demikian?” Tanya saya.

” Kecemasan akan diri sendiri dan penilaian orang lain!” Jawabnya.

Lalu, entah dari mana datangnya Roh kebijaksanaan ini. Tapi, akhirnya saya memberikan komentar.

” Perubahan itu pasti, kekal hukumnya. Kita pernah membahas soal ini bukan?. Setiap hari kita terus berubah, sel-sel tubuh kita bereproduksi, dan mati dan terus menerus sampai detak jantung kita berhenti. Semua orang berubah, saya dan juga mereka “

Sahabat saya tidak menjawab. Saya kemudian melanjutkan,

” Apa yang ada dimasa lalu, biarlah menjadi bagian dari masa lalu. Tempatkan Ia sebagai guru dan pengingat ketika kita melangkahkan kaki di masa saat ini dan dimasa depan. Masa sekarang dan masa depanlah yang menjadi masalah kita. Orang akan berubah seiring dengan masalah yang membentuknya. Jangan terlalu mengkhawatirkan masa lalu, Ia mungkin bisa menjegal kita sedikit dimasa sekarang, tapi Ia tidak akan pernah mampu menguasai masa depan kita”

Sahabat saya tersenyum dibalik seuputan es kopinya.

Saya tahu, Ia pasti ‘ngakak’ mendengarkan ceramahan saya. Tapi, Ia diam disana dan menikmati es kopinya.

Perubahan memang membawa kita pada pembelajaran. Kita yang terus tumbuh dan berkembang, kita yang terus berevolusi dan menjadi manusia yang baru.

Sambil menikmati sisa es kopi kami, kami mulai membahas satu persatu kalimat yang saya sampaikan.

Salam.