“Dari Mana Manusia Berasal?”: The Forbidden Fruit (Selesai)

Tidak terasa, sudah selesailah rangkaian tulisan saya mengenai “Dari Mana Manusia berasal?”, yang pada dasarnya adalah catatan penting mengenai ide-ide yang dikeluarkan oleh Harari dalam bukunya yang berjudul “Sapiens”. Secara pribadi, saya merasa seperti mengonsumsi ‘buah terlarang (The Forbidden Fruit)” … Lanjutkan membaca “Dari Mana Manusia Berasal?”: The Forbidden Fruit (Selesai)

Sederhana yang kaya

Suatu waktu, sahabat saya berkata kepada saya, “Ini adalah keadaan yang aneh bagi saya secara pribadi, saya dalam keadaan tidak memiliki apa-apa dan dalam keadaan sangat sangat-sangat miskin. Tapi, entah mengapa saya merasa kaya dan saya merasa sangat beruntung!“ Saya tidak kaget ketika sahabat saya mengatakan hal ini, karena saya memang tahu dan saya mengenal benar sahabat saya ini. Ia sosok yang secara umur masih sangat muda tapi kebijaksanaannya melampaui kakek saya. Ia tergolong orang yang sangat suka memberikan kata-kata aneh, dan bagi mereka yang tidak paham, akan mengatakan bahwa sahabat saya ini sedikit ‘miring’. Tapi, ini jugalah yang merupakan … Lanjutkan membaca Sederhana yang kaya

Bersyukur

Bersyukur adalah tindakan sederhana untuk memberikan kembali kepada Sang Pemberi Hidup apa yang menjadi Hak-Nya. Tentu saja itu adalah definisi yang saya formulasikan sendiri berdasarkan pengalaman saya pribadi. Hari ini, saya menghadiri kuliah pakar selama satu jam lebih yang diadakan oleh sebuah Bank terkemuka di Asia. Pembicara berasal dari Indonesia dan tiada lain dan tidak bukan adalah menteri keuangan Indonesia yang sangat terkenal dengan jabatannya di Word Bank dan juga prestasinya dalam melakukan Tax Amnesty. Saya sangat terkesima dengan pribadi Ibu mentri ini dan secara seketika menjadikan diri saya ‘fans’. Hal yang membuat saya terkesima adalah kesederhanaannya dan juga betapa … Lanjutkan membaca Bersyukur

Obrolan dalam Segelas Es Kopi

Hari ini, sahabat saya mengajak untuk bertemu.  Saya menyetujuinya dan kami memutuskan untuk bertemu di kedai kopi kesukaan kami. Sesampainya disana, kami sama-sama memesan makanan yang akan lahap sebagai pengganjal perut. Maklum sejak pagi tadi belum juga mengisi perut dengan makanan. “Ice Coffee for Two “, Kata sahabat saya. “One Moccacino and One Cappucinno” Seru saya selanjutnya. Saya tahu betul selera sahabat saya, Ia Moccacino dan saya Cappucino. Sambil menunggu datangnya pesanan, kami mulai berbincang-bincang. Pembicaraan kami adalah perihal smartphone terbaru. Awalnya saya pikir, Ia ingin membeli smartphone baru, tapi ternyata ini hanya pengantar dari pembicaraan kami. Ya, meskipun saya … Lanjutkan membaca Obrolan dalam Segelas Es Kopi