Garis Besar Konferensi Keperawatan Jiwa Nasional Tahun 2018

 

photogrid_15439233347277617562695008137445.jpg
Praktisi Keperawatan Jiwa Klinis dan Akademik serta Mahasiswa/i Praktik Profesi Keperawatan Jiwa selepas Presentasi Besar Stase Keperawatan Jiwa. Gambut-Kalimantan Selatan. 2018

 

 Oleh, Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Setiap tahunnya, Ikatan Perawat Jiwa Indonesia (IPKJI) mengadakan pertemuan dalam bentuk konferensi untuk membahas bersama-sama suatu tema atau masalah tertentu. Pertemuan ini, selain sebagai ajang untuk saling sapa-menyapa, juga merupakan ajang bertukar ilmu pengetahuan dalam diskusi dan pemaparan materi dari ahli.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini, konferensi juga diadakan di satu tempat yang sudah disepakati. Tahun ini, konferensi diadakan di kota Makassar dengan mengangkat tema mengenai “Pencegahan Dini Kenakalan Remaja dengan Pendekatan Psikoedukasi melalui Kerjasama Lintas Program dan Lintas Sector”. Konferensi Keperawatan Jiwa ini diadakan dari tanggal 8-10 November 2018.

Secara personal, saya menganggap tema ini sangat menarik, terutama karena tema ini sejalan dengan tema WHO untuk Mental Health awareness tahun 2018 atau tahun ini. Pada tahun ini, Keperawatan jiwa juga ikut memberikan perhatian khusus pada anak dan remaja, terutama mengenai keadaan psikologis atau mental mereka.

Baca Juga: Kesehatan Jiwa untuk Orang-orang Muda

Informasi mengenai Konferensi Keperawatan Jiwa dan berbagai kegiatannya dapat diperolah dari Website Pengurus atau secretariat IPKJI Sulawesi Selatan.

Saya pribadi, sayangnya tidak bisa hadir dalam konferensi luar biasa ini. Tapi syukurnya, saya memperoleh sharing informasi dan juga materi yang dibicarakan dalam konferensi tersebut. Tulisan saya kali ini diniatkan untuk berbagi poin-poin penting yang bisa saya petik dari presentasi-presentasi yang dipaparkan oleh para ahli dalam keperawatan jiwa terutama oleh mereka yang bergerak aktif dalam menangani masalah ‘kenakalan remaja’ sehari-hari.

Tanpa harus berpanjang-panjang, berikut adalah poin penting dari presentasi bahan mengenai topik atau tema.

 

Prof. Dr. Budi Anna Keliat, SKp,MAppSc: Gejala Prodroma dan Psikosis Dini pada Pemuda (Psikodromal Early Psychosis)

Pemuda/Remaja menjadi hal penting untuk diperhatikan karena masa-masa pertumbuhan mereka yang cukup berat. Pada masa pertumbuhan remaja atau masa remaja, seorang pemuda/I atau remaja akan berhadapan dengan dunia yang penuh dengan tekanan dan tuntutan, masa-masa kritis, dan tentu saja konflik. Lebih lanjut, pada masa ini, remaja juga sedang dalam proses untuk mencari jati diri dan mencari identitas, kadang remaja juga memiliki idealisme yang tinggi dengan daya fantasi, mimpi dan harapan yang tinggi. Masa-masa ini, kita kenal dengan Fase Prodromal, fase dimana terjadi perubahan perilaku, peran, fungsi, serta social pada individu sebelum munculnya gangguan atau gejala psikotik.

Baca Juga: Kesepian: Penyakit yang perlahan dapat membunuh.

Perlu dingat lagi bahwa masalah gangguan jiwa itu tidak terjadi begitu saja, ada proses panjang yang harus dilalui oleh seorang individu sebelum Ia fix membentuk perilku yang mengarah pada gangguan jiwa. Oleh karena itulah mengapa menilik kembali masa-masa pertumbuhan sebelumnya oleh individu itu sungguh sangat penting.

Fase prodromal sangat bertanggungjawab dan berhubungan erat dengan gejala seperti gangguan tidur, ansietas dan mudah tersinggung. Fase ini juga bertanggung jawab terhadap perubahan persepsi, proses pikir, fungsi kognitif dan suasana hati anak dan remaja. Perubahan-perubahan ini menjadi tanda awal gejala psikosis seperti yang sudah disinggung di paragraph sebelumnya.

Baca juga: Gangguan tidur yang menyisa: Shift Work Disorder

Kita dapat melihat tanda-tanda atau manisfestasi tidak survive-nya seorang remaja ketika melewati keadaan prodromal. Kita juga bisa melihat perubahan perilaku yang menunjukkan keadaan sulit berkonsentrasi/berpikir jernih, kecurigaan, perubahan cara melihat dan mendengar, pemikiran dan perilaku aneh, lalu menarik diri dan perilku kebersihan yang kurang. Semua ini terjadi karena para remaja ini tidak mampu berhadapan secara positif atau adaptif dengan masalah yang mereka hadapi. Koping mereka terhadap masalah atau stress juga tidak bagus sehingga sangat sulit bagi mereka untuk selanjutnya berperilaku secara normal. Usia yang paling rentan untuk mengalami gejala seperti ini adalah mereka yang berada di usia 15-25 tahun.

Baca juga, Kisah seorang pecandu internet dan Jawaban Tuhannya.

Untuk para Perawat peneliti, mereka yang tertarik untuk melakukan penelitian mengenai masalah anak dan remaja, penelitian untuk focus masalah fase prodromal dapat dijadikan sebagai salah satu topik atau focus masalah penelitian. Masalah untuk mereka dengan fase ini dapat ditemukan di Sekolah Menengah Pertama, Panti Asuhan dan Pesantren. Prof. Budi dalam presentasinya sudah menunjukkan banyak contoh penelitian terkait dengan tema dan focus penelitian ini.

Banyak upaya yang bisa dilakukan oleh Perawat (terutama) dalam gerakan untuk membantu para anak dan remaja ini menghadapi fase hidup mereka yang tergolong berat. Selain dalam upaya promotive, preventif, ada juga upaya terapi seperti terapi kognitif, gabungan antara terapi kognitif dan perilaku, dan selanjutnya psiko edukasi keluarga. Perawat tidak melulu harus terkonsentrasi pada satu titik perawatan saja, perawat bisa menggunakan fungsi kolaborasinya untuk merambah area perawatan lainnya dan expand pelayanan perawatan jiwa sesuai dengan kebutuhan.

Perawat dalam peran dan fungsinya selanjutnya juga dapat melakukan promosi-prevensi kesehatan jiwa kepada anak dan remaja. Kegiatan ini dilakukan seturut dengan usia perkembangan individu. Sebagai contoh, Usia 0-5 tahun, diharapkan mendapatkan pelayanan posyandu, PAUD dan stimulasi perkembangan; untuk usia 6-18 tahun, pelayanan UKS dan kesehatan jiwa, stimulasi perkembangan serta paket pencegahan kekerasan, Napza, Bunuh diri dan bijak menggunakan Gadget.

Semua upaya dan kerja ini diharapkan dikerjakan dan tidak berakhir dengan teori saja, demi mencapai tujuan kesehatan jiwa sepanjang hayat bagi semua masyarakat Indonesia.

photogrid_15439233971806433147407956543367.jpg
Masa depan anak dan remaja ada ditangan semua orang dan juga menjadi tanggung jawab semua orang. Kesuksesan masa depan mereka kelak ditentukan oleh kepekaan kita untuk melihat masalah yang mereka alami dan keinginan kita untuk membantu mereka mengatasi masalah yang mereka alami. Foto ini adalah foto sahabat-sahabat saya ketika masih menempuh pendidikan Sarjana Keperawatan, semua orang yang di foto ini berhasil sukses di jalan mereka masing-masing.

 

Prof. Achir Yani S.hamid, MN, DNSc : Penanganan Global Penyimpangan Perilaku Remaja

Kenakalan remaja atau dalam Bahasa Inggris disebut sebagai Juvenile Deliquency adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa. Kenakalan remaja dimasukkan kedalam gejala patologis social pada golongan remaja yang disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah pengabaian social.

Perilaku berisiko dan menyimpang yang paling banyak kita Kenal dalam diri remaja adalah merokok, minum-minuman keras, penggunaan obat-obatan terlarang, perilaku tindak kekerasan baik fisik, psikologis, stress yang berdampak pada kesehatan fisik, psikologis-emosional, social bahkan spiritual, masalah nutrisi dan masih banyak lagi.

Dalam konsep kenakalan remaja, perilaku kekerasan adalah hal penting yang perlu diberikan perhatian. Perilaku kekerasan ini didefinisikan sebagai penggunaan kekuatan fisik, yang berupa ancaman terhadap orang lain atau kelompok serta komunitas tertentu yang nantinya menyebabkan cedera, kematian, gangguan psikologis, gangguan perkembangan dan deprivasi. Bentuk kekerasan yang dilakukan oleh remaja dapat dibagi menjadi beberapa bagian, seperti pada diri sendiri (Suicidal dan self-abuse), interpersonal (Keluarga/pasangan, komunitas) dan kolektif (Sosial, politis, ekonomi).

Untuk mencegah dan mengurangi masalah yang berkaitan dengan penyimpangan perilaku pada remaja, ada beberapa hal penting yang harus kita pikirkan dan kerjakan bersama-sama. Pertama kita dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pencegahan terhadap masalah yang berhubungan dengan perilaku penyimpang pada remaja. Kedua, membina kemitraan lintas sector, kemitraan ini dapat dilakukan dengan berkonsultasi mengenai pemecahan masalah dengan berbagai pihak yang peduli. Ketiga, meningkatkan pengetahuan mengenai pentingnya melakukan penelitian terkait dengan masalah, mengembangkan kerangka kerja kebijakan dan selanjutnya mengembangkan kapasitas pencegahan kekerasan pada remaja dengan melibatkan komunitas dan jejaring yang efektif dan bekerja secara berkesinambungan.

 

Fauziah Zulfitri: Pendekatan Coaching and Self-Motivation pada Remaja sebagai upaya pencegahan perilaku kenakalan remaja.

Sebuah presentasi apik diberikan oleh Ibu Fauziah yang merupakan seorang sarjana Psikologi dan aktivis dalam dunia coaching dan self-motivation di Makassar. Menarik bahwa presentasi yang diberikan oleh Ibu Fuaziah menawarkan solusi untuk masalah remaja yang tergolong rumit dan banyak kali kurang tepat penanganannya. Ya, mengutip apa yang disampaikan oleh seorang anak yang berusia lima belas tahun dengan identitas yang disamarkan,

Teenagers are the most misunderstood people on the planet. They are treated like children and expected to act like adult”.

Remaja yang berperilaku diluar batas atau yang kita kenal sebagai remaja yang nakal, memiliki banyak kemungkinan penyebab dan alasan, mengapa remaja tersebut berubah menjadi nakal. Remaja yang nakal mungkin saja memiliki orang tua yang sangat- sangat disiplin dalam artian orang tua yang mengasuh anaknya dengan menerapkan peraturan-peraturan tertentu yang sangat mengekang kebebasan si anak. Kompensasi dari perilaku ini adalah pencarian kebebasan, kedamaian, ketenangan dan perlindungan diluar rumah yang ditunjukkan dengan sikap pembangkang dan kita kenal sebagai ‘nakal’.

Mereka yang bersikap atau berperilaku nakal juga bisa dipengaruhi oleh teman atau sahabat yang menjadi orang-orang terdekatnya. Sahabat atau teman atau dalam artian adalah kelompok, akan saling mempengaruhi satu sama lain. kelompok juga akan membentuk perilaku yang mirip dan hampir sama, yang tidak sama atau berlainan akan saling mengeluarkan atau saling membuang satu sama lainnya. Status social dan ekonomi yang rendah, penolakan dari kelompok tertentu dan penampilan atau performance dis ekolah yang rendah, juga merupakan faktor-faktor yang ikut mempengaruhi pembentukan perilaku yang negative pada anak dan remaja.

Selanjutnya, Prinsip penanganan masalah pada anak atau remaja yang nakal seharusnya adalah multidisiplin dan multisector. Keluarga, sekolah, lingkungan social, pemerintah, Youth coach dan Mental health practitioner harus dapat bekerja bersama-sama dalam membantu mengatasi masalah yang dialami oleh anak dan remaja ini. Salah satu tawaran yang diberikan oleh pembicara dalam event ini adalah dengan membentuk, ‘coaching’ program yang bermanfaat untuk membantu anak dan remaja keluar dari masalah yang dialaminya. Coaching dapat diartikan sebagai berikut,

“Coaching is partnering with clients in a thought-provoking and creative process that inspires them to maximize their personal and professional potential”

Coaching bekerja dengan menggunakan metode tertentu, dan dengan menggunakan cara kerja waktu tertentu. Waktu yang digunakan dalam coaching adalah waktu masa sekarang dan waktu masa yang akan datang dengan berpegang pada tujuan tertentu.  Seorang coaching harus dapat menguasai kompetensi untuk berpikir secara rasional, merasakan dengan menggunakan emosi dan berpikir atau bertindak sesuai dengan norma dan peraturan yang berlaku atau yang seharusnya.

Seorang coach yang memberikan bimbingan atau coaching harus mampu menguasai beberapa kompetensi dasar yang sudah ditetapkan. Kompetensi dasar ini sangat mirip dengan kompetensi pemberian asuhan keperawatan jiwa. Kompetensi ini terdiri dari tahapan 1) Setting Foundation, 2) building rapport or relationship, 3) communicating effectively dan yang terakhir adalah 4) facilitating learning and result.

Informasi mengenai coaching federation, dapat dilihat pada link International Coaching Federation (International) dan ICF untuk Indonesia.

 

Dorawan Thapinta, RN,Ph.D : The role of nurses in early prevention of juvenile delinquency

Professor Dorawan adalah seorang Director Research and Innovation of mental health and Psychiatric Care asal Chiang Mai Univeristy Thailand. Dalam presentasinya, ia menyebutkan mengenai faktor yang berkontribusi terhadap pembentukan perilaku kenakan remaja. Faktor tersebut adalah 1) rendahnya angka keikutsertaan siswa dalam kelas, 2) Standar pendidikan yang rendah, 3) Tindakan kekerasan yang terjadi di rumah, 4) Kekerasan yang terjadi dalam kehidupan social remaja, 5) tekanan yang didapatkan dari teman sebaya, 6) faktor yang datang dari social dan ekonominya, 7) penggunaan obat-obatan terlarang, 8) rendahnya bimbingan moral.

Selain faktor yang disebutkan ini, ada juga faktor-faktor yang dibagi menjadi per-domain. Domain yang dimaksud adalah domain individu, keluarga, teman dekat, sekolah atau komunitas. Hal yang bisa saya tarik dari faktor-faktor ini adalah bahwa seluruh komponen dalam diri individu sangat berpengaruh terhadap pembentukan perilaku kenakalan remaja. Pengaruh ini dapat menghasilkan perilaku remaja yang positif dan negative. Tapi, satu faktor saja tidak bisa membentuk perilaku kenakalan dalam diri remaja. Harus lebih dari satu faktor untuk bisa membentuk atau membuat terbentuknya kenakalan remaja.

Perawat memiliki peran yang sangat penting untuk melakukan pencegahan awal perilaku kenakalan remaja. Peran perawat ini seperti memberikan psikoedukasi kepada keluarga, sekolah dan komunitas; melakukan deteksi atau evaluasi awal terhadap kasus atau masalah yang muncul; memberikan atau menegakkan diagnosa keperawatan; melakukan perencanaan untuk menurunkan resiko; merencanakan kegiatan untuk mempromosikan faktor pelindung bagi individu; melakukan outcome evaluation dan membuat perencanaan untuk langkah selanjutnya. Rencana untuk mengurangi resiko perilaku dan melakukan promosi untuk menguatkan protektif faktor difokuskan pada kegiatan persiapan team, konten atau materi promosi, proses pelaksanaan dan ditutup dengan evaluasi proses kegiatan yang sudah berlangsung.

Dalam presentasinya Prof. Dorawan juga memberikan banyak contoh kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah Thailand dalam upaya untuk mencegah perilaku kenakalan remaja didalam keluarga, sekolah dan komunitas. Beberapa contoh kegiatan yang dipaparkan kurang lebih berbicara sesuai dengan teori yang dipaparkan sebelumnya diatas, hanya saja untuk contoh kegiatan ini adalah ‘real’ dalam kehidupan nyata. Lebih lanjut, kegiatan-kegiatan ini bisa menjadi contoh yang baik kalau ingin diterapkan di tempat tinggal kita sekalian.

photogrid_15439232064187657674618053355697.jpg
Pembimbing Klinik dan Mahasiswa/i Praktik Keperawatan Jiwa : Kesuksesan masa depan anak dan remaja ditentukan oleh kesiapan seluruh komponen untuk menjaga, merawat dan membekali anak dan remaja dengan kemampuan yang mereka butuhkan di masa depan.

 

Demikianlah, garis besar Konferensi Keperawatan Jiwa Nasional pada tahun 2018 yang berhasil saya rangkum. Sebenarnya ada beberapa presentasi lagi yang dipaparkan dalam konferensi, tapi karena kesibukan saya saat ini, saya hanya berhasil memuat ringkasan presentasi sebanyak ini saja. Bagi mereka yang berniat untuk menambahkan materi-materi penting lainnya, sangat saya persilahkan.

Jangan lupa untuk tag saya, ketika teman-teman pembaca yang budiman ingin berdiskusi lebih jauh mengenai materi-materi penting ini. Saya akan sangat bahagia dan bersemangat untuk mendalami materi-materi penting ini.

Terima kasih sudah mampir, membaca dan memberi komentar.

Salam.

Iklan