Skip to content
Iklan

Posts tagged ‘luar negeri’

Kapan Lulus ?

Mungkin, selain pertanyaan, “Kapan kawin?” pertanyaan seperti, “Kapan lulus?” adalah pertanyaan yang paling membuat saya ‘sakit kepala’ untuk menyediakan jawabannya.

Hidup dan bersekolah di luar negeri dan menimba ilmu pada universitas yang tidak mempedulikan ‘kapan lulus’ tapi lebih pada ‘kamu sudah bisa apa saja’ memang sangat menantang. Saya yang pada dasarnya berasal dari sekolah dan juga kebudayaan yang selalu berpatokan kepada ‘cepat lulus’, harus meminum pil pahit ketika memutuskan untuk memberikan diri saya beberapa tahun kedepan pada universitas dimana saya menuntut ilmu saat ini.

Saya harus belajar untuk sabar menerima berbagai pertanyaan dengan macam dan jenis yang bervariasi untuk topik ‘Kapan lulus’ dan juga usaha dan kerja keras untuk menghasilkan jawaban kreatif untuk memuaskan penanya. Saya akhir-akhir ini mentok pada jawaban, “Semua ada waktunya! “, sebuah ungkapan frustasi ketidaktentuan atas nasib saya sendiri.

Saya senasip dengan para penanya, saya juga mempertanyakan, “Kapan lulus” kepada mereka yang bertanggung jawab atas proses pendidikan saya (termasuk kepada diri saya yang meng’iya’kan tawaran ini). Segudang penyesalan dan juga dibumbui dengan ‘kemarahan’ ketika saya harus membahasnya satu persatu, merunutnya dari awal dan sebagainya. Tapi, sampai saat ini saya belum menemukan jawaban yang dapat memuaskan keinginan dan harapan saya sendiri. Saya masih menggunakan jawaban, “Semua ada waktunya!”.

Hingga akhirnya, saya bosan. Bosan untuk menerima pertanyaan yang sama dan bosan untuk menjawab pertanyaan yang sama.

Munculnya pertanyaan soal, ‘kapan lulus’ datang dari teman-teman yang menyaksikan dari awal drama pendidikan yang saya lakoni. Mereka kemudian mulai membanding-bandingkan saya dengan pemain peran lain yang tentu saja jauh berbeda dari saya (dari sudut pandang saya). Mereka lantas bertanya, ‘kapan’ lalu karena tidak puas melanjutkan pertanyaan ‘mengapa’. Lalu, mulailah saya menembakkan kreativitas-kreativitas jawaban saya.

Untuk memuaskan diri saya, saya lalu mengambil nilai ‘positif’ dan berusaha untuk menghibur diri saya dengan berpikiran positif. Saya selanjutnya mulai percaya bahwa, ‘cepat lulus’ bukan berarti ‘baik’ (dengan dan untuk ukuran baik atau buruk). Semua tentu saja akan kembali kepada si-mahasiswa-nya sendiri dan juga tempat dimana Ia menuntut ilmu. Saya juga melanjutkan dengan berusaha ‘mengkambing hitamkan’ pihak lain tanpa mengurangi esensi positifnya.

Saya tentu saja menyesalkan kurangnya ‘research’ yang saya lakukan diawal proses pemilihan universitas. Saya juga menyesalkan betapa keras kepalanya mereka yang merekomendasikan tempat dimana saya harus menyelesaikan pendidikan. Tapi, ya…Sekeras-kerasnya saya berteriak, saya yakin tidak akan memberikan perubahan apa-apa bagi saya. Saya sudah terlanjur masuk kedalam kubangan lumpur yang tidak memungkinkan saya untuk kembali.

Menariknya, Akhir-akhir ini saya sangat menikmati masa-masa menuntut ilmu. Saya teringat perkataan salah seorang praktisi keperawatan jiwa, “Saya menikmati proses demi proses tahap pendidikan saya” sambil menunjukkan wajah puas. Sejak saat itu, saya benar-benar menjadi pengikut sarannya. Saya menjadi lebih terbuka dan menerima keadaan saya dan berusaha sebaik mungkin untuk menguasai ilmu-ilmu yang ditransferkan kepada saya. Lalu, saya memilih sikap tidak peduli sepenuhnya dan tidak mau ambil pusing dengan pertanyaan-pertanyaan ‘kapan lulus’ yang dilontarkan kepada saya.

Saya tidak peduli, kawan!, Maaf!” dan sebagai tambahan, “Saya tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas nasip saya saat ini“. Inilah jawaban yang akan saya lontarkan ketika ada yang mendebat saya sampai berkeringat-keringat soal ‘kelulusan’ saya.

Saya tahu, betapa pedulinya mereka terhadap saya, tapi saya juga ingin mengingatkan bahwa ” Tolong, pahamilah proses yang saya lalui”. Proses ini sangat berbeda dengan apa yang sebelumnya kita harapkan bersama diawal. Saya jelas ‘shock’ lebih dahulu dibandingkan kalian. Ya…kadang inilah yang kerap kali saya teriakkan kepada orang-orang yang terus bertanya kepada saya. Teriakan dalam diam, tak bersuara.

Sebagai pemuas diri, saya juga mengusahakan untuk membuktikan diri. Saya ikut terlibat dalam proyek-proyek dan mengusahakan yang terbaik yang bisa saya lakukan. Sebagai evaluasi, saya dengan berani mengatakan bahwa, ‘mereka’ puas dengan hasil kerja saya. Terima kasih. Ini setidaknya memberikan saa informasi bahwa apa yang saya lakukan saat ini, ‘tidaklah sia-sia’. Ada buah yang dapat saya petik, dapat saya panen.

Masih ingin bertanya, ‘kapan lulus’ kepada saya?

Monggo…

Iklan