Menyesalkan Apa yang Terjadi

    Oleh Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat. Seorang Klien yang pernah saya rawat dimasa-masa pendidikan saya menjadi seorang Perawat pernah berkata demikian, “Jangan menyesalkan apa yang terjadi, apa yang telah lalu memang harus terjadi demikian agar masa sekarang dapat terjadi seperti ini. Kita seharusnya berterima kasih pada masa lalu, entah baik atau buruk, karena Ia berkonstribusi terhadap masa sekarang dan juga menentukan jalan untuk masa yang akan datang”. Sebuah perkataan yang sangat bijak menurut saya. Sampai saat ini, perkataan ini begitu membekas didalam ingatan saya bersamaan dengan keadaan Klien ini pada waktu itu. Sebagai Mahasiswi Jurusan Ilmu keperawatan … Lanjutkan membaca Menyesalkan Apa yang Terjadi

Menjadi Seorang Perawat: Sepenggal Kisah Perjalanan

Oleh Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat. Alumni Progam Sarjana Keperawatan Angkatan II STIKES SUAKA INSAN BANJARMASIN. Lulus tahun 2013.   Saya tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang Perawat. Seperti kebanyakan anak-anak, permainan dokter-dokteran sewaktu kecil juga menjadi salah satu bagian dalam permainan yang saya nikmati sewaktu usia bermain. Saya menikmatinya karena itu adalah permainan. Ayah saya dulu berkata bahwa saya kelak, ketika dewasa mungkin akan berkarir dibidang kesehatan. Tapi, saya tidak mempercayainya waktu itu. Pengalaman bersentuhan dengan Perawat dimasa-masa awal hidup saya juga bukan hal yang menyenangkan. Saya sempat trauma melihat petugas kesehatan dengan baju putih dan cap diatas … Lanjutkan membaca Menjadi Seorang Perawat: Sepenggal Kisah Perjalanan

Bedah Jurnal : Sedikit Catatan

Beberapa waktu yang lalu, saya diberi kesempatan untuk menghadiri seminar jurnal atau lebih dikenal sebagai Bedah Jurnal yang dipresentasikan oleh Mahasiswa/i program profesi Ners di salah satu Bangsal Perawatan Rumah sakit Pemerintah. Presentator berasal dari STIKES SUAKA INSAN dan Mahasiswa/i dari sekolah keperawatan swasta lainnya. Tema yang diusung oleh presentasi jurnal kali ini adalah terfokus pada manajemen penanggulangan hipotermia pada Klien di Ruang Bedah. Presentasi dari Rumah sendiri memang sangat menarik, materi presentasi baru diberikan ditempat beserta jurnal rujukan yang mereka gunakan untuk bahan diskusi. Untuk intervensi, team Mahasiswa/i mengajukan terapi penggunaan kaos kaki untuk mengurangi potensi hipotermia selama proses … Lanjutkan membaca Bedah Jurnal : Sedikit Catatan

Seminar wajib ? (What ??)

Seorang sahabat saya menceritakan kisahnya di telpon siang ini. Lama tidak terdengar kabarnya, saya berharap agar Ia membawakan saya sebuah kabar yang baik dan mententramkan jiwa. Tapi, yang saya peroleh siang ini adalah perasaan tidak nyaman karena kepedulian saya terhadap sahabat saya ini yang ‘malang’ nasipnya, dari sudut pandang saya. Sahabat saya ini bercerita bahwa Ia merasa sangat keberatan dengan kebijakan fakultasnya untuk ‘mewajibkan’ mahasiswa/i-nya untuk ikut berpartisipasi dalam seminar yang Ia deskripsikan sebagai ‘yang tidak menarik’ perhatiannya. Kadang, saya merasa sahabat saya ini terlalu ‘langsung’ pada tempatnya ketika sedang berbicara. Bukannya saya tidak suka, hanya saja saya sedikit terheran-heran … Lanjutkan membaca Seminar wajib ? (What ??)

Kapan Lulus ?

Mungkin, selain pertanyaan, “Kapan kawin?” pertanyaan seperti, “Kapan lulus?” adalah pertanyaan yang paling membuat saya ‘sakit kepala’ untuk menyediakan jawabannya. Hidup dan bersekolah di luar negeri dan menimba ilmu pada universitas yang tidak mempedulikan ‘kapan lulus’ tapi lebih pada ‘kamu sudah bisa apa saja’ memang sangat menantang. Saya yang pada dasarnya berasal dari sekolah dan juga kebudayaan yang selalu berpatokan kepada ‘cepat lulus’, harus meminum pil pahit ketika memutuskan untuk memberikan diri saya beberapa tahun kedepan pada universitas dimana saya menuntut ilmu saat ini. Saya harus belajar untuk sabar menerima berbagai pertanyaan dengan macam dan jenis yang bervariasi untuk topik … Lanjutkan membaca Kapan Lulus ?

Guru, Makhluk Seperti Apakah dirimu?

Sebuah pertanyaan muncul didalam kepala saya, “Guru/dosen, Makhluk Seperti Apakah diriMu?”, setelah saya mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan hari ini dengan salah satu pengajar saya. Edisi menulis kali ini mungkin akan sedikit-banyak mengandung kata-kata lebay dan alay yang tidak ilmiah. Tulisan ini juga ditujukan sebagai sebuah permenungan, bahan diskusi dan bukan bermaksud untuk digunakan sebagai alat adu domba antara dosen/pengajar dan mahasiswa-nya/siswa. Sebelum mulai, marilah kita samakan persepsi terlebih dahulu. Pertama, saya lebih nyaman menggunakan kata ‘pengajar’ dibandingkan dengan guru. Pengajar dapat berarti guru, dosen atau profesor dan sebagainya. Kedua, saya akan memilih kata ‘peserta didik’ sebagai kata yang merujuk … Lanjutkan membaca Guru, Makhluk Seperti Apakah dirimu?