Lanjut ke konten
Iklan

Posts from the ‘Art and Culture’ Category

Manuk Dadali di Asrama Putri RVM Luzon, Manila-Filipina

 

photogrid_15373501529237093732054282372703.jpg

Para Penghuni Asrama Putri RVM Luzon-Paco, Manila

 

Seorang sahabat saya yang baik hatinya pernah berkata, “Kemanapun kamu pergi, ingatlah selalu untuk membawa nilai luhur, seni dan budaya Indonesia bersamamu. Percayalah bahwa Ibu pertiwi merestui”. Nasihat ini terus saya ulang berkali-kali didalam hati setiap kali saya harus merantau dan menginjakkan kaki di negeri lain. Nasihat ini juga menjadi penyaring dan tameng yang sangat efektif bagi saya ketika saya harus berhadapan dengan nilai budaya dan kebiasaan dari luar yang bersifat merusak dan tidak pantas, dan karena nasihat ini jugalah, saya bersemangat setiap kali saya mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kebudayaan dan nilai-nilai baik milik Indonesia pada orang lain.

Beberapa waktu yang lalu, bersamaan dengan kunjungan saya ke Manila (lagi), saya ditawari kesempatan untuk bergabung bersama teman-teman penghuni asrama (tempat tinggal saya di Manila) untuk membawakan salah satu pertunjukkan khas asli Indonesia. Saya dan tim (yang kebetulan adalah para Biarawati) menjatuhkan pilihan pada pertunjukkan tari dengan latar belakang lagu, Manuk Dadali.

Manuk dadali sendiri merupakan sebuah judul lagu ciptaan yang selanjutnya dikembangkan menjadi tarian tradisional-modern yang cukup mudah untuk dipelajari dan sangat pantas untuk ditampilkan ditempat umum. Manuk dadali berasal dari budaya Sunda, mengisahkan tentang keperkasaan burung garuda sebagai symbol dari Indonesia sebagai Negara. Selain perkasa, burung Garuda juga dikisahkan sebagai burung yang elegant, dan berkharisma, sehingga tarian yang disajikan juga harus memuat hal-hal yang terkandung didalam nilai seekor burung garuda.

Sebagai catatan tambahan dalam Bahasa Tagalog, Manuk berarti Ayam atau Chicken (English). Ketika saya bertugas untuk memberi pengantar mengenai tarian ini, saya disambut tawa oleh teman-teman dari Filipina, bukan dalam artian yang negative, hanya saja memang dalam Bahasa mereka manuk berarti Ayam, dan mereka mengira bahwa tarian yang akan kami bawakan ini adalah Chicken Dance. (Please, no racist in here, okay. Think Positive).

Proses latihan untuk menyajikan tarian yang menurut banyak orang cukup sederhana ini ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Selain karena factor waktu yang tidak teroganisir dengan baik, kemampuan dari tim untuk menyerap cepat setiap gerakan juga menjadi factor yang mempenagruhi kesuksesan penampilan tarian ini di depan umum. So, inilah kisah saya dan teman-teman ketika harus berjuang menampilkan kesenian tari di negeri orang.

 

Latar belakang

Saya secara pribadi tidak memiliki latar belakang sebagai penari, meskipun dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, saya pernah menjadi pemimpin senam teman-teman setiap hari jumat (Ini tentu saja tidak masuk kedalam kategori memiliki riwayat menari). Pernah memang, ketika duduk di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, saya ikut-ikutan latihan menari di sanggar menari di desa, tapi itu juga hanya saya hadiri mungkin tidak lebih dari lima kali. Bukti ini sangat cukup menguatkan bahwa saya sangat tidak pandai menari.

Saya akui bahwa kemampuan organisasi motoric saya sangat tidak baik. Ini mungkin menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus saya carikan solusinya dimasa yang akan datang. Meskipun saya penggemar olahraga senam, tetap saja menari bukan salah satunya. Kata orang, menari itu sama seperti senam, sama-sama menggerakkan tubuh dan sama-sama menggunakan music sebagai alat bantu. Jujur, saya tidak sependapat. Bagi saya, senam itu berbeda dengan seni tari. Ya, pokoknya ada bedanya!. (Maaf ya, kalau saya harus ngotot seperti ini).

 

Perubahan Kepercayaan

Sejak lama, saya percaya bahwa tubuh saya sama sekali tidak lemah gemulai, alias kaku. Saya pernah memiliki pengalaman di’ejek’ oleh beberapa sahabat karena betapa kakunya tubuh saya. Ini juga mungkin adalah salah satu alasan mengapa saya lebih suka senam dibandingkan menari. Senam saya anggap cocok untuk mereka yang tubuhnya kaku seperti saya, sedangkan menari hanya untuk mereka yang mampu mengolah gerak tubuhnya menjadi gemulai.

Tapi, ketika saya mengikuti proses latihan menari ini, saya dihadapkan pada kenyataan yang hampir tidak masuk diakal saya. Dengan berbekal rekaman (ya, saya merekam gerakkan saya sendiri, ketika saya latihan menari), saya bisa melihat dan mengoreksi sendiri kenyataan bahwa tubuh saya ternyata bisa membentuk gerakan lemah gemulai juga. Hal ini tentu saja merubah standar penilaian saya akan diri saya sendiri. Saya ternyata salah memberi penilaian akan diri saya sendiri selama ini, dan saya lebih percaya pendapat negative orang lain dibandingkan diri saya sendiri. Miris.

Kisah saya ini sekaligus pelajaran untuk teman-teman sekalian juga. Mengenai kemampuan diri, kemampuan itu hanya sebatas dimana kita mempecayai diri kita sendiri. Seberapa kita percaya bahwa kita mampu, maka itu pulalah kemampuan yang kita miliki. Saya memilih untuk percaya bahwa saya tidak mampu, maka saat itu terjadilah apa yang saya pikirkan. Untungnya, saya masih memberi kesempatan untuk melihat hal lain dari keterbatasan yang saya miliki dan saya melihat adanya hal lain dari apa yang saya miliki. Kesadaran ini selanjutnya saya lahirkan dalam bentuk tindakan, merubah kepercayaan yang kurang tepat dan menggantinya dengan hal yang lebih baik. Percaya bahwa saya bisa, percaya bahwa saya mampu. Saya harap teman-teman juga demikian. Karena waktu benar-benar mampu mengubah apapun, termasuk merubah bentuk pandangan kita akan sesuatu atau kepercayaan tertentu.

 

Proses melatih diri dan membiasakan diri dengan gerakan

Judul diatas sebenarnya dapat saja saya singkat menjadi, ‘proses latihan’. Hanya saja, kadang kita perlu sesuatu yang sedikit bagaimana begitu untuk membuat hidup sedikit lebih berwarna.

Proses latihan yang saya dan tim jalani benar-benar singkat dan tidak terlalu berat seperti ketika tim tari nasional menyiapkan diri untuk acara pembukaan ASIAN GAMES 2018 yang dilakukan beberapa waktu yang lalu. Proses yang kami jalani, jika bisa saya singkat dalam satu kata, maka kata yang paling bisa menggambarkannya adalah kata ‘kocak’. Kocak karena meskipun kami berusaha untuk serius, tetap saja tidak pernah benar serius, kami tidak bisa menahan tawa apalagi melihat kelakuan yang kami masing-masing lakukan.

Sebenarnya, sebelum memutuskan untuk memilih Manuk Dadali sebagai musik dan tarian yang ingin kami tampilkan, kami memutuskan untuk menari Jaipong. Jaipong adalah tarian yang menurut saya pribadi sangat sulit untuk dihafal, tubuh saya entah kenapa sangat sulit untuk mengingat setiap gerakannya, dan tubuh saya sedikit berontak ketika harus menggoyangkan bagian pinggul. Saya kaku sekali kalau harus menggerakkan bagian tubuh yang ini. Latihan hari pertama dengan lagu Jaipong membuat badan saya pegal semua dan berakhir dengan keadaan dimana saya tidak bisa tidur selama semalaman. Untunglah untuk hari kedua latihan, kami memutuskan untuk mencari lagu dan tarian yang lain dan pilihan kami jatuh pada Manuk Dadali.

Kami hanya memiliki jatah waktu dua kali untuk melakukan latihan sebelum tampil. Gila! Ya, Gila!. Apalagi kalau jam latihan untuk dua kali pertemuan itu hanya kami lakukan dalam waktu kurang lebih satu jam. Mereka yang sudah sering berlatih menari akan mengolok-ngolok kami kalau mendengarkan kisah ini. Tapi, bagi kami, waktu seperti ini cukup. Cukup karena untungnya dalam tim kami, ada satu orang yang benar-benar menguasai dan hafal semua gerakan, sehingga pikir kami, kami akan sangat terbantu. (Okay, jangan dicontoh mengenai hal ini ya, pembaca sekalian. Dalam tim, kita bisa saja mengandalkan satu atau dua orang untuk mengerjakan satu dan lain hal, tapi bukan berarti bahwa pergerakan dan pertumbuhan kelompok sepenuhnya diserahkan pada satu atau dua orang ini. Kasian, karena mereka mungkin saja sangat kewalahan untuk menanggung beban banyak orang, Ia/mereka mungkin saja kewalahan. Lalu, bukankah ini adalh team. Team artinya bersama-sama, berjalan bersama, jadi harus saling melengkapi dan harus saling menolong).

Saya senang sekali ketika menjalani proses latihan. Saya senang karena saya bisa berkeringat dan rasanya sehat. Apalagi mengingat pekerjaan saya yang akhir-akhir ini hanya berfokus didalam ruangan saja benar-benar membuat tubuh saya lama kelamaan lemah juga. Olahraga sedikit mungkin bisa memberi saya waktu untuk tetap mengaktifkan sel-sel otot anggota gerak milik saya.

Waktu-waktu latihan menjadi semakin menarik karena tim saya yang mayoritas terdiri atas para Biarawati senang membawa makanan untuk bisa disantap bersama sambil tertawa dan bercanda bersama pada sesi-sesi latihan.

 

photogrid_15373503505967997293194217812020.jpg

Saya dan para Biarawati, Peserta Orientasi Asrama.

 

Pentas, menuju Panggung

Hari-H akhirnya tiba juga, saya tidak mempersiapkan banyak hal, karena saya memang saat ini sedang sibuk dengan pekerjaan lain yang sangat membutuhkan perhatian saya yang cukup memakan waktu.

Dua jam sebelum acara dimulai, kami memutuskan untuk mengingat kembali apa yang sudah kami pelajari pada malam sebelumnya. Bisa dibayangkan, ya…Lupa!, serius lupa semua gerakan yang dipelajari pada latihan terakhir. Saya sempat berpikir, apakah saya ini sudah tua ?, sehingga cepat sekali rasanya untuk lupa dan melupakan sesuatu ?. Tapi, berbekal waktu yang terbatas, kami coba mengingat kembali dan bersiap untuk menunjukkan hasil latihan kami pada penonton.

Tiba jam yang ditunggu-tunggu, gugup…humm.., saya terlalu antusias untuk segera menyelesaikan acara ini dan pergi kembali mengerjakan pekerjaan saya, sehingga saya sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk gugup. Saya teringat apa yang dikatakan oleh Salah satu tokoh dalam movie Fantastic Beast and Where to find them pada saat Ia sedang bekerja untuk menangkap para Fantastic Beast yang hilang di Kota, Ia berkata kira-kira seperti ini “ Kekhawatiran hanya akan menambah beban berat pekerjaanmu”. So, berbekal petuah ini, saya berusaha untuk focus dan membayangkan hal baik yang bisa saya pikirkan.

Tiba saatnya untuk tampil dan daaa….penampilan kami terjadi begitu cepat. Ya, penampilan yang hanya berkisar 3 menitan ini sungguh mengurus energi !.

Menguras energi karena saya dan teman-teman banyak lupa dengan apa yang sudah kami pelajari sebelumnya. Saya sama sekali seperti kertas kosong, lupa dengan apa yang sudah saya pelajari sebelumnya.

Tapi, hal menarik yang saya temukan adalah antusiasme dan positifnya pikiran para Biarawati dan teman-teman tim saya dan juga para penonton. Saya senang menerima kenyataan bahwa mereka menikmati aksi lucu kami sekalian. Sepertinya mereka paham dan mengerti bahwa kami sudah berusaha dengan sebaik kemampuan kami. Untuk hal ini, saya tentu sangat bersyukur dan berterima kasih.

Pelajaran pribadi yang bisa saya petik dari peristiwa mengenai penampilan ini adalah sikap positif terhadap kerja sendiri. Ketika selesai menyelesaikan tarian, pikiran saya langsung memberi saya respon negative ditandai dengan penyampaian kalimat, “Ah, banyak yang salah (gerakan tarian yang saya dan tim lakukan…”. Sedangkan, orang lain disekeliling saya berkata, “ Wooo…selamat, tarian kalian bagus”, “Kita sudah bekerja keras dan banyak orang suka…”. Saya mungkin harus banyak menginvestasikan waktu untuk memperbaiki cara berpikir saya yang sedikit tidak baik ini.

Saya rasa, demikian cerita saya untuk saat ini. Semoga pembaca sekalian dapat mengambil pelajaran berharga dari petualangan saya dan team tari Manuk Dadali.

Salam dari saya.

 

photogrid_15373504908991883722766590258136.jpg

Empat Orang Penari Manuk Dadali Malam Itu di Asrama Putri RVM, Luzon-Manila

 

Iklan

ASUS LaptopKu: “Bisa apa Saya tanpa Engkau ?”

photogrid_15360711107541030359565275929771.jpg

Oleh, Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.

Berprofesi sebagai Perawat dengan pekerjaan sampingan sebagai seorang asisten peneliti dan Penulis lepas membuat saya harus hidup dan menempel terus dengan benda elektronik yang bernama Laptop.

Laptop, selain menjadi alat elektronik yang membantu kegiatan hidup sehari-hari, juga adalah alat elektronik yang sangat penting untuk mempertahankan dan memperpanjang hidup, baik saya sendiri dan orang lain. Bagaimana tidak, hampir seluruh pekerjaan kantor dan tulis-menulis, saya kerjakan dengan bantuan benda kecil ini. Saya tidak pernah membayangkan hidup saya akan berubah menjadi seperti ini, bahkan ketika saya masih mengikuti pendidikan dasar keperawatan.

Sebagai informasi (Siapa tahu ada yang sama sekali tidak tahu) Untuk saat ini, Perawat itu pekerjaannya tidak melulu hanya di ruang praktik saja, tapi juga mengerjakan hal lain seperti administrasi, mengajar atau sharing ilmu bahkan penelitian yang memiliki tujuan untuk membantu meningkatkan kualitas pemberian asuhan keperawatan di tempat praktik. Nah, saya termasuk generasi yang sudah bekerja dengan memaksimalkan fungsi dan peran kerja perawat seperti ini (Senyum Bangga).

Bisa dibayangkan kan kalau saya sama sekali tidak memiliki alat canggih yang bernama Laptop?. Mati kutu!

Kebutuhan

Selain aktivitas saya di tempat praktik, yang memang kebanyakan didalam ruangan, saya harus menerima kenyataan bahwa saya memiliki mobilitas yang cukup tinggi di luar ruangan. Rumah-rumah Klien kadang harus saya datangi setiap kali saya harus memberikan asuhan keperawatan keluarga atau mungkin sekedar berkunjung untuk melakukan perawatan sederhana.

Saya juga kadang harus membagi waktu saya untuk teman-teman dan me time di luar ruangan, nongkrong dimana begitu sambil menikmati sibuknya kota tempat saya tinggal.

Mengingat aktivitas saya seperti ini, saya sangat membutuhkan perangkat elektronik berupa Laptop yang kalau memungkinkan tipis dan ringan, praktis dengan design yang sederhana tapi tetap mewah, dispay-nya keren dengan keunggulan teknologi yang bisa membuat pekerjaan saya terbantu tanpa mengabaikan sisi stylish dari perangkat elektronik tersebut.

Laptop/Notebook ASUS-ku

Setiap bekerja saya pasti membawa Notebook ASUS tercinta milik saya. Saking cintanya, saya bahkan memberinya nama, GD. Persis dengan nama panggung salah satu penyanyi asal Korea Selatan, G-Dragon yang merupakan penyanyi favourite saya. Laptop ASUS milik saya berwarna putih dengan model produk Notebook X200CA, Processor Intel ® Celeron ® CPU 1007U @1.50 Ghz, 1500 Mhz, 2 Core (s), 2 Logical Processor. Saya sudah menggunakannya kurang lebih lima tahun ini dan sangat setia menemani saya kemanapun dan dalam situasi apapun.

 

20180313_144107

ASUS Notebook X200CA dan beberapa berang yang membantu saya bekerja

 

Meskipun saya pecinta warna hitam, tapi saya memberi pengecualian pada Laptop terkasih saya, karena alasan special. Saya selalu committed untuk menjaga, merawat dan melindungi benda elektronik ini. Saya dan Laptop ini sudah menjadi best friend, yang kalau diandaikan terpisah jauh darinya barang se-jam saja rasanya bagaimana begitu.

ASUS Notebook X200CA milik saya ini, saya beli dengan menggunakan uang gaji yang saya sisihkan secara sengaja selama beberapa bulan. Saya masih ingat betul ketika saya dengan sangat niatnya, menahan segala macan godaan demi mewujudkan impian saya untuk memiliki perangkat elektronik ini. Sahabat saya waktu itu bahkan sedikit saya buat kesal karena saya beberapa kali mendatangi kamar kostnya untuk minta makan gratis, alasannya ‘hemat’ supaya bisa beli laptop baru. Dengan latar belakang seperti inilah, saya begitu sangat menyayangi benda elektronik milik saya ini dan setelah saya membelinya, saya begitu sangat gembira karena kualitas yang saya harapkan ada didalam perangkat elekronik ini.

ASUS Notebook X200CA milik saya ini sudah mengalami perjalanan yang sangat luar biasa dan masih bertahan. Mungkin bertahan karena tahu pemiliknya adalah orang yang boke juga, menggantinya pasti tidak akan mudah. ASUS Notebook X200CA ini sudah berjalan-jalan jauh dari pulau Kalimantan, ke Jawa lalu sampai ke Luar Negeri. Ia juga sudah melewati cobaan yang luar biasa seperti goncangan ketika dibawa di kendaraan bermotor, pesawat ketika turbulence bahkan ketika harus tanpa sengaja terjatuh karena pemiliknya kecapean. Ia masih bertahan !

ASUS Notebook X200CA ini (terlebih lagi) sudah sangat dan sangat berjasa untuk membangun WordPress Mariafraniayu.com menjadi kenyataan.

Bisa apa saya tanpa Engkau ?.

Terima kasih ASUS Indonesia, serius….Selama kurang lebih 5 tahun menggunakan produk kalian, saya puas dan bangga!

Penemuan

Laptop yang saya gunakan untuk bekerja saat ini memang sudah ASUS, tapi beberapa waktu yang lalu ketika saya jalan-jalan di depan toko elektronik, saya menemukan Laptop ASUS keluaran teranyar, ASUS Vivo Flip TP410. Seketika saja, saya langsung jatuh hati dengan tampilannya yang super kece dengan keunggulan teknologi yang WOW!

 

TP410_13

Laptop ASUS Vivo Flip TP410

 

Laptop ASUS Vivo Flip TP410 memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya stand out dari produk laptop-laptop lain, berikut adalah keunggulannya:

  1. Tipis dan ringan. Gilaaaa, bobotnya hanya sekitar 1.6 Kilogram. Selain ringan, ASUS Vivo Flip TP410 juga hanya memiliki tebal 1.92 cm dengan ukuran panjang 14 Inci. Wah, ini sangat pas sekali untuk kita-kita yang memiliki kegiatan mobile yang tinggi.
  2. NanoEdge Display. Display milik ASUS Vivo Flip TP410 ini memiliki tampilan ultra tipis dengan fitur NanoEdge yang memiliki fungsi untuk memaksimalkan ukuran layar plus meminimalkan ukuran body Laptop ini. Keren kan!. Jadi, meskipun tipis dan ringan, para pengguna juga akan tetap dimanja dengan tampilan layar yang diatas rata-rata.
  3. Fingerprint sensor. ASUS Vivo Flip TP410 ternyata sudah dilengkapi oleh fitur fingerprint sensor yang hanya hadir di laptop kelas atas. Fitur fingerprint sensor ini hanya terdapat dapat fitur Windows Hello yang terdapat dalam program Windows terbaru, Windows 10. Fingerprint sensor ini sangat bermanfaat untuk menjaga keamanan Laptop, jadi hanya yang memang pemilik asli dari Laptop ini saja yang membuka laptop yang bersangkutan.
  4. Bisa jadi 4 mode. Okay, ini adalah hal menarik yang paling utama yang menjadi daya tarik saya ketika saya bertatap muka dengan laptop ini di estalase toko. Laptop ini bisa berubah bentuk layaknya transformer dengan varian gaya seperti media stand, powerful Laptop, responsive Tablet dan Shared Viewer. Kurang apa coba !. Varian posisi Laptop seperti ini sangat dibutuhkan oleh orang seperti saya yang memang kadang harus bekerja berbagi laptop bersama orang lain.

Untuk membuat teman-teman melihat lebih dekat (meskipun hanya didepan layar saja), penampakan dari Laptop yang saya bicarakan ini, saya akan memuat gambar-gambarnya dibawah ini.

TP410_15

 

TP410_25

Laptop ASUS Vivo Flip TP410

 

Laptop ini dijual dengan harga mulai Rp. 7 Juta Rupiah. Alamaaaak, baru ‘dimulai  dari harga’ !!. Dengan upah bekerja saya seperti saat ini, saya sedikit rendah diri untuk dapat memilikinya.

Saat itu, saya hanya bisa bertanya-tanya sedikit pada penjual dan tidak berani membuat janji untuk kembali dan membeli. Saya hanya langsung tancap gas, melarikan diri dari depan toko. Sambil memendam rasa dan berharap entah kapan bisa memiliknya.

Nah, lalu hari ini, saya diberitahu oleh seorang sahabat bahwa ada KOMPETISI BLOG dengan hadiah utama sebuah Laptop ASUS Vivo Flip TP410. Kompetisi ini diselenggarakan oleh ASUS Indonsia dan pemilik blog kece uniekkaswarganti.com. Saya langsung tancap gas dan mengatakan bersedia ikut!, ya… sambil mengadu peruntungan saya juga. Saya bahkan bela-belain meminta restu dari beberapa Klien saya untuk mengikuti lomba ini, mereka tentu saja sangat mendukung, dan saya semakin bersemangat untuk ikut berpartisipasi.

vivobook-flip-TP410-blog-competition

Bagi teman-teman yang membaca dan melihat postingan saya ini, saya sangat mendorong teman-teman untuk ikut serta dalam kompetisi ini.

 

Ayo tunggu apa lagi, teman-teman !

Ayo ikuti kompetisi ini!

Adu keberuntungan dan yang lebih penting lagi adalah mengasah kemampuan kita untuk menulis dan/atau blogging !.

 

ASUS Laptopku Blogging Competition by uniekkaswarganti.com.

#ASUSLaptopku dan #2018GantiLaptopASUS

Indonesia Maju: Pelajaran dari sikap pantang menyerahnya Atlet Ginting

Oleh, Maria Frani Ayu Andari Dias.

Sebuah kisah menarik datang ketika Pebulutangkis Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting mengalami cedera dan tidak bisa memberikan hadiah kemenangan bagi Indonesia. Presiden Joko Widodo yang pada saat itu ikut serta melihat pertandingan langsung bergegas untuk mendatangi dan menyemangati Ginting. Melalui Ginting, kita para kaum muda belajar arti jatuh dan bagaimana kita harus bersikap, lalu menyusun kembali rencana demi mencapai Indonesia maju.

 

antony

Pebulutangkis Indonesia, Anthony Ginting, usai bertanding melawan pebulutangkis China Shi Yuqi, di Istora Gelora Bung Karno (Sumber. Setkab.go.id)

 

Bapak Presiden Joko Widodo mengatakan “..Kamu telah memberikan yang terbaik”. Sebuah kata-kata penyemangat yang pasti sangat dibutuhkan oleh Ginting pada saat itu. Melihat apa yang sudah Ia perjuangkan, dan bagaimana Ia berjuang, saya tidak bisa mengatakan apa-apa selain terima kasih. Terima kasih karena telah melakukan dan memberikan yang terbaik. Indonesia sangat bangga, bangga dengan perjuangan yang Ia lakukan.

Jatuh pastilah tidak menyenangkan, tapi jika dari jatuh kita bisa belajar sesuatu untuk selanjutnya bangkit dan bersemangat untuk meraih tujuan, mengapa tidak ?.

Banyak yang menyesalkan apa yang sudah terjadi pada Ginting, tapi banyak juga yang tidak pernah berhenti menyemangati Atlet Bulu tangkis yang sudah menunjukkan aksi heroic dan teladan baik untuk dicontoh ini. Ia benar-benar menggambarkan semangat ‘pantang menyerah’, meskipun cedera otot menjadi penghalang baginya. Ia yang sudah sangat kesakitan, tidak berhenti sampai akhir dan itulah pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari seorang Ginting, benar-benar sebuah pencapaian dan teladan yang luar biasa. Ginting mungkin belum bisa membawa medali untuk saat ini, tapi siapa yang akan tahu dimasa yang akan datang. Ginting adalah potensi yang luar biasa dan Ia memiliki segala sesuatu yang Ia butuhkan untuk mencapai kesuksesan dimasa yang akan datang. Saya yakin, Ia mengantongi banyak restu dari rakyat Indonesia. Saya menunggunya dimasa yang akan datang, saya ingin menjadi supporter-nya dan melihat Ia mencapai bintang dan mempersembahkan kemenangan manis bagi Indonesia.

Selain Ginting, Kisah para Atlet hebat juga datang dari Atlet Paradigling (Paralayang), Jafro Megawanto. Ia yang awalnya hanya seorang petugas melipat dan merapikan parasut atlet berhasil untuk menyumbangkan emas ketujuh bagi Indonesia. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa. Ia menjadi teladan bagi kita, terutama kaum muda untuk percaya pada mimpi dan bekerja keras untuk mewujudkannya.

Pembangunan demi Indonesia Maju

Pembangunan di Indonesia juga mungkin bisa diibaratkan seperti kejadian yang dialami oleh Ginting ini. Jatuh-bangun-jatuh dan tidak lupa bangun lagi. Jatuh bukan berarti harus berhenti, istirahat sebentar dan melaju lagi, bangun !. Itulah yang namanya proses pantang-menyerah, sampai tujuan yang kita harapkan berhasil kita gapai.

Dalam proses pembangunan negeri ini, terutama dalam masa awal kepemimpinan Bapak Joko Widodo, banyak yang menyangsikan bahwa seorang seperti Bapak Joko Widodo akan mampu membawa Indonesia menjadi negara yang makmur dan jaya. Tapi, perlahan dan pasti upaya yang selama ini dilakukan sudah mulai nampak dihadapan kita semua.

Pemerintahan saat ini memang secara sengaja menginvestasikan hampir seluruh kekuatan untuk bidang pembangunan fisik dari Sabang sampai Merauke. Pembangunan ini dipercaya menjadi aset awal yang akan menjadi kekuatan bagi Bangsa Indonesia dimasa pembangunan berikutnya. Bapak Presiden Joko Widodo bahkan mengatakan dengan tegas bahwa, Pembangunan itu sangat perlu dilakukan, “Karena ini merupakan fundamental yang tidak bisa kita tinggal”. Lebih lanjut Beliau mengatakan, “Memang harus kita lalui, infrastruktur lebih dahulu yang memang urutannya seperti itu..” dan memang, proses ini tidak bisa dilalui dengan instan, semuanya ada proses dan tahap-tahapannya.

Saya dan mungkin juga banyak diantara kita, belum mampu melihat urgency dari masalah pembangunan ini. Ada banyak yang bahkan mengatakan bahwa pembangunan infrastructure ini terlalu menyita perhatian sehingga masalah pembangunan mental masyarakat terabaikan. Tapi seiring berjalannya waktu, mulai banyak yang nampaknya mulai sadar bahwa pembangunan ini sungguh sangat kita butuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan besar lainnya dimasa yang akan datang.

Ketika saya melakukan perjalanan ke luar negeri melalui bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta, saya tidak henti-hentinya bersyukur. Saya bersyukur, karena saya sendiri bisa merasakan hasil pembangunan fisik yang sudah direncanakan dan dikerjakan oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia. Saya beberapa kali mendengar pujian dari beberapa warga asing yang datang berkunjung ke negeri kita, mereka memuji pembangunan bandar udara yang sangat cepat, pelayanan bandara dan Imigrasi yang juga nyaman dan efisien serta fasilitas bandara yang mengalami peningkatan kualitas yang sangat pesat.

Bandar udara Internasional milik kita, lambat laun sudah semakin berkembang dan sekarang sudah hampir menyamai bandar udara Internasional milik negera tetangga seperti Singapura. Melihat dan mengalami pengalaman seperti ini, saya optimis  bahwa kemajuan kita sebagai Bangsa yang besar akan tiba, pasti !. Kita hanya perlu percaya dan dengan bersemangat membantu usaha dan kerja keras yang sudah dilakukan oleh pemerintah kita saat ini dan juga pemerintahan dimasa yang akan datang.

Peran Kaum Muda

Sebagai orang muda, beban pembangunan bangsa ini diletakkan tepat dibahu kita. Bukan lagi dibahu orang tua kita, tapi dibahu kita!. Kita adalah generasi penerus yang akan menentukan mau dibawa kemana negara kita ini. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan Indonesia maju?. Jawabannya tentu adalah dengan Bekerja dan berkarya!. Tiada lain selain menginvestasikan waktu, kepandaian dan keterampilan kita untuk pembangunan bangsa melalui kerja dan karya yang kita usahakan.

 

bertemu-youthers

Presiden Jokowi pada acara Young on Top National Conference 2018, di Kartika Expo Balai Kartini, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (25/8).(Sumber: Setkab.go.id)

 

Kita tidak bisa tinggal diam saja ketika Revolusi Industri 4.0 sudah berada tepat dimata kita. Tidak!, Revolusi ini sudah bergerak dan kita tanpa sadar sudah ikut terbawa olehnya. Bapak Presiden Joko Widodo dalam suatu kesempatan mengatakan bahwa sebagai orang muda, kita harus bisa menangkap peluang-peluang yang muncul dari perubahan zaman yang sangat cepat terjadi ini. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan memanfaatkan setiap kesempatan untuk dapat berkarya. Banyak sekali bidang yang bisa kita kerjakan, sebagai contoh bidang pendidikan, bidang teknologi informasi, bidang kesehatan, bidang tulis-menulis dan masih banyak lagi.

Setelah kita menangkap peluang yang kita inginkan, selanjutnya yang kita perlukan adalah bekerja dan menghasilkan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Bapak Presiden juga mengajak setiap kaum muda untuk bergerak, menjual dan mengadu gagasan demi perbaikan, pertumbuhan dan kemajuan bersama. Bangsa Indonesia, harus berani untuk membuka diri, tidak takut untuk menerima tantangan dan berani untuk berkompetisi dengan orang lain, terutama ketika berhadapan dengan bangsa lain.

Saya yakin, ada banyak yang bisa kita lakukan. Kesempatan itu jelas ada dihadapan mata kita, kita hanya perlu memfokuskan pandangan kita dan bergerak untuk memanfaatkan kesempatan itu. Tidak perlu takut gagal, karena bagi kaum muda seperti kita, mencoba-gagal, jatuh-bangun adalah bagian dari masa-masa menakjubkan dalam perkembangan kita.

Demikianlah, dengan meneladani Ginting dan semangat pantang menyerahnya, kita sebagai kaum muda, generasi penerus Bangsa, bekerja dan berusaha sesuai dengan bakat, keterampilan dan potensi yang kita miliki demi kemajuan Bangsa. Indonesia jaya! Indonesia Maju!

Jangan ragu, Ayu bergerak dan maju, demi menuju Indonesia Maju !

Salam kemajuan!

#menujuIndoensiamaju