Lanjut ke konten
Iklan

Pengalaman berbagi Ilmu Keperawatan Jiwa di Kelas Khusus STIKES Suaka Insan Banjarmasin

Maria Frani Ayu Andari Dias, Perawat.  

Satu bulan yang lalu, ketika saya masih berada di Manila-Filipina, Koordinator Mata Kuliah Keperawatan Jiwa untuk Program Pendidikan Khusus milik STIKES Suaka Insan yang disebut sebagai PMC (Program Mobile Class), mengontak saya dan meminta kesediaan saya untuk membagikan ilmu seputar Keperawatan Jiwa. Ada beberapa materi keperawatan jiwa yang secara sengaja dipilihkan kepada saya, untuk tawaran ini saya tidak bisa berkata tidak. Hanya berselang beberapa menit saja, saya katakan balasan saya,  “Ya, saya bersedia untuk membantu dan terlibat dalam proyek ini”. Karena perkataan, ‘ya’ ini, saya membuka lembaran pengalaman baru dalam hidup saya, dan memilih untuk mendokumentasikan kisah ini, disini. Harapan saya sederhana, ketika nanti entah kapan, saya diminta untuk melakukan hal yang sama lagi, saya tinggal membuka catatan ini dan mengingat kembali apa yang sudah pernah saya lakukan, saya ambil hal-hal yang baik dan belajar dari kesalahan yang pernah saya lakukan. Saya berpijak dari pengalaman ini untuk memberikan kesempatan terbaik bagi pengalaman lain didepan.

Saya memutuskan untuk mengemas cerita ini dengan tidak begitu serius. Pengalaman mengajarkan bahwa tulisan saya yang terlalu serius tidak ditanggapi serius oleh pembaca (hayooo… benar, bukan ?). Selain itu, saya memang ingin mengenang pengalaman ini sambil tersenyum bahagia, terlalu kaku hanya membuat otot-otot wajah saya merugi. Padahal, banyak sekali hal-hal baik yang bisa dihasilkan dari pergerakan otot-otot wajah seseorang, salah satunya adalah untuk mengurangi bengkak dan membuat wajah nampak tirus.

 

img-20181110-wa00008455726166651749848.jpg

Suasana Kelas Khusus ketika melaksanakan ujian bersama. Dokumentasi oleh Bapak Warjiman, MSN.

 

Apa yang saya pikirkan?” : Pergulatan batin

Saya pastinya sangat cemas, jelas sangat cemas dengan proyek ini. Saya belum pernah mendapatkan proyek atau tugas seperti ini sebelumnya. Saya memang pernah diminta untuk berbagi ilmu, tapi dengan jumlah audience yang tidak banyak. Untuk tugas ini, saya mendapatkan kabar bahwa ada lebih dari 77 Mahasiswa/peserta didik yang akan menjadi pendengar saya nanti. Setelah menerima projek ini, saya tiba-tiba saja menyesal, saya mulai bertanya “Mengapa ?”, “Mengapa saya menerima proyek ini ?”, “Dimana otak saya ketika saya mengatakan ‘ya’!”.

Memang, materi yang diberikan kepada saya tidaklah rumit bagaimana begitu. Tapi, rasa tanggung jawab saya yang rasanya kelewat besar. Saya mulai bertanya pada diri, “Sanggupkah saya?. apakah saya mampu berdiri dihadapan 77 orang mahasiswa/I yang bahkan usianya kurang lebih sama seperti kedua orang tua saya”. Saya cemas dan juga takut !. saya mulai berpikir, apa yang akan mereka katakan ketika mereka harus diajar oleh orang yang lebih muda seperti saya. Entahlah, saya binggung juga. Pengalaman, jelas mereka lebih banyak memilikinya ketimbang saya. Perang batin berkecamuk didalam kepala saya.

Selama ini saya memang bekerja dengan orang-orang yang kebanyakan lebih tua dari saya, jarang ada diantara mereka yang lebih muda dari saya, kalaupun ada hanya satu atau dua orang saja. Tapi, itupun hanya terjadi pada kelompok kecil, tidak banyak sampai 77 orang seperti yang akan saya hadapi ini. Saya mulai dipengaruhi oleh hal-hal negative didalam diri, saya mulai meragukan kemampuan diri, dan terpengaruh untuk membatalkan kesepakatan yang sudah saya buat sebelumnya.

Lama berpikir, saya hanya bisa berkata, ‘ah sudahlah’, jalani saja. Semuanya perlahan akan berlalu juga, kok. Saya hanya perlu menyediakan waktu untuk menerima semuanya dengan sadar, sabar dan berani. Pada akhirnya, semuanya akan terlewati.

Demikianlah akhir dari pergulatan batin yang saya alami, sampai akhirnya saya sadar bahwa saya tidak memiliki pilihan apapun lagi. Saya lalu hanya bisa pasrah dan bersiap untuk menghadapi dan menuntaskan pekerjaan ini.

Untuk membantu saya menyusun strategi, saya menggunakan panduan dari Ideas for Effective Large-Group Learning and Teaching milik UNSW dan buku teks yang meskipun tahun penerbitannya sudah lama, masih sangat relevan sampai saat ini. Buku ini berjudul Teaching Large Classes (Tools and Strategies), karya Eisa Carbone.

 

Persiapan pertama: Siapa orang-orang yang menjadi target pengajaran ?.

Sebelum memulai dengan mempersiapkan materi ajar, hal penting yang harus saya persiapkan adalah informasi mengenai siapakah yang menjadi target pengajaran ini ?. Siapa saja orang-orangnya ?, ada berapa banyak ?. Meskipun saya memiliki informasi mengenai jumlah mereka yang kurang lebih 77 orang, tapi saya perlu menggali lagi informasi penting lainnya. Tujuan dari pencarian informasi ini adalah untuk merancang metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan dan daya serap peserta didik yang menjadi tujuan dari pemberian materi.

Saya sadar bahwa pengolahan informasi yang tidak sesuai dengan keadaan siswa hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka. Pada akhirnya nanti adalah, ‘kasihan’. Kasihan karena begitu banyak energi yang sudah digunakan dan disediakan, hanya berakhir dengan target pengajaran yang tidak tercapai. Dengan berbekal keyakinan ini, saya sangat antusias untuk mengenal terlebih dahulu ‘medan’, dalam artian mereka yang nantinya akan belajar bersama saya.

Saya mulai mencari informasi dari mereka yang sudah pernah atau mereka yang memiliki pengalaman mengajar kelas yang nantinya akan saya masuki. Hal ini penting, karena saya ingin tahu setidaknya gambaran kelas dari sudut pandang mereka yang menjadi pelaku aktif dari kegiatan/aktivitas ini. Informasi sekecil apapun sangat penting untuk saya terima. Dan jujur, saya juga secara tidak langsung mencari informasi mengenai trik untuk menghadapi kelas khusus ini.

Dari mereka yang baik hatinya, saya memperoleh informasi mengenai keadaan kelas, bagaimana perilaku yang ditunjukkan oleh para siswa di dalam kelas yang juga digambarkan oleh mereka sebagai kelas yang tidak biasa. Tidak biasa kalau dibandingkan dengan kelas mereka yang baru saja lulus SMA. Namanya juga kelas ‘khusus’, artinya memang isinya adalah orang-orang yang di’khusus’kan karena adanya karakteristik tertentu.

Dari mereka yang baik hatinya ini juga, saya menemukan ide untuk men-design kelas dengan lebih kreatif dan menarik. Terima kasih untuk mereka-mereka yang baik hatinya ini. Saya tidak akan bisa melangkah sampai tahap ini tanpa kebaikan hati kalian semua.

Idealnya, saya harusnya membuat sebuah kuesioner online (setidaknya) untuk menilai keadaan dari calon siswa yang akan menjadi peserta ajar nanti. Kuesioner ini berisi pertanyaan seputar keadaan siswa pada saat ini, bahkan sampai pada bagaimana Ia biasanya belajar dan dapat menyerap pelajaran setiap harinya. Pertanyaan seperti ini penting untuk membantu pengajar men-design metode pembelajaran yang sesuai dengan keadaan kelas. Bukan hanya melulu kuliah tanya jawab saja, tapi masih banyak metode pengajaran lainnya yang bisa membantu Siswa menyerap materi ajar hingga diatas 80%.

Saya juga seharusnya menanyakan mengenai pengetahuan mereka sebelumnya mengenai materi yang akan saya jadikan sebagai bahan ajar. Pertanyaan seperti ini juga penting untuk melakukan design mata ajar, saya harus tahu dimana saya harus melakukan penekanan materi dan dimana saya harus bersantai dalam memberikan materi, karena alasan peserta didik sudah setidaknya memiliki gambaran mengenai mata ajar yang mereka hadapi. Pertanyaan ini juga penting untuk menghemat energi saya sebagai pemberi materi, saya tidak ingin nantinya saya harus membuang energi pada pemberian materi yang ternyata hanya ‘pengulangan yang tidak perlu’ pada mata ajar yang saya berikan.

 

photogrid_1541990452194592279388604556460.jpg

Sebagian dari Teman-teman yang membantu saya menyiapkan sesi berbagi ilmu. (Dari Kiri ke Kanan, Ibu Bernadetha Tri Handini, Ibu Theresia Ivana, Saya dan Ibu Fransiska Dwi Hapsari).

 

Persiapan kedua: Persiapan Materi Ajar

Saya mulai mempersiapkan materi ajar dengan terlebih dahulu membuat rencana ajar berdasarkan  topik ajar yang sudah dipilihkan kepada saya oleh Koordinator mata kuliah.

Para Bapak dan Ibu Guru yang membaca tulisan ini, tolong beri saya koreksi dan masukan mengenai Persiapan dan Pelaksanaan Pengajaran. 

Saya menangani setidaknya tiga topik/materi ajar yang harus diberikan kepada siswa. Tujuan dari pembuatan rencana ajar ini sederhana, saya hanya ingin membatasi apa yang harus saya berikan dan apa yang tidak. Perlu diketahui bahwa topik dalam ilmu keperawatan jiwa itu sungguh sangat luas. Tanpa memberi batasan, saya takut akan ngalur ngidul dalam memberikan kuliah dan berakhir dengan kompetensi yang tidak tercapai.

Ini tentu saja bukan merupakan hal yang saya inginkan, yang saya inginkan adalah kompetensi dan target dari mata kuliah ini dapat tersampaikan dengan baik, dapat diterima oleh siswa/peserta didik dengan baik dan tentu saja dapat diamalkan dalam praktik mereka sehari-hari. Cukup itu saja.

Jika mengikuti kebiasaan, saya akan menyusun materi dengan menuliskannya dalam bentuk panjang seperti tulisan yang saya susun ini. Sahabat saya menamainya dengan ‘mirip modul pembelajaran’, karena kalaupun tulisannya sudah jadi, mau dikatakan modul pembelajaran, bukan juga, mau tulisan bebas juga bukan. Untuk menghemat waktu, saya langsung membuat inti-inti pokok dari materi yang ingin saya berikan dalam bentuk Ms. power point, ya…model klasik untuk membagikan informasi. Ms. Power point banyak membantu saya melihat secara keseluruhan materi yang akan saya berikan kepada peserta didik. Saya akan secara otomatis melakukan koreksi diri, jika ternyata saya menemukan ada materi-materi yang tidak sesuai dengan keinginan kurikulum.

Saya membutuhkan waktu yang lumayan untuk mempersiapkan bahan ajar, selain karena saya juga harus banyak membaca bahan sumber, saya juga harus berhadapan dengan banyaknya aktivitas luar yang saya juga sulit untuk menolaknya. Saya ingat bahwa prinsip saya waktu itu adalah, “ Saya ingin memaksimalkan waktu-waktu yang saya miliki”, akibatnya, saya menjadi tidak focus pada pekerjaan yang ada dihadapan saya memang, dan saya menerima keadaan ini pastinya.

Internet yang aktif adalah modal yang sangat penting untuk saya pribadi, karena saya sangat membutuhkan gambar dan ilustrasi dari Dunia maya untuk menguatkan konsep yang ingin saya paparkan. Saya sangat menaruh perhatian pada gambar, selain kata-kata, dan harusnya memang demikian karena alasan karakteristik peserta didik yang akan mendengarkan kuliah ini. Kalau hanya tulisan saja, saya yakin pasti bosan, apalagi kalau tidak dihiasi dengan cara berbicara atau penuturan yang baik mengenai materi ajar.

 

Persiapan ketiga: Peraturan

Sampai pada tulisan ini, saya menilai diri saya sebagai orang yang sangat gila terhadap perencanaan. Ya, saya memang orang yang demikian. Saya tidak ingin menutupi diri terhadap kenyataan seperti ini. Bahkan untuk kegiatan sederhana seperti ini, saya harus menyiapkan semuanya dengan matang. Saya punya obsesi bahwa semua yang bisa saya kontrol dan saya kendalikan harus berada dalam genggaman saya, sisanya baru saya bagi dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Saya juga mempersiapkan peraturan-peraturan kelas yang nantinya pasti akan membantu saya ketika saya melakukan kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas. Latar belakang siswa yang akan menjadi pendengar saya membuat saya menyusun peraturan yang tidak biasa seperti ini,

Pertama, boleh makan dan minum didalam kelas, asalkan tidak mengotori ruang belajar. Kedua, boleh tidur, asalkan tidak mengganggu mereka yang sedang berkonsentrasi belajar. Kedua peraturan ini saya buat atas dasar, “Makan, minum dan tidur adalah kebutuhan dasar manusia”. Ketiga, silahkan menerima telpon, tapi diluar ruangan kelas dan tidak menjawab dengan volume suara yang mengganggu orang lain. Keempat, silahkan ke kamar kecil/Toilet tanpa harus berteriak meminta ijin kepada saya sebagao tutor. Kelima, kalau ada perlu keluar kelas, silahkan keluar kelas tanpa harus memberi tahu saya sebagai tutor, keluarlah dari kelas dengan suara yang minim dan pastinya tidak menimbulkan keributan.

Peraturan-peraturan yang saya buat ini memang sangat banyak dipengaruhi oleh keadaan, situasi dan budaya selama saya berada di Manila-Filipina. Saya banyak belajar dan mencontoh dari pertemuan-pertemuan yang saya ikuti selama di tempat perantauan, dan menurut pengalaman saya, kelas menjadi lebih terorganisir ketika peraturan seperti ini diberlakukan, terutama kepada mereka yang sudah berada pada level ‘memiliki pengetahuan awal/basis yang cukup kokoh’ atau dalam Bahasa lain mereka yang sudah tergolong kedalam kelompok, ‘adult learner’.

 

Hari belajar tiba: Menaruh kesan yang kuat tapi tidak berlebihan

Saya masuk ke dalam kelas beberapa menit sebelum jam masuk tiba, tujuan saya sederhana, saya ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana saya akan mengajar dan memastikan agar faktor x seperti masalah laptop, sambungan dengan LCD dan pengeras suara tidak menjadi faktor penghambat.

Masuk kedalam kelas beberapa menit lebih dahulu memberi saya keuntungan tersendiri, saya benar menjadi lebih santai dan saya dapat mengenal beberapa orang yang akan menjadi pendengar saya nanti. Salah satu dari mereka adalah sahabat satu perjuangan saya dahulu, orang yang ikut serta menjadi bagian dari sejarah perjuangan saya menjadi seorang sarjana keperawatan. Sedikit bernostalgia memberi saya beberapa gambaran perasaan tertentu, sungguh sangat membantu.

Saya lalu memulai kelas saya dengan perkenalan. Perkenalan langsung dari saya secara pribadi. Saya sangat berharap dapat melakukan perkenalan dengan para mahasiswa/I ini satu persatu, tapi karena keterbatasan waktu yang saya miliki, perkenalan saya batasi hanya pada diri saya sendiri. Tujuan saya memperkenalkan diri adalah, ‘agar saya bisa menjual dimata peserta didik yang ada dihadapan saya’, pikir saya, dengan membuat mereka terkesan dengan diri saya, secara otomatis mereka akan mendengarkan saya tanpa harus saya paksa. Saya ingin juga agar alasan mereka mau belajar dari saya adalah karena kompetensi dan juga apa yang saya jual, bukan hanya karena saya ditunjuk atau dipilih oleh coordinator mata kuliah tertentu.

Perkenalan saya, kalau boleh dikatakan, saya cukup ‘malu’ dengan informasi yang saya berikan, karena kalau saya pikirkan kebelakang, saya seperti terlalu sombong menjual barang yang merupakan diri saya sendiri. Malu sekali rasanya saya mengingat kembali perkenalan diri saya sendiri waktu itu, ingin sekali saya memutar ulang waktu dan mengulang semuanya. Saya tidak seharusnya mengatakan hal seperti ini dan seperti ini, sangat tidak pantas menurut saya.

photogrid_15420710363707116816071016624163.jpg

Kegiatan pelaporan hasil diskusi dan upaya untuk mendekatkan diri.

 

Presentasi Materi Ajar: Menguasai materi dan menarik perhatian pendengar atau peserta didik.

Saya memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk belajar bagaimana menarik perhatian pendengar ketika saya melakukan presentasi. Belum lagi (mungkin) pribadi saya ini yang sangat menuntut orang lain memperhatikan saya, apalagi ketika saya membawakan presentasi yang sangat penting. Saya memang sangat membenci mengulang-ulang pekerjaan, sangat tidak efisien bagi saya, dan sangat membuang energi dari pihak saya sendiri. Keegoisan saya ini kadang membuat banyak orang kesal, tapi saya enjoy saja sejauh ini.

Saya mulai presentasi dengan membuat peraturan di dalam kelas, lalu saya masuk ke tahap memperkenalkan mata kuliah apapun yang nantinya akan saya bawa. Ketika saya mempresentasikan peraturan yang sudah saya buat ini, saya merasakan ekspresi kaget dari para pendengar. Sesuatu yang memang sangat saya nantikan. Saya berharap ini juga merupakan alasan bahwa mereka harus mendengarkan saya, mereka harus menaruh perhatian pada saya dan mau belajar pada saya.

Saya bahkan beberapa kali memainkan peran di hadapan mereka, saya memainkan nada-nada berbeda ketika saya berbicara dan melakukan dialog tertentu untuk menggambarkan maksud dari penjelasan yang saya berikan. Saya belajar cukup banyak dari tulisan yang dibuat oleh Luna Cahya dengan judul 4 Hal yang Pelru direfleksi Guru Indonesia. Tulisan ini membuat saya berpikir banyak ketika saya melakukan delivering materi ajar kepada peserta didik.

Penguasan materi ajar adalah hal yang mutlak. Alat presentasi seperti Ms. Power point adalah hanya alat bantu. Alat untuk dapat mencapai tujuan saya pribadi untuk menyampaikan materi ajar. Fokus utama adalah saya, hanya saya. Ya, demikianlah egoisnya saya dalam mengajar atau membagikan ilmu.

Saya pernah diajar dengan sangat keras mengenai menyampaikan presentasi di depan kelas. Itu terjadi ketika saya masih menempuh pendidikan sarjana keperawatan. Saya belajar dengan sangat keras untuk tidak gemetar menghadapi teman-teman saya yang sangat dan sangat kritis ketika harus berhadapan dengan pernyataan apapun di hadapan mereka. Belum lagi, saya yang juga memang suka usil kalau menyaksikan presentasi dari teman-teman. Kadang memang, untuk melawan kantuk, saya akan dengan senang hati memperhatikan presentasi dari teman-teman dan selanjutnya memberikan pertanyaan pada presentasi teman-teman, kadang saya juga sangat bangga ketika pertanyaan dari saya mendapat perhatian dari dosen saya sendiri. saya lakukan itu hanya untuk satu hal, ‘melawan kantuk’, apalagi pada jam-jam tidur dan istirahat.

 

Membentuk aktivitas di dalam kelas: Mendorong Kelas untuk belajar sekaligus mengenal masing-masing pribadi di Kelas

Saya diberi tugas untuk memebri kuliah selama 4 jam full. Bayangkan, 4 jam. Siapa yang akan tahan. Penelitian banyak menunjukkan bahwa konsentrasi masing-masing orang dalam mata kuliah adalah hanya 15 menit diawal dan 15 menit diakhir saja. Jadi, memang banyak orang yang memberikan saran untuk mengajar hanya full 30 menit saja. Lebih dari itu, sudah tidak ada satupun dari perkataan guru/pengajar/dosen akan lengket di kepala Anak didik.

Saya sendiri, berjuang dengan sangat keras menyelesaikan materi saya yang lebih dari 30-an slide dalam waktu satu jam dan sisanya saya gunakan untuk aktivitas kelompok. Saya sengaja men-design kelas seperti ini karena menurut teman-teman baik saya sebelumnya, mereka akan sangat bahagia dan menikmati kelas dengan metode seperti ini. Untuk menambah spicy, saya menambahkan ‘yel-yel’ yang dikreasikan ditempat tepat oleh masing-masing kelompok. Sayang memang saya tidak memiliki rekaman yel-yel yang diciptakan dadakan oleh para mahasiswa/I ini.

Sisa waktu yang kami miliki sudah saya perhitungkan. Saya sudah membagi kasus sesuai dengan topik yang sudah saya bahas. Lalu, saya sudah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang perlu untuk dijawab oleh para siswa. Sejauh ini, saya hanya bisa berkata, “ Benar, menjadi guru itu sungguh tugas yang sangat melelahkan”. Tapi, memang ironisnya, para guru seperti ini dibayar dengan harga yang sangat murah. Kalau seperti ini yang terjadi, bagaimana mungkin pendidikan itu bisa ‘ bermutu’ dan mampu mengejar mutu ?. belum lagi ditambah dengan complaint sana dan sini, “Ah…Bapak dan Ibu Guru, Terima kasih karena telah mengajarkan saya begitu banyak ilmu, pengalaman dan gagasan untuk masa depan, masa sekarang”. Saya tentulah banyak belajar.

Saya tidak mengenal dengan baik siswa yang saya ajar, karena alasan besarnya kelas yang saya asuh. Hal ini menjadi faktor yang memberatkan saya tentunya. Saya bisa saja memikirkan strategi kreatif untuk mengelompokkan peserta didik, tapi itu tidak saya lakukan. Saya memilih jujur untuk mengatakan bahwa “Saya tidak bisa membentuk kelompok atau membagi kelompok”. Pernyataan ini membuat peserta didik dengan ‘seenaknya’ membentuk kelompok dan tentu saja tidak akan berimbang.

Hasil dari perkataan saya tadi adalah para peserta didik memilih untuk berkelompok hanya sesuai dengan orang-orang yang memang ingin mereka ajak berkelompok; hanya pada mereka yang ‘dikenal’ dan keberadaannya menguntungkan kelompok. Hasil seperti ini bisa saya prediksi berkat artikel dari Bapak Subadi dengan Judul Mengajar Kelas Besar. Tapi, saya berusaha untuk mengambil hal positif dari apa yang sudah saya lakukan. Saya focus pada ‘daya anggota kelompok untuk menyelesaikan masalah’, kasus yang sudah saya berikan. Dan berdoa Semoga, apa yang kami pelajari bersama bisa diserap dengan baik dan Semoga bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga.

Saya sempat memikirkan untuk memiliki pendamping atau teman dalam mengasuh kelas besar ini, terutama dalam mengasuh kelompok pada saat dilangsungkan kerja kelompok. Tapi, niatan ini saya urungkan dengan alasan ‘ya sudahlah…’, saya tidak ingin merincinya (lagi) disini. Kejadian ini saya jadikan pelajaran untuk pembelajaran yang akan datang.

 

photogrid_154207107865070239589980774122.jpg

Aktivitas diskusi di Kelas

 

Pertemuan selanjutnya: Sudah mulai santai

Ya, seperti judul tulisan ini. Pertemuan saya dengan para siswa untuk yang selanjutnya, tidak seheboh pada saat pertama. Saya sudah bisa memperhitungkan segala yang saya perlukan, belajar dari pengalaman mengajar pertama kali yang sangat dan sangat luar biasa.

Saya mulai mengendorkan sedikit tuntutan saya pada diri saya sendiri. Saya menjadi lebih santai dan menikmati proses perkuliahan yang saya berikan seorang diri. Kadang, dalam istirahat saya dari berbicara, saya merasakan tatapan para siswa dan bersyukur dalam hati, terutama karena saya kembali dan bertemu mereka. Bagi saya, ini adalah pengalaman yang sungguh luar biasa. Tidak banyak orang yang mengalami hal ini, dan saya ada disini untuk merasakan pengalaman ini dari awal hingga akhir. Saya bersyukur.

 

Persiapan ujian: Mempersiapkan soal dan memikirkan mengenai aplikasi teori

Saya belajar mempersiapkan soal latihan atau ujian sejak saya masih duduk di bangku perguruan tinggi; ketika saya menempuh pendidikan sarjana. Guru-guru saya waktu itu memberikan kesempatan kepada saya dan teman-teman satu kelas untuk belajar dan melatih diri untuk membuat soal keperawatan, soal ini nanti akan kami gunakan sebagai bahan latihan bagi kami Mahasiswa/I juga. Ini menjadi hal yang sangat penting bagi kami perawat, karena sebagai Perawat, kami memiliki apa yang disebut sebagai uji kompetensi perawat.

Uji kompetensi perawat yang saya maksudkan ini, untuk saat ini dinilai hanya dengan menggunakan daya kognitif atau dalam bentuk ujian. Ujian yang dilakukan hampir sama seperti ujian Nasional yang dipraktikkan oleh teman-teman anak SMP dan SMA, karena memang bersifat nasional dan memiliki batas atau standar lulus. Berdasarkan keadaan dan kenyataan ini, kami belajar untuk bersahabat dengan membuat soal latihan atau soal ujian dan juga tidak lupa latihan untuk menjawab soal-soal ini setiap hari.

Kendala yang saya temui dalam menyiapkan soal hanyalah waktu. Satu soal yang saya kategorikan ‘bagus’, bisa saya ciptakan dalam waktu yang relatif lama. Mungkin bisa lebih dari 30 menit. Saya juga harus melakukan uji coba untuk menjawab soal yang saya olah sambil mempertimbangkan, apakah ini bisa dijawab atau dikerjakan oleh mereka siswa ?. Apakah soal ini sudah sesuai dengan kompetensi yang diberikan ?. Apakah soal ini sudah lepas dari ambiguitas ?, dan apakah soal ini sudah memiliki petunjuk untuk menjawab soal yang diharapkan ?.

Saya menyiapkan setidaknya 50 soal untuk ujian akhir dan saya bisa katakan bahwa, itu tidak mudah. Sangat tidak mudah !.

Kembali, saya menyadari lagi betapa luar biasanya pada Bapak dan Ibu Guru yang menjadikan profesi mengajar sebagai bagian dari hidup mereka. Mengajar saja bukanlah perkara yang mudah, apalagi sampai harus menyiapkan soal test dan lagi memeriksannya. Berbicara seperti ini memang mudah saja, tapi ketika melakukannya,…Saya pastikan, tidak seperti yang kita bayangkan.

Salut memang untuk semua Bapak dan Ibu Guru yang ada di luar sana. Kalian luar biasa!.

photogrid_15420709647361685994750179145111.jpg

Melakukan Koreksi Soal Ujian

 

Mengakhir perkuliahan dengan harapan dan doa

Setiap selesai perkuliahan, saya mendorong siswa bersama-sama bersyukur atas apa yang sudah kami lakukan dan kerjakan bersama-sama. Saya juga mendorong kami semua menyadari bahwa mungkin apa yang sudah kami pelajari pada beberapa saat yang sudah lewat, tidak bisa banyak membantu. Usaha dan kerja keras kami selepas dari ruangan tempat kami belajar inilah tempat pembuktian diri sesungguhnya. Dan semuanya hanya bisa terjadi dengan baik dan berhasil guna bila mendapatkan restu dari Yang Maha Kuasa.

Saya belajar mengenai hal ini dari guru saya, mereka yang mengajarkan saya selama ini mengenai pentinya bersyukur dan berterima kasih pada pernyertaan Yang Maha Kuasa, dan tidak lupa memohon berkatNya untuk usaha dan kerja yang akan kami lakukan setelah kami keluar dari ruang belajar. Saya sangat berhutang banyak dengan guru-guru yang sudah mengajarkan saya mengenai hal baik ini, saya pun pada saat ini mempraktikkan apa yang sudah mereka ajarkan pada saya.

Ketika saya keluar dari ruang pengajaran dan menyendiri, ada sekelumit perasaan menyerang saya. Perasaan seperti, “Apakah yang sudah saya ajarkan tadi akan berguna bagi pada peserta didik?”, “Apakah saya tidak salah?, bagaimana kalau saya salah dalam memberikan pembelajaran dan pengajaran ?” “Apa yang akan terjadi nanti ketika ternyata mereka mempraktikkan apa yang saya ajarkan dan hasilnya malah berkebalikan dari apa yang sudah kami harapkan bersama ?”. Pertanyaan-pertanyaan ini menyelimuti hati saya beberapa saat. Keragu-raguan juga timbul dari dalam hati saya, saya tidak tahu bagaimana harus menjawab setiap pertanyaan ini. Saya biarkan perasaan seperti ini berlalu dan berlalu, saya tidak ingin menjawab apapun, saya hanya ingin merasakan setiap perasaan yang muncul dan bahkan saya hindari kejadian untuk memberi nama. Saya biarkan saja demikian.

Lalu, perlahan perasaan seperti ini benar berlalu dan berganti dengan perasaan yang lainnya, perasaan bersyukur. Syukur atas nikmat yang sudah bisa saya rasakan, syukur atas kesempatan untuk berbagi dan juga belajar. Syukur atas keragu-raguan dan keinginan untuk memberikan yang terbaik. Syukur yang selanjutnya berubah menjadi doa, doa pada Yang Maha Kuasa. Doa untuk segala sesuatu yang tidak bisa saya lakukan, doa untuk hal-hal yang tidak sampai oleh tangan yang saya miliki. Hanya doa dan harapan, untuk bisa menjangkau apa yang tidak bisa saya jangkau, untuk mencapai apa yang tidak bisa saya capai. Semoga dalam berkatNya, semua makhluk dapat menemukan kebahagiaan dan kedamaiannya.

Salam.

 

Upss..Saya masih menunggu hasil evaluasi pekerjaan saya setelah semester ini berakhir. Saya ingin melihat respon dari para peserta didik, teman-teman yang saya ajar. Awalnya, saya sangat berharap mendapatkan hasil evaluasi yang baik, tapi selanjutnya, ‘tidak’. Untuk pengalaman mengajar pertama kelas besar ini, saya ingin BELAJAR lebih banyak. Saya penasaran, seharusnya seperti apa sih mengajar ideal untuk sebuah kelas besar ?. Penasaran, itu saja.

Iklan