Kesehatan Jiwa: Sebuah Refleksi


Peningkatan masalah kesehatan jiwa akan terus terjadi etiap tahunnya, apa yang harus kita lakukan?

Sudah lama ketika saya menyadari bahwa “Ada yang tidak beres” dengan diri saya sendiri. Pandemi, dan tekanan-tekanan hidup menjatuhkan saya sampai pada titik “tidak berdaya.” Saya lelah, dan meskipun sudah beristirahat dengan cukup, lelah ini tidak pernah benar-benar meninggalkan saya. Parahnya lagi, saya merasa bahwa tidak ada orang yang dapat membantu saya pada titik ini.

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk mendaftarkan diri dan melakukan kunjungan kepada seorang psikiater yang berpraktik tidak jauh dari tempat saya tinggal. BPJS sungguh sangat membantu proses untuk mencari pertolongan ini.

Pada hari kesehatan jiwa tahun ini, saya memutuskan untuk mengambil waktu sejenak untuk merefleksikan banyak hal, terutama hal-hal yang ada hubungannya dengan kesehatan jiwa. Mengapa kesehatan jiwa begitu sangat penting, dan apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi masalah-masalah kesehatan jiwa pada diri sendiri, dan orang-orang yang disekitar kita. Mulai dari satu langkah terlebih dahulu, yaitu diri sendiri.

Photo by Tara Winstead on Pexels.com

Berperang melawan “Stigma”

WHO mencatat bahwa sejak pandemi, masalah kesehatan jiwa semakin menjadi topik yang banyak diperbincangkan banyak orang. Pada tahun pertama pandemi, diperkirakan lebih dari 25% masyarakat dunia mengalami masalah kecemasan dan depresi. Pada saat itu, saya pun mungkin termasuk orang-orang ini.

Tidak akan mudah terlupakan masa-masa empat bulan yang penuh ketidakpastian dan juga kesendirian. Saya mengisolasikan diri bersama para penghuni asrama selama 4 bulan lebih, dan selama masa-masa ini saya bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di tanah. Saya diam di rumah sesuai dengan anjuran pemerintah, sambil mempertimbangkan kesehatan dan keselamatan saya. Sebuah perjudian yang tidak adil, karena pada saat yang bersamaan, jiwa saya perlahan hancur. Social support tidak banyak membantu, dan saya dilanda kecemasan yang terus menerus menggoda batas “abnormal” diri ini. Saya bertahan. Ya, tidak ada pilihan lain selain bertahan dan terus berjuang.

Saya bertahan sambil terus membagikan kisah saya pada orang lain dan dunia. Mengalir pada saya begitu banyak pertolongan, dan juga respon dengan membagikan kisah yang “sama.” Saling menguatkanlah kami, dan terjalinlah hubungan sosial yang luar biasa. Saya bersyukur dan juga merasa beruntung.

Kisah-kisah yang dibagikan kepada saya, bervariasi. Namun, hampir semua berkisar pada “peperangan melawan stigma kesehatan mental.”

Sama seperti stigma negatif yang datang bersamaan dengan penyebaran virus covid-19 yang lalu, stigma yang sama lahir dan terus saja melekat dengan masalah kesehatan jiwa. Ketika seseorang mengeluhkan bahwa Ia merasakan hal yang berbeda dari biasanya, merasakan kecemasan yang tidak seperi biasanya, atau mengeluhkan perasaan yang tidak menentu sepanjang hari, jawaban yang diperoleh adalah “biasa saja.”

Komentar-komentar seperti ini banyak mengalir dari orang-orang yang terkesan peduli.

Ah, kamu kurang istirahat saja.”

Biasa saja itu.”

Manja banget sih dirimu, begitu saja kok tidak bisa!”

Cemen banget sih!”

Respon-respon ini memberikan sinyal “penolakan” dan sungguh, tiada yang lebih menyedihkan dibandingkan penolakan.

Seseorang yang rapuh, tidak cukup kuat untuk dapat menerima “penolakan, “ terutama jika penolakan itu datang dari orang yang mereka percayai, dan yang mereka kasihi. Justru, penolakan itu akan sangat dan semakin menyakitkan jika datang dari orang yang dianggap “baik” dan merupakan bagian dari sosial supportnya.

Stigma adalah bentuk dari penolakan, dan penolakan seperti ini sungguh “sesuatu.”

Photo by SHVETS production on Pexels.com

Kesehatan jiwa sebagai sebuah alasan

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menemukan sebuah terbitan di Twitter yang berasal dari sahabat saya sendiri. Ia berkata bahwa, masalah kesehatan jiwa itu adalah sebuah alasan. Yeap, dia mengatakannya demikian.

Tidak mengerjakan atau menyelesaikan pekerjaan karena masalah “kesehatan jiwa.”

Kesehatan jiwa menjadi alasan untuk tidak menyelesaikan pekerjaan, menolak undangan dari rekan sekerja, dan masih banyak lagi.

Saya tidak dapat menyalahkannya karena persepsi dan kepercayaan seperti ini. Tapi, pada saat seperti ini, batasan “pengertian” penting untuk dilakukan. Tidak semua hal dapat dijadikan atau dikelompokkan sebagai masalah kesehatan jiwa, dan mengambinghitamkan masalah kesehatan jiwa adalah hal yang sungguh tidak bijaksana.

Untuk mengatasi atau berhadapan dengan masalah seperti yang dikeluhkan oleh sahabat saya ini, penting untuk memahami apa itu masalah kesehatan jiwa dan apa saja tanda dan gejala ketika seseorang dapat digolongkan ke dalam “mengalami masalah kesehatan jiwa.”

Pengertian dan definisi dari mengalami masalah kesehatan jiwa dapat dilihat di sini.

Harapan dari upaya untuk memahami ini adalah, agar kita dapat benar-benar membedakan dan mengambil keputusan yang jelas tentang definisi “malas” atau “masalah kesehatan jiwa.”

Photo by Trev Adams on Pexels.com

Konsep kesehatan jiwa dalam dunia yang abnormal

Dalam sebuah percakapan dengan seorang sahabat, terlontar dari mulut ini perkataan seperti ini,

“Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa kita adalah orang yang normal, pada dunia yang abnormal ini?. Tidak ada yang normal dalam dunia yang abnormal. ”

Yeap, kata-kata seperti ini keluar saja dengan ringannya ketika saya dan sahabat berbicara dan bercerita tentang kunjungan saya ke psikiatri.

Ketika dokter menulis diagnosis Obsessive compulsive disorder (OCD) pada lembar catatan pasien, saya kaget ! Saya lebih kaget dibandingkan ketika mendengar pernyataan bahwa saya tidak memiliki tujuan hidup.

Tidak ingin membuang banyak energi untuk menyangkal, saya kemudian mencari jawaban mengapa Dokter sampai menulis diagnosis demikian. Jujur, saya tidak merasa mengalami OCD. Kecemasan mungkin benar, tapi tidak dengan OCD.

Saya kemudian menyadari bahwa sifat teliti yang saya miliki ketika memeriksa sebuah tulisan, mungkin ini yang menyebabkan terjadinya tanda dan gejala yang diartikan sebagai OCD. Menyadari hal ini membuat saya berpikir bahwa, saya sudah selesai dengan masalah-masalah kesehatan jiwa. Dalam sebuah catatan saya menulis,

Saya mulai melihat bahwa gangguan mental-emosional dan gangguan jiwa bukan sebagai sebuah “gangguan”, tapi adalah sebuah reaksi atau respon alami terhadap masalah yang terjadi dalam diri seorang individu. 

Tubuh kita ini, termasuk bagian dari alam semesta, yang sama-sama menerapkan dan menjalankan hukum keseimbangan. Tubuh pun adalah bagian dari alam semesta ini, yang akan bekerja dan berupaya untuk menjaga keseimbangan titik equilibrium dalam tubuh. 

Dalam prosesnya, seseorang dalam membentuk perilaku yang mengarah pada keadaan gangguan jiwa adalah karena individu ini menggunakan respon menjawab tantangan/masalah untuk menyelesaikan masalah yang sedang Ia alami. Bentuk dari respon ini berupa perilaku-perilaku yang ditunjukkan oleh si individu ini. Halusinasi dan waham sendiri adalah dua tanda dan gejala, respon dari masalah yang hadir dalam diri seseorang. 

Oleh para ahli, respon-respon ini kemudian dikelompokkan dan diklasifikasikan dalam label-label, yang kemudian dikenal sebagai klasifikasi gangguan jiwa.

Dalam dunia yang abnormal, jadilah dirimu sendiri. I mean, come one. Bisa jadi apa kita?

Photo by CDC on Pexels.com

Intervensi keperawatan yang masih banyak menimbulkan tanda tanya dan keraguan

Sebagai seorang perawat, panduan pemberian intervensi keperawatan kepada kasus-kasus pasien lahir dari set intervensi yang sudah ditentukan sebelumnya. Menariknya, set intervensi ini cukup banyak perbedaan antara Indonesia dan dunia barat pada umumnya (saya merasa demikian). Mungkin karena unsur “kebudayaan” yang mempengaruhinya, makanya intervensi keperawatan begitu berbeda. Entahlah!

Dalam beberapa kasus, saya dipertemukan dengan kesadaran bahwa asuhan keperawatan menjadi tidak terlalu efektif ketika berhadapan dengan kasus-kasus pasien. Saya memang harus berpikir se-kreatif mungkin untuk mengolah asuhan keperawatan yang saya berikan, tapi saya merasakan banyak sekali kurangnya di sana dan di sini.

Keadaan ini mendatangkan masalah baru, tapi juga adalah kesempatan. Sebuah kesempatan untuk mengembangkan asuhan keperawatan yang ada, dan dengan giat mencari mana yang sesuai dan pas dengan kasus-kasus yang ada. Sungguh, studi kasus atau case study harusnya menjadi sebuah kewajiban nutrisi bagi perawat-perawat.

Photo by PNW Production on Pexels.com

Kesehatan di Tempat Kerja

Pada tahun ini, WHO menyerukan kesehatan jiwa di tempat kerja sebagai sebuah prioritas. Program-program diluncurkan agar kesehatan jiwa para pekerja menjadi sebuah prioritas, dan produktivitas terus meningkat setiap waktu.

Kesehatan jiwa sebagai sebuah hak, dan juga sebagai sebuah kewajiban. Hak para pekerja dan sebuah kewajiban bagi perusahaan pemberi kerja. Sebuah konsep yang sangat menarik, tapi akan cukup menantang untuk diterapkan atau dilaksanakan. Well, let’s see.

Selamat memperingari hari kesehatan jiwa sedunia tahun 2022. Semoga kesehatan jiwa semakin hari semakin menjadi bagian dari prioritas hidup sehari-hari. Salam hangat untuk semua pembaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s