Pedagogik Kemasyarakatan.


Pedagogik kemasyarakatan, ketika pertama kali mendengar kalimat ini, saya langsung sangat penasaran dengan apapun ini. Saya sudah sering mendengar kata “Pedagogik”, tapi kalau kata ini dikombinasikan dengan kata “masyarakat”, saya merasa yakin bahwa kombinasi itu akan sangat spektakular dan menarik!

Dugaan saya benar. Pedagogik kemasyarakatan mengandung arti dan nilai yang sangat mendalam. Pedagogik, secara sederhana diartikan sebagai “pembelajaran” atau kegiatan belajar-mengajar. kalau kata ini dikombinasikan dengan kata “kemasyarakatan”, maka akan menjadi kegiatan dan proses pembelajaran yang berasal dari, oleh dan untuk masyarakat. Pedogogik kemasyarakatan sangat erat kaitannya dengan unsur sosial budaya dari tempat belajar para siswanya.

Pendidikan yang ditanamkan dalam pedagogik kemasyarakatan adalah pendidikan yang menekankan dan mengikutsertakan nilai-nilai kebijakan yang lahir, bertumbuh dan menjadi pegangan masyarakat tempat siswa tumbuh dan belajar. Pendidikan itu, harusnya demikian, Ia bukan?

Buku “Pedagogi Kemasyarakatan”

Tulisan ini lahir dari pengalaman saya pribadi, yang juga berarti lahir dari pemikiran dan cerita saya. Beberapa orang mungkin tidak merasa “relate” dengan masalah dan juga pemikiran yang saya bagikan. Tulisan-tulisan ini lahir saat, dan setelah saya membaca buku “Pedagogik Kemasyarakatan”, yang ditulis oleh banyak praktisi pendidikan, dan diedit oleh Kasmir Nema, Benny Denar dan Frumensius Gions. Topik yang ada dalam tulisan ini acak, tapi masih meninggalkan benang merah yang menghubungkan satu topik ke topik yang lainnya.

Belajar keras vs Belajar cerdas

Saya tidak pernah benar-benar bertanya, “Mengapa saya belajar seperti ini?, ” “Mengapa saya harus mempelajari hal ini, dengan cara ini?.” Tentu saja, ketika saya diberi kebebasan untuk belajar dan berpikir sendiri, yaitu ketika saya memegang status sebagai Mahasiswi, barulah pikiran saya sedikit terbuka untuk melihat setiap alasan di balik setiap aksi.

Saya tidak ingin meninggalkan yang misterius menjadi hanya misteri saja, tapi bergerak untuk menyingkap tabir misteri dan serta merta mencari jawaban dibalik setiap pertanyaan. Saya menolak mengikuti saran dari Ibu Theresa untuk menahan sikap ingin tahu yang saya miliki.

Terlambat. Ya, terlambat. Tapi, lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Pada satu titik, saya memahami bahwa pelajaran dan bahkan gaya belajar yang diterapkan di sekolah “dipengaruhi” oleh budaya orang lain. Bukan budaya asli saya.

Saya ingat sekali ketika ada yang pernah mengatakan bahwa penambahan jam belajar di sekolah dasar adalah karena mengikuti gaya belajar orang “Jepang.” Bahwa orang Jepang, yang belajar dengan waktu yang lebih banyak di sekolah, dapat menjadi orang yang pintar dan mampu membanggakan negara. Entah siapakah yang mengatakan hal ini, tapi waktu itu saya termasuk orang yang percaya dan mempraktikkan kepercayaan ini.

Lalu, saya menyesal. Ya, saya menyesal karena pada saat yang bersamaan, saya menemukan istilah “Belajar dengan Cerdas, ” yang juga berarti belajar dengan cara yang efektif, menyenangkan dan dapat menghasilkan! (Being productive).

Setelah menemukan mengenai “belajar dengan (cara yang lebih) cerdas”, saya sibuk untuk mencari cara belajar yang nyaman dan tepat untuk saya. Belajar bahkan menjadi aktivitas menyenangkan yang membuat saya lupa waktu. Saya sedang tidak belajar, saya sedang menikmati hidup!

Jika dulu belajar adalah kegiatan yang menjadi beban, sekarang kegiatan belajar adalah aktivitas mandiri menyenangkan yang secara rutin saya lakukan. Saya merasa menjadi manusia yang lebih baik (level up) dengan belajar. Saya rasa, mungkin pada saat inilah orang-orang berkata, “Belajar sampai akhir hayat.”

Saya tidak membatasi diri ketika saya belajar. Saya belajar karena saya menginginkannya, dan karena saya ingin “mengubah” sesuatu. Lebih penting adalah untuk membuat diri saya lebih baik dari hari kemarin. Motivasi belajar saya, sudah bukan diwarnai dengan keterpaksaan, tapi adalah kebutuhan. Saya butuh belajar, dan mengisi otak saya dengan sesuatu yang menyenangkan.

Belajar itu pun adalah hidup. Adalah bagian dair hidup, dan adalah hidup itu sendiri.

Buah Pengetahuan.

Buah Pengetahuan

Saya mengambil dan memakan buah “terlarang” dari taman Eden itu, dan membayar pengetahuan dengan rasa sakit dan penderitaan. Nampaknya, penulis kitab Kejadian memahami bahwa pengetahuan adalah sumber penderitaan dan bencana. Ketidaktahuan, atau mungkin kepura-puraan untuk tidak mengetahui akan membebaskan pikiran dari beban dan rasa sakit. Pengetahuan, dan rasa keingintahuan kemudian diperangi. Kebodohan dan ketidaktahuan kemudian diagung-agungkan.

Saya memilih untuk menjadi seperti Hawa. Mengambil buah terlarang, dan menikmati kutuknya. Pengetahuan, nampaknya adalah kutukan yang membebaskan. Jika saya bisa mengartikannya demikian.

Menggali ilmu pengetahuan, dan memuaskan diri dengan pengalaman untuk menemukan pengetahuan adalah jalan penderitaan tersendiri. Tidak ada yang benar-benar “Cuma-Cuma” atau gratis. Semuanya dibayar atau ditukarkan dengan sesuatu. Minimal adalah waktu.

Pendidikan yang mengawinkan nilai kemasyarakatan dan nilai keagamaan

Salah satu hal yang dapat saya pelajari dari buku yang berjudul “Pedagogi Kemasyarakatan” adalah mengenai perkawinan antara nilai kemasyarakatan dengan nilai keagamaan, dalam loyang “pendidikan” (Kegiatan belajar-mengajar).

Sebelumnya, saya sungguh menilai bahwa pendidikan atau kegiatan belajar mengajar yang ada di kelas, adalah sesuatu yang sangat asing. Saya tidak tahu apa tujuannya belajar, dan mengapa saya harus datang hampir setiap hari ke sekolah. Pengalaman saya tentang pendidikan itu, tidak mulus. Saya menyimpan pengalaman yang tidak menyenangkan dengan guru-guru yang mengajar saya dulu. Saya pun merasa “sedang tidak belajar” ketika berada di dalam kelas.

Belum lagi, apa yang saya pelajari adalah hal-hal yang asing, dan sangat sulit untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa semua konsep yang diajarkan kepada saya sifatnya abstrak semua? Saya mengalami tekanan hanya dengan memikirkan hal seperti ini.

Pendidikan itu, seharusnya tidak demikian. Tujuan dari pendidikan adalah untuk memampukan individu untuk beradaptasi dengan kehidupannya di dunia ini. Tujuan pendidikan adalah untuk dapat hidup dan menikmati hidup dengan cara-cara yang baik dan pantas. Untuk alasan inilah mengapa pendidikan dikemas harus “dekat “ dengan kehidupan, dan dapat segera diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau pembelajaran itu sifatnya “abstrak”, entahlah bagaimana saya dapat mempraktikkannya.

Belajar pun tidak 100% berasal dari buku teks. Sungguh! Ini adalah pandangan yang sangat keliru dari saya sendiri. Saya berpikir sebelumnya bahwa belajar itu, adalah kegiatan untuk memindahkan isi buku ke dalam otak. But, in fact, no!

Belajar itu bisa di mana saja, dan dari apa saja. Bahkan, akan lebih baik kalau belajar bisa dilakukan secara langsung dari kehidupan. Akan lebih cepat ingat, dan akan dapat digunakan untuk membantu hidup manusia.

Pendidikan yang dibangun dengan mempertimbangkan nilai kemasyarakatan, yang juga didalamnya mengandung unsur kepercayaan akan membuat sang pelajar dapat belajar dengan lebih cepat, tepat dan bermanfaat. Pelajaran tidak akan menjadi kesia-siaan, karena sumber belajar adalah kehidupan individu dalam masyarakat itu sendiri, dan nanti akan digunakan untuk dapat hidup di lingkungan masyarakat itu juga. Dari, oleh dan untuk masyarakat, seperti itu kira-kira maknanya.

Proses belajar itu pun, tidak seharusnya kaku! Belajar itu, baiknya adalah senyaman bernafas, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bukan berarti bahwa institusi seperti sekolah tidak boleh ada, tapi bahwa belajar itu tidak perlu dilakukan pada hanya satu tempat saja, yaitu sekolah. Belajar haruslah dilakukan di banyak tempat, dan dimulai dari rumah tempat tinggal.

Belajar bertujuan untuk “mengubah” atau berubah. Ada perubahan yang dihasilkan dari kegiatan belajar, dan jika tidak ada perubahan maka kegiatan belajar itu menjadi sia-sia belaka.

Baca juga: Redefine Education: Belajar dari Bajak Laut

Sampai saya selesai menulis mengenai buku ini, saya masih belum selesai membaca keseluruhan isi buku. Buku ini ditulis oleh banyak orang, dengan latar belakang yang berbeda-beda dan dengan kemampuan menjabarkan masalah yang berbeda-beda pula.

Saya sangat dan sungguh menikmati melahap sampai habis isi buku ini!

Tidak seperti biasanya, saya menyantap buku ini dengan perlahan disela-sela waktu sibuk. Memang, akhir-akhir ini kebiasaan saya membaca buku sedikit berbeda. Jika sebelumnya saya menggunakan target untuk menyelesaikan satu buku, saat ini tidak. Saya tidak sedang berlomba dengan waktu ketika menyelesaikan sebuah buku. Bagi saya saat ini adalah, “pelajaran apa yang bisa saya petik dan saya gunakan dari buku yang saya santap.” Itu saja.

Buku ini, memang tidak bisa dilahap hanya dalam satu kali duduk atau dalam satu satuan waktu (misalkan satu minggu). Isinya padat dan sangat bergizi. Pengetahuan yang dipaparkan didalamnya, dan bahkan opini yang diciptakan penulis adalah sesuatu yang sangat-sangat cerdas dan menarik.

Saya harap, teman-teman juga dapat menikmati buku ini, sama seperti saya yang juga menikmatinya (dengan sangat).

Jika kamu memiliki pendapat mengenai isi buku ini, dan berniat untuk membagikannya, silakan menuliskan komentarmu di bawah ini.

As always, salam hangat dari saya.

Sincerely, Ayu.

PS.

Buku ini bisa kamu peroleh langsung, dengan memesan pada narahubung atas nama Kasmir Nema, WA +63 967 405 8844.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s